Penumpang Dibatasi, Tarif Angkutan Umum Tidak Langsung Naik

Penumpang Dibatasi, Tarif Angkutan Umum Tidak Langsung Naik
Salah satu sopir bajaj mengikuti rapid test di Kantor Kemhub, Jakarta, Senin (20/4/2020). (Foto: Istimewa)
Herman / FMB Minggu, 7 Juni 2020 | 10:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan protokol angkutan umum di era new normal akan membuat biaya operasi bertambah, tetapi kenaikan tarif tidak bisa serta merta dilakukan.

"Dalam penerapan protokol kesehatan dan physical distancing, pastinya akan berimplikasi pada meningkatnya cost operasional transportasi, karena okupansi tidak 100 persen. Ini yang harus segera kita cari solusinya,” ungkap Budi Karya Sumadi dalam keterangan resminya, Minggu (7/6/2020).

Menhub mengungkapkan, di satu sisi operator transportasi harus mengeluarkan dana lebih untuk mengakomodasi protokol kesehatan, namun di sisi lain pendapatan mereka berkurang akibat okupansi (keterisian penumpang) yang tidak bisa 100 persen.

“Kenaikan tarif pun tidak serta merta bisa dilakukan karena akan membebankan masyarakat, sehingga perlu adanya solusi apakah Pemerintah akan menambah subsidi atau mengupayakan kebijakan lainnya,” ujar Menhub.

Untuk itu, Menhub mengungkapkan, perlu kolaborasi dan saling dukung dari para pemangku kepentingan, baik pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan dunia industri, perguruan tinggi, maupun organisasi masyarakat.

“Tantangan itu harus kita hadapi bersama sesuai prinsip 'berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing' sesuai dalam tradisi kegotongroyongan kita,” ujar Menhub.

Saat ini Kemhub tengah menggandeng sejumlah universitas, yakni UGM, UI, ITB, dan ITS untuk melaksanakan sejumlah kajian yang menghasilkan policy paper dari berbagai sudut pandang sebagai bahan-bahan penyusunan kebijakan sektor transportasi menghadapi kebiasaan baru.

“Peran perguruan tinggi melalui kegiatan penelitian dan pengembangan sangat penting, dalam upaya memitigasi dampak Covid-19 dan kesiapan penerapan adaptasi kebiasaan baru atau new normal,” pungkas Menhub.

Sebagai informasi, dengan adanya pembatasan sosial dan pergerakan penumpang pada masa pandemi Covid-19, telah berdampak pada lumpuhnya aktivitas sosial ekonomi. Walaupun, sektor transportasi masih tetap beroperasi untuk misi-misi kemanusiaan dan mempertahankan rantai pasok logistik.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, selama Januari–April 2020, jumlah penumpang angkutan udara domestik sebanyak 17,5 juta orang atau turun 27,67%, dan jumlah penumpang internasional sebanyak 3,4 juta orang atau turun 42,78% dibanding periode yang sama tahun 2019.

Sementara itu untuk jumlah penumpang kereta api, selama Januari–April 2020 mencapai 95,7 juta orang atau turun 30,92%. Sedangkan jumlah barang yang diangkut kereta api naik 6,69% menjadi 17,2 juta ton.

Untuk jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri sebanyak 6,7 juta orang atau turun 3,24%. Sementara jumlah barang yang diangkut naik 3,23% atau mencapai 99,5 juta ton.

 



Sumber: BeritaSatu.com