Kembali ke Rp 13.000-an, Bank Indonesia Yakin Rupiah Terus Menguat

Kembali ke Rp 13.000-an, Bank Indonesia Yakin Rupiah Terus Menguat
Petugas menata uang pecahan rupiah yang siap didistribusikan dari Cash Center Bank Mandiri, di Jakarta. (Foto: Beritasatu Photo / Mohammad Defrizal)
Lona Olavia / FMB Jumat, 5 Juni 2020 | 16:06 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia (BI) menyatakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kembali ke level Rp 13.000an masih undervalued. BI pun menyakini rupiah masih akan berada dalam tren penguatannya.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah terus menguat berturut-turut sejak 28 Mei yang saat itu mencapai Rp 14,769 per dolar AS, pada Jumat (5/6) menjadi Rp 14.100 per dolar AS.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan, rupiah sudah tembus di bawah Rp 14.000 per dolar AS dan sempat diperdagangkan dengan bid offer Rp 13.855 dan offernya Rp 13.960 per dolar AS. Rupiah pun diyakininya masih berpotensi menguat mengingat kondisinya yang masih di posisi undervalue. Di mana, penguatan tersebut sejalan dengan pandangan BI.

"Rupiah undervalue dan masih akan menguat, karena inflasinya rendah, defisit transaksi berjalan rendah, perbedaaan suku bunga dalam dan luar tinggi, dan aliran masuk modal asing tinggi. Rupiah juga masih akan menguat karena indikator premi resiko yang masih 126, belum turun mendekati sebelum Covid 66-68. Jadi, ada faktor fundamental dan teknikal," ujarnya dalam konferensi pers Perkembangan Ekonomi Terkini secara virtual, di Jakarta, Jumat (5/6/2020).

Kurs rupiah terapresiasi ke level terkuat sejak 25 Februari lalu atau sebelum kasus pertama Covid-19 ditemukan pada awal Maret. Menurut data Bloomberg, rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan sore hari ini, Jumat (5/6/2020), menguat ke kisaran Rp 13.877,5 per dolar AS atau terapresiasi 217,5 poin (1,54 persen).

Baca juga: Menguat, Rupiah Kembali ke Level Pra-Covid-19

Jelas Perry, inflasi di Mei termasuk yang sangat rendah apalagi dibandingkan bulan Ramadan dan Idulfitri sebelumnya. Bahkan, sesuai pemantauan survei di minggu pertama Juni inflasi month to month 0,04%, berarti year on year 1,81%. Itu lebih rendah dari bulan lalu.

"Dari survei pemantauan harga menunjukkan inflasi itu rendah. Inflasi rendah karena permintaan masyarakat, pengaruh PSBB sehingga aktivitas dan pendapatan masyarakat mengalami penurunan dan konsumsi turun. Ketersediaan pasokan dan distribusi bahan pangan dan koordinasi yang erat antar TPI dan TPID. Serta, kredibilitas kebijakan BI di bidang moneter dan pemerintah di bidang ekonomi yang bisa diukur dari terkendalinya ekspektasi inflasi," jelasnya.

BI juga melihat rupiah masih akan menguat ke depannya. Hal ini tampak dari indikator premi risiko credit default swap (CDS) yang sekarang kurang lebih 126."Memang sudah turun dulu tertinggi 245, tapi kalau 126 dibandingkan dengan tingkat sebelum Covid-19 yang mencapai 66-68, premi risiko pasca-Covid-19 Insyaallah bisa lebih rendah 126," papar Perry.

Untuk perbedaan suku bunga, interest rate differential SBN dan US treasury 10 tahun juga telah mencapai 6,2%. Seperti diketahui, yield atau imbal hasil SBN mencapai 7,06%, sementara US treasury hanya sebesar 0,8%. "6,2 persen ini tinggi salah satu yang sering imbal hasil aset keuangan RI khususnya SBN masih tinggi," katanya.

Adapun, aliran modal asing terus mengalami kenaikan sejalan tingkat kepercayaan diri investor asing yang semakin lama kian membaik. Hal itu terbukti dari aliran modal asing khususnya ke SBN. Di mana, pada minggu ke dua Mei capai Rp 2,97 triliun, lalu minggu berikutnya Rp 6,15 triliun, Rp 2,54 triliun, dan sentuh Rp 7,01 triliun di Juni ini.

"Dengan nilai yang terus menguat dan intervensi berkurang, maka cadangan devisa kita akan alami peningkatan. Angkanya lebih tinggi dari bulan lalu, Senin akan dirilis," ucapnya.

Penguatan mata uang Garuda didorong optimisme bahwa pembukaan kembali kegiatan perekonomian secara bertahap dan membaiknya sentimen risiko global akan meningkatkan arus modal masuk ke aset-aset berimbal hasil tinggi. Meski demikian, kondisi eksternal seperti perang dagang antara AS-Tiongkok, serta kondisi Eropa dan Hong Kong juga dinilainya akan mempengaruhi nilai tukar dolar AS. "Tapi secara tren masih menguat," kata Perry.



Sumber: BeritaSatu.com