Bank Indonesia Beli SBN di Pasar Perdana Rp 30,33 Triliun

Bank Indonesia Beli SBN di Pasar Perdana Rp 30,33 Triliun
Perry Warjiyo. (Foto: BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia)
Herman / FER Sabtu, 27 Juni 2020 | 17:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Di dalam Undang-undang (UU) Nomor 2 Tahun 2020, Bank Indonesia (BI) diberi keleluasaan untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) jangka panjang di pasar perdana, guna membantu pemerintah membiayai penanganan dampak penyebaran virus corona atau Covid-19 terhadap stabilitas sistem keuangan.

Baca Juga: BI Turunkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,25%

Gubernur BI, Perry Warjiyo menyampaikan, total pembelian SBN oleh BI di pasar perdana sebagai tindak lanjut dari UU Nomor 2 Tahun 2020 hingga saat ini telah mencapai sekitar Rp 30,33 triliun.

“Sejak kesepakatan bersama dengan Menteri Keuangan pada 16 April lalu, BI telah melakukan pembelian SBN jangka panjang di pasar perdana sebesar Rp 30,33 triliun, baik melalui lelang utama, green shoe option, dan private placement,” kata Perry Warjiyo dalam acara Business Talk Series yang digelar Sekolah Bisnis IPB melalui webinar, Sabtu (27/6/2020).

Selain di pasar perdana, lanjut Perry, BI pada tahun ini juga telah membeli SBN di pasar sekunder yang mencapai Rp 166,2 triliun. Sedangkan untuk posisi kepemilikan SBN oleh BI per 23 Mei 2020 sebesar Rp 447,55 triliun.

Baca Juga: Cadev Meningkat Ditopang Capital Inflow

"Isu yang saat ini sedang difinalisasi adalah bagaimana pendanaan APBN bisa lebih cepat, dan juga beban kepada pemerintah lebih rendah. Intinya BI siap menyediakan pendanaan APBN dengan berbagi beban, dan BI juga siap menanggung beban yang lebih,” tegasnya.

Perry juga mengungkapkan, upaya yang telah dilakukan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah mulai memperlihatkan hasil positif. Misalnya nilai tukar rupiah yang semakin menguat ke level Rp 14.000. Aliran modal asing portofolio ke SBN juga kembali masuk, di mana sejak 14 April 2020 hingga 25 Juni 2020 berjumlah Rp 17 triliun.

"BI sudah menambah lagi quantitative easing dengan injeksi likuiditas ke perbankan dalam jumlah besar, sehingga secara total mencapai sekitar Rp 614,8 triliun,” ungkap Perry.



Sumber: BeritaSatu.com