IMF: Imbas Covid-19, Utang Publik Akan Menggunung 100% dari GDP

IMF: Imbas Covid-19, Utang Publik Akan Menggunung 100% dari GDP
Logo IMF. (Foto: AFP)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Kamis, 25 Juni 2020 | 10:32 WIB

Washington, Beritasatu.com - Dana Moneter Internasional (IMF) pada Rabu (24/9/2020) memperingatkan bahwa keuangan publik akan memburuk secara signifikan ketika pemerintah berusaha memerangi dampak dari krisis virus corona (Covid-19).

MF menyatakan, untuk mengurangi dampak ekonomi akibat pandemi, pemerintah di seluruh dunia telah mengumumkan paket fiskal besar-besaran dan pinjaman baru. Akibatnya, keuangan publik memburuk secara signifikan. "Kontraksi tajam kegiatan ekonomi dan pendapatan fiskal, bersama dukungan fiskal yang besar, semakin meningkatkan utang publik global yang diproyeksikan mencapai lebih 100 persen dari PDB tahun ini," kata IMF pada Rabu dalam pembaruan World Economic Outlook.

Baca juga: Covid-19 Mengganas, IMF Pangkas Ekonomi Global Jadi Minus 4,9%

IMF menyatakan, utang publik global akan mencapai level tertinggi sepanjang masa pada tahun 2020 dan 2021 masing-masing di 101,5 persen dari PDB dan 103,2 persen dari PDB. Selain itu, rata-rata keseluruhan defisit fiskal akan melonjak hingga 13,9 persen dari PDB tahun ini, 10 poin persentase lebih tinggi dari tahun 2019.

Bencana Melanda Pasar Tenaga Kerja
"Penurunan tajam mendatang akan terjadi di pasar tenaga kerja global," kata IMF menunjuk bahwa penurunan global jam kerja pada kuartal kedua 2020 kemungkinan akan setara dengan kerugian 300 juta pekerjaan penuh waktu.

“Pukulan pasar tenaga kerja sangat akut bagi pekerja berketerampilan rendah yang tidak memiliki pilihan untuk bekerja dari rumah. Kehilangan pendapatan juga tampaknya tidak merata antarjenis kelamin, dimana perempuan di antara kelompok berpenghasilan rendah menanggung dampak lebih besar di beberapa negara,” kata IMF.

Ada lebih 9 juta infeksi Covid-19 yang dikonfirmasi di seluruh dunia 19, menurut Johns Hopkins University. Amerika Serikat, Brasil, dan Rusia menjadi negara dengan jumlah kasus tertinggi di dunia.



Sumber: CNBC