Industri Asuransi Gencar Jual Polis Secara Digital

Industri Asuransi Gencar Jual Polis Secara Digital
Ilustrasi Asuransi. (Foto: Istimewa)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Sabtu, 6 Juni 2020 | 12:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pelaku bisnis industri asuransi jiwa nasional gencar memasarkan polisi secara digital menyusul kebijakan stimulus lanjutan sektor industri keuangan non bank (IKNB) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), berupa penyesuaian teknis pemasaran produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau produk asuransi unitlink. Aturan itu, diharapkan membantu perusahaan asuransi jiwa dan asuransi jiwa syariah yang bisnisnya terganggu akibat Covid-19.

Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Wiroyo Karsono, mengatakan, terbitnya aturan baru OJK soal pemasaran PAYDI melalui pertemuan langsung digital itu bisa menggairahkan bisnis asuransi jiwa nasional. Maklum akibat pandemi, penjualan unitlink mengalami tekanan. "Anggota kami melaporkan, pendapatan bisnis mereka menurun akibat pandemi corona. Penurunan terbesar berasal dari penjualan produk PAYDI," kata Wiroyo dalam keterangan yang diterima Sabtu (6/6/2020).

Sayangnya, Wiroyo enggan menjelaskan angka penurunan penjualan produk PAYDI tersebut di masa pandemi. Dia hanya mengungkapkan, penurunan sejak adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). "Ini karena penjualan produk PAYDI butuh proses panjang. Harus ada tatap muka antara staf pemasaran dengan nasabah untuk menjelaskan secara rinci produk yang ditawarkan," imbuh Wiroyo.

Kepala Eksekutif Pengawas IKNB OJK Riswinandi, mengakui PSBB berdampak terhadap kinerja dan operasional pelaku usaha lembaga jasa keuangan non-bank, khususnya industri asuransi.

Untuk itu, OJK memberikan penyesuaian teknis pelaksanaan pemasaran PAYDI yakni menggunakan media komunikasi jarak jauh. "Tindak lanjut pertemuan langsung secara tatap muka dapat dilakukan melalui sarana digital atau media elektronik seperti video conference, video call atau kombinasi dari media dimaksud," ujar Riswinandi.

Adapun terkait tanda tangan basah atas surat pernyataan bahwa calon pemegang polis, telah memperoleh penjelasan, dapat digantikan dengan tanda tangan elektronik. Namun penerapan penyesuaian tersebut hanya dapat dilakukan oleh perusahaan asuransi yang telah memenuhi persyaratan OJK.

Menurut Presiden Direktur PT Prudential Life Insurance (Prudential Indonesia), kebijakan OJK itu sejalan kebijakan Prudential yang sedang bertransformasi ke digital. "Kami telah mengembangkan kemampuan digital yang terintegrasi. Perusahaan siap mengimplementasikan peraturan ini,” ujar Jens.

Jens menambahkan, lebih dari 260.000 tenaga pemasaran Prudential siap mendukung pemanfaatan teknologi, serta melayani penjualan produk asuransi melalui tatap muka secara virtual. “Tujuannya untuk memberikan perlindungan kepada lebih banyak masyarakat Indonesia di mana pun mereka berada, sambil memberikan edukasi dan sosialisasi tentang pentingnya asuransi,” imbuh Jens.

Hal senada dipaparkan Presiden Direktur PT Axa Mandiri Financial Services (Axa Mandiri) Handojo G. Kusuma yang menyatakan bahwa kebijakan tersebut membantu proses penjualan produk unitlink perusahaan di masa pandemi.

Sampai saat ini, kinerja penjualan produk unitlink Axa Mandiri masih terbilang bertumbuh. Perusahaan menyiapkan infrastruktur penjualan melalui pertemuan langsung secara digital.

Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu mengimbau masyarakat agar jeli dalam membeli produk asuransi. Dia meminta nasabah memeriksa polis dan bertanya kepada perusahaan asuransi terkait polis yang akan dibeli. Produk unitlink merupakan salah satu alternatif pilihan dari produk-produk asuransi jiwa yang memberikan perlindungan terhadap risiko jiwa sekaligus memberikan tambahan manfaat investasi.

Produk asuransi yang menawarkan investasi pada umumnya memiliki risiko yang disebabkan oleh fluktuasi portofolio investasi (underlying investment) yang terkait dengan ekonomi makro termasuk pasar modal. Risiko turunnya imbal hasil tersebut ditanggung sendiri oleh nasabah. Hal itu Berbeda dengan produk asuransi tradisional, return atau imbal hasil yang diterima nasabah ditanggung oleh perusahaan asuransi.

Karena itu, ketika pasar modal sedang bagus, nasabah diminta untuk tidak terburu-buru mencairkan investasinya. "Begitu pula ketika pasar saham sedang tidak bagus, nasabah jangan panik. Sebab, produk unitlink ini untuk investasi jangka panjang,” tandas Togar.



Sumber: BeritaSatu.com