Di Tengah Pandemi, BRIsyariah Dorong Perusahaan-perusahaan untuk IPO

Di Tengah Pandemi, BRIsyariah Dorong Perusahaan-perusahaan untuk IPO
BRIsyariah menandatangani nota kesepahaman dengan sejumlah pihak yang terkait peningkatan layanan keuangan kepada nasabah (Foto: ist)
Novy Lumanauw / FMB Jumat, 26 Juni 2020 | 10:44 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Bisnis Komersil PT BRIsyariah Tbk Kokok Alun Akbar mengatakan bahwa Initial Public Offering (IPO) merupakan suatu proses transformasi jangka panjang dalam memperkuat struktur permodalan perusahaan.

Saat berbicara pada sharing session “Go Public Webinar: Kiat Memperoleh Dana dan Menjaga Likuiditas di Tengah Pandemi melalui Pasar Modal Indonesia,”, Alun mengungkapkan bahwa BRIsyariah menjadi bank syariah anak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pertama yang berhasil mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

“Banyak manfaat yang didapat perusahaan setelah IPO. Jelas bahwa IPO memperkuat struktur permodalan, meningkatkan nilai perusahaan, meningkatkan kepercayaan publik kepada perusahaan, dan meningkatkan loyalitas karyawan,” kata Alun melalui keterangan tertulis yang diterima pada Jumat (26/6/2020).

Ia mengungkapkan, sejak BRIsyariah secara resmi melantai di Bursa Efek Indonesia, pada 8 Mei 2018, jumlah pemegang saham perusahaan itu telah melampaui 23.000 investor.

Ia mengatakan, IPO juga meningkatkan loyalitas karyawan karena diterapkan Management Stock Option Program (MSOP) dan Employee Stock Option Program (ESOP).

Oleh sebab itu, BRIsyariah sebagai bank syariah, lanjutnya, akan terus mendukung serta mendorong perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk berkembang melalui sarana pendanaan di pasar modal dengan melakukan go public serta mencatatkan efek di BEI.

“Banyak manfaat yang didapat perusahaan setelah IPO. Dengan dana hasil IPO, BRIsyariah terus mengembangkan bisnisnya. Kami memanfaatkan dana IPO murni untuk ekspansi bisnis. Sebanyak 80% untuk ekspansi pembiayaan, 12,5% untuk teknologi informasi, dan 7,5% untuk jaringan,” kata dia.

Menurut dia, setelah IPO BRIsyariah mampu meningkatkan kinerja keuangannya secara berkesinambungan. Pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) aset sebelum IPO adalah sebesar 14,09%, setelah IPO menjadi 16,92%. Pertumbuhan majemuk tahunan juga terjadi di pembiayaan sebelum IPO adalah 6,82%, setelah IPO 20,01%. Selanjutnya, Current Account Saving Account (CASA) atau komposisi dana murah pada Triwulan I - 2020 tercatat 51,06%, dibandingkan saat sebelum IPO CASA hanya di kisaran 30%.

Alun mengatakan, dengan dana hasil IPO BRIsyariah terus mengembangkan teknologi infromasi untuk mendorong pertumbuhan bisnis. Di sisi Dana Pihak Ketiga (DPK), BRIsyariah terus mengembangkan aplikasi mobile banking BRIS Online. Di sisi pembiayaan, BRIsyariah mengakselerasi internal business process melalui aplikasi i-Kurma.

“Selain ekspansi bisnis melalui penyaluran pembiayaan dan pengembangan Teknologi Informasi, dana hasil IPO juga berhasil meningkatkan jumlah jaringan kantor BRIsyariah untuk menunjang ekspansi bisnis bank. Dari 271 unit kerja sebelum IPO, kini BRIsyariah mampu meningkatkan jaringannya menjadi 305 unit setelah IPO,” jelas dia.

Alun juga berbagi kiat bagi perusahaan yang berencana go public agar memiliki persiapan yang matang, fundamental perusahaan dan prospek bisnis yang menjanjikan, investor targeting, penunjukan lembaga atau profesi penunjang pasar modal, serta pembentukan project management office yang andal.

“Berkat key factor itu, BRIsyariah mengalami kelebihan penawaran (oversubscribed) saat IPO dan diminati banyak investor. Lebih dari 6.000 investor tercatat sebagai pemegang saham hasil IPO,” katanya.

 



Sumber: BeritaSatu.com