OJK Harap Sentimen Positif Saat Ini Tetap Terjaga

OJK Harap Sentimen Positif Saat Ini Tetap Terjaga
Wimboh Santoso. (Foto: ID/David Gita Roza)
Lona Olavia / MPA Kamis, 4 Juni 2020 | 16:01 WIB


Jakarta, Beritasatu.com- Terus membaiknya kinerja sektor keuangan salah satunya melalui indikator indeks harga saham gabungan (IHSG) yang dalam sebulan ini terus menguat hingga kembali sentuh level psikologis 5.000 diharapkan bisa terus berlanjut sejalan dengan kebijakan forward looking yang telah diambil Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Di sisi lain, kenaikan sektor keuangan bisa terjadi karena sentimen positif yang ada di pasar.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengungkapkan, kebijakan tersebut kini telah mulai membuahkan hasil terlihat dari volatilitas yang mulai reda dan kembalinya IHSG menyentuh level 5.000. Selain itu, investor asing juga terpantau mulai kembali melirik pasar modal Indonesia, baik pasar saham maupun obligasi. Berdasarkan catatan OJK, pada Mei lalu inflow investor asing di pasar saham tercatat net buy Rp 8,00 triliun dan di pasar SBN net buy Rp 7,07 triliun.

“Ini karena kita sudah menelurkan berbagai kebijakan sehingga ini direspons positif. Pelaku pasar yakin, oh ini ada skenarionya. Kami menjaga bagaimana agar sektor riil itu betul-betul minimal dampaknya,” katanya dalam silaturahmi Anggota Dewan Komisioner (ADK) OJK dengan redaktur dan wartawan media massa melalui virtual, Kamis (4/6/2020).

Yang tak kalah penting, kepercayaan dari masyarakat juga harus dijaga dan bisa terhindar dari sentimen negatif atau rumor yang belum pasti kebenarannya. Dalam hal ini, OJK akan memperketat pengawasan terhadap lembaga jasa keuangan dan juga ambil tindakan cepat atas masalah yang ada.

Misalnya, dalam menghadapi bank dan lembaga keuangan nonbank lainnya yang bermasalah, OJK bisa lakukan merger tanpa menunggu pengawasan intensif 12 bulan dan pengawasan khusus 36 bulan. Hal itu diperbolehkan sesuai Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Covid-19 dan atau Dalam Rangka Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan atau Stabilitas Sistem Keuangan.

"Terlalu lama itu dalam kondisi seperti ini. Kalau bisa lakukan lebih cepat dan kita lakukan perintah tertulis agar tidak menjadi isu yang negatif di sektor keuangan yang bisa timbulkan gejolak," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen mengakui, di samping valuasi saham dan kinerja keuangan berdasarkan kondisi objektif dari perusahaan, kondisi berupa sentimen akan mendorong mekanisme pasar dalam hal permintaan dan penawaraan. Apalagi, investor kecenderungannya masih memutuskan langkah jual atau beli saham berdasarkan rumor yang beredar.

"Mereka umumnya mendasarkan keputusan jual dan beli, bukan hanya bertumpu pada analisa fundamental, tapi lebih banyak atas rumor pemberitaann atau sentimen. Sehingga, kita harus bangun rumor positif di pasar. Secara fundamental kita belum terganggu tapi di market sudah turun duluan karena rumor. Perlu disadari, sentimen penting untuk bangun persepsi, harapan, dan keputusan yang bisa diambil investor. Perusahaan sebagus apapun kalau sentimennya negatif bisa dilakukan penjualan besar-besaran karena adanya panic buying, dan itu sudah terjadi. Namun, awal Mei hingga kini sentimennya sudah relatif lebih baik," ungkap ia.

Lebih lanjut, berdasarkan informasi dari rating agency, investor domestik dan global, sejauh ini masih bisa dikatakan likuiditas korporasi masih cukup baik. Di mana, sejumlah emiten baik BUMN maupun non BUMN di pasar modal memiliki outstanding utang jatuh tempo pokok dan bunga obligasi pada Juni hingga Desember 2020 mencapai Rp 117 triliun.



Sumber: BeritaSatu.com