Bank Dunia: Covid-19 Picu Kejatuhan Ekonomi Terluas dalam 150 Tahun

Bank Dunia: Covid-19 Picu Kejatuhan Ekonomi Terluas dalam 150 Tahun
Logo Bank Dunia. (Foto: AFP)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Selasa, 9 Juni 2020 | 09:51 WIB

Washington, Beritasatu.com - Bank Dunia (World Bank) pada Senin (8/6/2020) mengatakan pandemi virus corona (Covid-19) menimbulkan goncangan besar dan cepat yang menyebabkan keruntuhan ekonomi global paling luas sejak 1870 atau 150 tahun terakhir, meski ada dukungan pemerintah.

Baca juga: Bank Dunia Setujui Pendanaan Tanggap Darurat Covid-19 di Indonesia

Bank Dunia dalam laporan Prospek Ekonomi Global terbaru menyatakan ekonomi dunia diperkirakan mengalami kontraksi -5,2 persen pada 2020, resesi terburuk dalam 80 tahun. Banyak negara yang menderita kerugian ekonomi, yang berarti skala penurunan lebih buruk dari resesi dalam 150 tahun. "Ini adalah proyeksi sangat serius, krisis cenderung meninggalkan bekas luka jangka panjang dan menimbulkan tantangan global yang besar," kata World Bank Group VP for Equitable Growth, Finance dan Institution, Ceyla Pazarbasioglu.

Baca juga: Bank Dunia: Pandemi Picu 60 Juta Orang Jatuh Miskin

Ceyla Pazarbasioglu mengatakan, tingkat kedalaman krisis menyebabkan sekitar 70 hingga 100 juta orang ke dalam jurang kemiskinan ekstrem, lebih buruk dari perkiraan sebelumnya yakni 60 juta.

Di saat lembaga pemberi pinjaman pembangunan yang berbasis di Washington AS ini memproyeksikan pada 2021 ekonomi akan rebound (menguat), namun ada potensi risiko gelombang kedua pandemi. Hal dapat merusak pemulihan ekonomi.

Para ekonom telah bekerja keras mengukur dampak krisis yang disamakan dengan bencana alam global. Namun karena besarnya dampak di berbagai banyak sektor dan negara, membuat dampak ekonomi susah dihitung. Alhasil, mereka sulit memprediksi pemulihan yang sangat tidak pasti.

Di bawah skenario terburuk, resesi global dapat berarti kontraksi 8 persen, menurut laporan itu. "Mengingat ketidakpastian ini, kemungkinan penurunan lebih lanjut sangat mungkin terjadi," kata Pazarbasioglu.

Tiongkok Masih Tumbuh
Bank Dunia memperingatkan, meskipun Tiongkok satu dari sedikit negara di dunia yang mencatat pertumbuhan moderat tahun ini, namun kedalaman perlambatan ekonomi terbesar kedua di dunia itu akan menghambat prospek pemulihan di negara-negara berkembang, terutama negara eksportir komoditas.

Bank Dunia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Tiongkok 2020 naik hanya 1 persen. Sementara proyeksi pertumbuhan negara lainnya suram yakni AS berkontraksi -6,1 persen, Uni Eropa kontraksi -9,1 persen, Jepang kontraksi -6,1 persen, Brasil kontraksi -8 persen, Meksiko kontraksi - 7,5 persen dan India kontraksi -2,2 persen. "Keadaan bisa menjadi lebih buruk, berarti perkiraan akan direvisi lebih rendah lagi," kata Bank Dunia.

Meski proyeksi di atas cukup menakutkan, namun tidak akan seburuk Depresi Hebat, yang menunjukkan kontraksi global 14,5 persen pada 1930 hingga 1932, sedangkan penurunan pascaperang pada 1945-1946 adalah 13,8 persen, menurut Bank Dunia.

Namun di tengah pandemi yang masih berlangsung, ada beberapa risiko sangat tinggi terhadap proyeksi tersebut, terutama jika wabah meningkat dan menyebabkan pemerintah memberlakukan kembali pembatasan yang dapat membuat penurunan 8 persen. "Gangguan terhadap aktivitas ekonomi akan melemahkan kemampuan bisnis untuk tetap beroperasi," laporan itu memperingatkan.

Dampak lebih lanjut, bisa menaikkan suku bunga untuk peminjam dan berisiko tinggi. "Dengan tingkat utang yang sudah berada di level tertinggi dalam sejarah, ini dapat mengarah pada cascading default dan krisis keuangan di banyak negara," katanya.

Bahkan jika pada 2021 pertumbuhan ekonomi global diproyeksi mencapai 4,2 persen, namun di banyak negara, resesi mendalam yang dipicu Covid-19 kemungkinan membebani potensi kenaikan di tahun-tahun mendatang



Sumber: CNA