Kerusuhan Tak Digubris, Bursa AS Lanjutkan Penguatan

Kerusuhan Tak Digubris, Bursa AS Lanjutkan Penguatan
Ilustrasi bursa saham AS Wall Street. (Foto: AFP / Timothy A. Clary)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Rabu, 3 Juni 2020 | 05:25 WIB

New York, Beitasatu.com - Bursa AS Wall Street naik pada Selasa atau Rabu pagi WIB (3/6/2020) karena para investor fokus pada pembukaan kembali ekonomi dari pandemi virus corona, bahkan di tengah kerusuhan Amerika Serikat (AS).

S&P 500 naik 0,8 persen menjadi 3.080,82, mencapai level tertinggi. Catatan ini membuat S&P 500 naik lebih 40 persen dari level terendah harian di akhir Maret. Dow Jones Industrial Average naik 267,63 poin, atau 1,1 persen menjadi 25.742 dan Nasdaq Composite naik 0,6 persen menjadi 9.608.

Saham terkait dengan pembukaan kembali ekonomi menguat seperti Citigroup, Wells Fargo dan Bank of America naik sekitar 0,9 persen. Sementara Gap naik 7,7 persen, dan Southwest menguat 2,6 persen.

Saham teknologi berkapitalisasi besar seperti Facebook, Netflix dan Apple ditutup naik 0,3 persen, sementara Alphabet menguat 0,5 persen, dan Amazon naik 0,1 persen.

Baca juga: Tidak Punya "Nurani", Wall Street Menguat di Tengah-tengah Gelombang Protes

Pasar menunjuk optimisme menyusul perekenomian dibuka kembali dari lockdown karena Covid-19. Reuters melaporkan, perusahaan negara milik Tiongkok membeli setidaknya tiga kargo kedelai AS. Berita itu membantu mengangkat sentimen pasar.

Penguatan bursa saham juga datang setelah Presiden AS Donald Trump pada Senin malam mengatakan akan mengerahkan militer jika negara bagian dan kota gagal mengendalikan demonstrasi. "Saya memobilisasi semua sumber daya federal dan lokal, sipil dan militer, untuk melindungi hak-hak orang Amerika yang taat hukum," kata Trump.

Menurut dia, jika ada kota atau negara bagian menolak mengambil tindakan yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan dan properti warga, pihaknya akan mengerahkan kekuatan militer untuk menyelesaikan masalah dengan cepat.

Kinerja pasar saham mengabaikan kerusuhan. Namun hal itu bisa berubah jika protes terus berlanjut selama musim panas, sehingga merusak kepercayaan konsumen.

"Kabar baik tentang vaksin membantu bursa saham pada bulan Mei, tetapi hubungan AS-Tiongkok dan kerusuhan dapat mencuri perhatian pada bulan Juni," kata Kepala Strategi Ekuitas AS RBC Lori Calvasina mengatakan dalam sebuah catatan.

Kota New York telah memberlakukan jam malam hingga 7 Juni untuk menekan aksi protes. Jam malam yang serupa dilembagakan di kota-kota di seluruh negeri dalam upaya membubarkan pertemuan massa.

 



Sumber: CNBC