Mencermati Kondisi Rupiah di Masa Pandemi Covid-19
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Mencermati Kondisi Rupiah di Masa Pandemi Covid-19

Rabu, 24 Juni 2020 | 16:47 WIB
Oleh : Feriawan Hidayat / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Rupiah bukan merupakan salah satu mata uang yang pada umumnya diperjualbelikan oleh trader dalam perdagangan foreign exchange (forex). Hal ini akibat dari rendahnya likuiditas dibanding mata uang lain, yang umumnya diperjualbelikan seperti poundsterling, euro, dolar Amerika Serikat (AS), yen, dan lainnya.

Baca Juga: Kaum Milenial Belum Sadar Pentingnya Investasi

Sehingga, mayoritas perdagangan rupiah dilakukan untuk keperluan pribadi, seperti untuk bepergian keluar negeri, kegiatan perdagangan ekspor dan impor, serta untuk urusan internasional yang dilakukan negara. Karena itu, rupiah tidak memiliki volatilitas sebesar mata uang lainnya. Namun, di masa pandemi virus corona atau Covid-19 tidak ada mata uang yang kebal.

Mengacu data Bloomberg, dampak dari suatu peristiwa terhadap nilai tukar rupiah terjadi pada masa pandemi Covid-19. Pandemi ini menyebabkan nilai rupiah terguncang hingga terdepresiasi cukup dalam. Akibatnya, titik tertinggi rupiah pada tahun 1998, berhasil ditembus pada bulan Maret 2020.

Dapat dilihat terjadi depresiasi yang cukup tinggi dari mata uang rupiah terhadap dolar AS. Penyebab utamanya, pandemi virus Covid-19 yang menghambat seluruh aktivitas ekonomi, dan membuat beberapa aspek kehidupan berubah.

Pergerakan rupiah

Faktor Penyebab Depresiasi Rupiah

Salah satu faktor yang menjadi penyebab depresiasi rupiah adalah turunnya kegiatan produksi akibat kebijakan pembatasan sosial. Menurunnya kegiatan produksi menyebabkan penurunan dalam pendapatan perusahaan-perusahaan yang menjadi penggerak dari perekonomian.

Dampak awal dari turunnya produksi ini adalah kenaikan harga dari barang yang di produksi. Namun, dengan menurunnya produksi yang dilakukan oleh masyarakat yang berperan sebagai konsumen, maka konsumsi ikut turun.

Turunnya tingkat konsumsi ini, maka produsen mengikuti pasar agar terjadi keseimbangan dan membuat penurunan harga. Turunnya harga ini akan menyebabkan penurunan pendapatan produsen dan menimbulkan keseimbangan baru yang disebut fase deflasi.

Baca Juga: Bank Sentral Eropa Tambah Stimulus Covid-19

Fenomena deflasi ini menyebabkan turunnya konsumsi dan produksi yang membuat produk domestik bruto (PDB) negara turun. Dengan turunnya PDB yang dianggap sebagai pengukur pertumbuhan negara, maka penanam modal asing akan pergi karena kekhawatiran modal yang diinvestasikannya pada sesuatu yang sedang memburuk, yaitu negara yang sedang deflasi.

Dalam kasus Indonesia, dengan turunnya perekonomian akibat Covid-19, pergerakan modal keluar, membuat nilai rupiah terdepresiasi akibat dari pembelian mata uang lokal investor tersebut dengan rupiah yang dilakukan berskala besar. Ditambah dengan pembelian mata uang asing seperti dolar Amerika oleh orang Indonesia yang ingin mengamankan uangnya dengan menarik modal dari lokal ke luar negeri. Hal ini semakin membuat rupiah terdepresiasi.

Dikabarkan oleh Bank Indonesia (BI) pada Maret, arus modal keluar dari Indonesia tercatat Rp 121,26 triliun. Perbandingannya adalah dengan bulan April di mana rupiah mulai mengalami pemulihan, arus keluarnya hanya mencapai Rp 2,14 Triliun. Data ini menunjukan jika besarnya dampak arus modal pada rupiah.

Baca Juga: Situasi Dunia Pascapandemi Covid-19 Lebih Rumit

Dalam menghadapi turunnya perekonomian dan arus modal yang masuk, Bank Sentral pun melakukan beberapa kebijakan seperti penurunan suku bunga dan operasi pasar terbuka. Penurunan suku bunga diharapkan meningkatkan investasi, karena jika suku bunga turun maka secara teori, kemauan untuk menabung akan turun karena disinsentif, dan akan menuju pada investasi perekonomian riil.

Dengan investasi ini, harapannya adalah lebih banyak uang beredar, sehingga ada dorongan untuk produksi dari investasi yang berujung pada tingkat konsumsi. Karena dengan bertambahnya jumlah uang beredar di perekonomian diharapkan akan lebih baik soalnya akan ada uang yang digunakan untuk produksi dan konsumsi.

Namun, sisi negatifnya dengan bertambahnya jumlah uang beredar, maka akan terdepresiasi nilai rupiah. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya kuantitas rupiah yang beredar. Karena jika suatu barang kuantitasnya banyak maka nilainya tidak akan tinggi, kecuali barang inelastis. Namun, mata uang bukanlah barang inelastis sehingga rupiah terdepresiasi. Bukti nyatanya adalah turunnya suku bunga dari 4,75 persen ke 4,5 persen pada Maret 2020 di saat rupiah terdepresiasi berat.

