Cadev Meningkat Ditopang Capital Inflow

Cadev Meningkat Ditopang Capital Inflow
Ilustrasi Bank Indonesia (Foto: The Jakarta Globe)
Triyan Pangastuti / FMB Senin, 8 Juni 2020 | 10:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa pada akhir Mei meningkat US$ 2,6 miliar menjadi US$ 130,5 miliar dari posisi April sebesar US$ 127,9 miliar.

Direktur Eksekutif Kepada Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengungkapkan peningkatan posisi cadev Mei dipengaruhi oleh penarikan utang luar negeri Pemerintah dan penempatan valas perbankan di Bank Indonesia.

BI meyakini posisi cadev akan tetap memadai untuk mendukung stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik.

“Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 8,3 bulan impor atau 8,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor” jelasnya dalam keterangan resmi, Senin (8/6/2020).

Ia mengatakan bahwa posisi cadev juga mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Adapun catatan Bank Indonesia, aliran modal asing mulai masuk pada minggu kedua Mei 2020, tercatat net inflow ke SBN sebesar Rp 2,97 triliun. Kemudian net inflow di minggu ketiga bulan tersebut yang mencapai Rp 6,15 triliun.

Arus modal asing masih masuk pada minggu keempat Mei 2020, yaitu sebesar Rp 2,54 triliun dan berlanjut pada pekan pertama Juni, net inflow sebesar Rp 7,01 triliun.

Ekonom Permata Bank, Josua Pardede mengungkapkan peningkatan posisi cadev seiring masuknya kembali investasi asing ke pasar saham dan obligasi.

“Pada bulan Mei investor asing membukukan capital inflow di Indonesia sebesar US$ 546 juta di pasar saham dan US$ 466 juta di pasar obligasi,” tuturnya.

Ia mengatakan bahwa, masuknya investor di pasar saham telah mendorong penguatan tipis terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) pada bulan Mei 2020 sebesar 0,7% di bulan Mei.

Dengan berbagai faktor positif masuknya investor asing ke berbagai aset keuangan, turut mendorong penguatan rupiah dan mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang turun 53 bps menjadi 7,35%.

“Masuknya investor asing ini pun juga terlihat pada pergerakan rupiah, yang sejak awal bulan Mei mengalami penguatan sebesar 1,6% sepanjang bulan Mei ke level Rp 14.645,” jelasnya.

Di sisi lain, penguatan rupiah juga mengindikasikan bahwa penurunan rata-rata volatilitas nilai tukar rupiah pada bulan Mei yang menurun menjadi 15,6% dari bulan sebelumnya yang tercatat 21,3%.

Kemudian penguatan rupiah juga indikator bahwa langkah stabillisasi rupiah yang dilakukan Bank Indonesia cenderung marginal. Tak hanya itu, pada lelang SBBI juga menunjukkan permintaan mulai membaik, karena sebelumnya tidak ada yang memenangkan lelang SBBI yang dilakukan oleh BI.

“Selain aliran dana investor, penguatan ini didorong juga dari lelang SBBI valas yang berhasil dimenangkan sebesar $536 juta, suatu tanda bahwa permintaan di pasar keuangan mulai membaik,” tuturnya. 



Sumber: BeritaSatu.com