Baca Juga: Jokowi Sebut Covid-19 Turunkan Daya Beli Masyarakat

Ditambah dengan adanya operasi pasar terbuka oleh Bank Sentral, untuk mendorong jumlah uang beredar, akhirnya rupiah terus terdepresiasi. Hal ini dikarenakan operasi menggunakan uang dari cadangan devisa yang menggunakan beberapa instrumen seperti emas, dana dari International Monetary Fund (IMF) berupa tabungan iuran dan juga hak pengambilan khusus anggota, piutang negara lain, dan valuta asing.

Hampir seluruh komponen ini didenotasikan dengan dolar AS, sehingga dalam proses pengambilannya, maka rupiah akan terdepresiasi oleh dolar karena ada pertukaran mata uang. Bukti nyata dari pergerakan ini adalah di Maret 2020, cadangan devisa Indonesia turun untuk menyelamatkan perekonomian, dari US$ 130,4 miliar menjadi US$ 121 miliar, bersamaan dengan depresiasi tertinggi rupiah terhadap dolar AS.

Walaupun telah mengalami depresiasi tinggi di Maret 2020, pada April 2020, rupiah berusaha untuk pulih. Pergerakan menurun ini terus terjadi hingga bulan ini, yang memberikan harapan untuk kembali pulihnya nilai rupiah.

Harapan Positif Apresiasi Rupiah

Harapan bagi rupiah muncul akibat dari insentif-insentif faktor eksternal dan internal. Insentif dari eksternal seperti bantuan dana pemerintah AS, suntikan-suntikan dana dari bank sentral di seluruh dunia seperti Bank of Japan dan The Fed, dapat memberikan harapan bahwa investor asing akan kembali ke Indonesia dan meningkatkan jumlah arus modal kembali.

Adanya pertanda kehidupan normal yang baru atau new normal dengan pembukaan pembatasan sosial secara perlahan oleh pemerintah Indonesia, tentu terdapat harapan baru bagi rupiah untuk apresiasi. Dengan kemungkinan pulihnya ekonomi, produksi dapat berjalan kembali normal, terutama dalam perihal ekspor yang dapat meningkatkan perekonomian. Hal ini terbukti karena bulan Mei dan Juni ini Indonesia mengalami surplus dalam neraca dagang.

Ini dapat menjadi pertanda bahwa pemulihan dalam nilai rupiah akan terus terjadi bersamaan dengan pemulihan ekonomi Indonesia. Ditambah dengan kepercayaan dari perekonomian global akan pemulihan perekonomian, dan pergerakan harga rupiah dua bulan terakhir ini, pemulihan nilai rupiah dapat terjadi dalam masa yang akan datang.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Birokrasi Ekspor Benih LobsterJangan Rugikan Nelayan

harus bergerak cepat dalam mengeksekusi kebijakan ekspor yang sudah dibuat

EKONOMI | 24 Juni 2020

Program Padat Karya Kempupera Serap 144.163 Tenaga Kerja

Kempupera terus mempercepat penyaluran program Padat Karya Tunai.

EKONOMI | 24 Juni 2020

BNI Syariah Ajak Nasabah Lebih Bijak Investasi di Kala Pandemi

BNI Syariah gelar Webinar edukasi produk perbankan syariah untuk nasabah korporasi BNI Syariah.

EKONOMI | 24 Juni 2020

Rupiah Menguat ke Posisi Rp 14.160

Kondisi perekonomi Indonesia masih tergolong lebih baik dibandingkan dengan negara lain

EKONOMI | 24 Juni 2020

BRIsyariah Permudah Akses Pembiayaan

PT Bank BRIsyariah mempermudah akses pembiayaan bagi wirausahawan penyandang disabilitas.

EKONOMI | 24 Juni 2020

Pemerintah Tempatkan Dana Rp 30 Triliun di Bank Himbara

Pemerintah segera menempatkan uang negara di bank umum milik pemerintah atau Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) dengan total Rp 30 triliun.

EKONOMI | 24 Juni 2020

BRI Ventures Pelopori Dana Ventura UMKM Rintisan Digital

BRI Ventures menargetkan pengumpulan dana investasi senilai Rp 300 miliar.

EKONOMI | 24 Juni 2020

7 Maskapai Terbukti Bersalah, Kemhub Hormati Putusan KPPU

Kemhu menghormati putusan Majelis Komisi Pengawas Persaingan Usaha.

EKONOMI | 24 Juni 2020

Kepala BKPM: Investor Besar Wajib Gandeng UMKM

BKPM secara konsisten mewajibkan investasi besar untuk menggandeng kalangan pelaku UMKM.

EKONOMI | 24 Juni 2020

IHSG Naik 1,75% ke Level 4.964,73

Kenaikan dan yang terbesar adalah di sektor keuangan dengan 3,26%

EKONOMI | 24 Juni 2020


TAG POPULER

# Perawatan Mobil


# UMKM


# Akidi Tio


# Pesawat Kepresidenan


# Greysia Polii



TERKINI

Perkuat Kolaborasi G20, Menkominfo Usulkan Kelompok Kerja Ekonomi Digital

DIGITAL | 7 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS