Grup Gojek Berkomitmen Tingkatkan Skala Bisnis UMKM Kuliner

Grup Gojek  Berkomitmen Tingkatkan Skala Bisnis UMKM Kuliner
Pengojek dalam jaringan. (Foto: Antara)
Siprianus Edi Hardum / EHD Selasa, 30 Juni 2020 | 11:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Gojek Group atau Grup Gojek berkomitmen untuk meningkatkan skala bisnis para pelaku usaha usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) kuliner. Grup Gojek mengambil satu langkah lebih maju dengan menyediakan ekosistem terlengkap yang lebih dari sekadar teknologi. Salah satunya, menambahkan keterampilan para pelaku UMKM kuliner lewat platform edukasi dan berjejaring (networking), sehingga mereka memperoleh pengetahuan lebih dalam tentang berbisnis, langsung dari sesama pelaku usaha.

Demikian dikatakan Chief Food Officer Gojek Group, Catherine Hindra Sutjahyo, dalam diskusi virtual, Senin (29/9/2020) sebagaimana dalam siaran persnya, Selasa (30/6/2020).

“Pandemi ini mengajarkan kami banyak hal. Dari awal berdiri, GoFood berkomitmen untuk meningkatkan skala bisnis para pelaku usaha UMKM kuliner. Kini kami mengambil satu langkah lebih maju dengan menyediakan ekosistem terlengkap yang lebih dari sekadar teknologi. Kami juga terus menghimpun arus permintaan dengan ekspansi layanan dan kategori makanan yang disesuaikan dengan perilaku baru masyarakat saat ini,” kata Catherine.

Ia menegaskan, solusi dari Gojek dan GoFood mendukung seluruh kebutuhan usaha UMKM kuliner maupun non-kuliner, dari hulu ke hilir, mulai dari otomasi pengelolaan bisnis hingga pengantaran.

Ada pun rinciannya adalah, pertama, platform digital untuk memudahkan konsumen mencari dan mengakses produk UMKM (discovery) melalui GoFood dan GoShop.

Kedua, fasilitas dapur kolektif (cloud kitchen) didedikasikan khusus untuk mitra UMKM guna mengurangi biaya sewa dan operasional serta mendukung kebutuhan infrastruktur.

Ketiga, layanan marketplace belanja bahan baku dengan harga terjangkau, khusus bagi mitra UMKM melalui GoFresh. Keempat, opsi lengkap pembayaran nontunai yang mudah, dan dari hulu ke hilir, dengan GoPay dan Midtrans Payment Link.

Kelima, layanan logistik dan pengiriman cepat dengan GoSend Web Portal dan oleh mitra driver Gojek.
Keenam, manajemen bisnis yang lebih efisien dengan perangkat terintegrasi seperti GoBiz (aplikasi khusus merchant untuk mengelola bisnis secara mandiri), Spots (perangkat multifungsi untuk aplikasi kasir), Selly (solusi keyboard & dashboard pengelola penjualan), dan Moka (aplikasi kasir berbasis teknologi cloud).

Ketujuh, pelatihan keterampilan berwirausaha dan networking melalui wadah Komunitas Partner GoFood (Kompag) dan pelatihan berbisnis online Gojek Wirausaha.

Catherine mengatakan, solusi bisnis tersebut merupakan kelanjutan dari berbagai upaya GoFood mendukung usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sejak awal masa pandemi.

Dikatakan, untuk memaksimalkan penghasilan UMKM, GoFood menggelar berbagai inisiatif yang meningkatkan permintaan, seperti program Paket Makan Keluarga gratis dari 10.000 mitra usaha GoFood untuk 213.000 mitra driver; mengirimkan 176.000 paket makan dari mitra usaha GoFood untuk tenaga kesehatan di 15 rumah sakit rujukan Covid-19; dan program promosi Hari Kuliner Nasional (Harkulnas), di mana mitra GoFood yang berpartisipasi berhasil mencatat jumlah pesanan dan omzet lebih tinggi (12%) dibandingkan mitra di luar program.

Ia mengatakan, GoFood juga terus memperketat protokol keamanan dan menerapkan standar kesehatan dan kebersihan makanan sesuai Panduan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), agar mitra UMKM tetap menjadi andalan masyarakat.
Protokol pengantaran tanpa kontak (contactless delivery) dan GoFood Pick up (mengambil pesanan makanan sendiri di outlet kuliner) terus dijalankan guna meminimalisasi kontak langsung.

Pemilik UKM Kuliner Pempek Pistel Kiarin Bandung, Dodi Sandra mengapresiasi dukungan GoFood untuk mendukung keberlangsungan bisnis mitra merchant selama pandemi Covid-19.

“Selama masa pandemi, kami sangat terbantu dengan adanya GoFood. Kami juga terbantu dengan aplikasi/ perangkat khusus mitra merchant karena laporan penghasilan bisa langsung kita akses dengan transparan. Jadi, kita sebagai pedagang bisa fokus untuk jualan makanan yang berkualitas agar pelanggan tetap senang langganan di Pempek Pistel Kiarin,” katanya.

Sementara Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, mengatakan, sektor UMKM merupakan sektor yang paling terdampak akibat pandemi virus Covid-19. Banyak pelaku UMKM yang kehilangan pendapatan, tidak bisa mencicil pembiayaan, hingga gulung tikar karena berkurangnya pendapatan.

Teten menyatakan, ada sejumlah UMKM yang bisa memanfaatkan peluang untuk bertahan dan tumbuh, yaitu yang sudah terhubung dengan marketplace online melalui sistem digital.

Teten menjelaskan, kebijakan yang diterapkan pemerintah, membuat masyarakat berbelanja secara online. Namun demikian, menurut Teten, UMKM yang terhubung melalui sistem digital masih relatif kecil, yaitu hanya 13% atau sekitar 8 juta pelaku UMKM. Sementara 87% UMKM masih mengandalkan offline.

“Data penjualan e-commerce di Bank Indonesia, bulan lalu meningkat 18%. Bahkan Katadata mencatat lebih besar lagi, hampir 2 kali lipatnya. Kenapa bisa meningkat, karena ada kebijakan sosial distancing, PSBB WFH, orang akhirnya belanja lewat online. Sayangnya baru 13 persen, masih sedikit, atau sekitar 8 juta; 87%nnya masih offline,” tegas Teten Masduki.

Untuk itu Teten mendorong percepatan transformasi digital bagi pelaku UMKM. Teten menjelaskan, UMKM yang bertahan diharuskan melakukan adaptasi bisnis dan melakukan inovasi produk, menyesuaikan dengan permintaan pasar.

“Banyak yang banting setir dengan kebutuhan makan minuman, kebutuhan pokok, termasuk kebutuhan pribadi, minuman herbal, alat kesehatan termasuk keperluan di rumah. Ini yang bisa bertahan. KemenKopUKM sejak awal membantu adaptasi bisnis,” katanya.

Ke depan, menurut Teten, perilaku konsumen akan mementingkan barang konsumsi, terutama makanan dan minuman yang bersih dari Covid-19. Sehingga kemasan dan pengolahan higenis menjadi sangat penting.

“Ke depan kita hadapi kebiasaan baru dari perilaku konsumen, yang lebih mementingkan barang konsumsi yang bersih dari Covid-19. Ini terkait kemasan, dan pengolahan secara higenis. Belanja online menjadi tren, standar meningkat,” ujarnya.

Ia menegaskan, pihaknya akan menjalin kerja sama dengan market online melalui pelatihan-pelatihan, agar semakin banyak pelaku UMKM yang dapat memperluas akses market. Menurutnya, digitalisasi akan mendorong bisnis menjadi lebih efisien serta akses pembiayaan akan menjadi lebih mudah. Teten juga berharap GoFood bisa membangun “rumah produksi“ agar UMKM bisa bersaing dengan pebisnis besar.

“Ke depan, rekam digital akan menjadi pertimbangan untuk mengajukan pembiayaan. Seperti GoFood, yang bermitra dengan UMKM, dengan cash flow yang jelas. Data inilah yang akan memudahkan bank untuk mempertimbangkan dan memberikan pembiayaan. Kemkop dan UKM sudah lama punya ide untuk mendirikan rumah produksi bersama. Kenapa hal ini penting, karena UMKM dalam negeri harus bisa bersaing dengan memanfaatkan e-commerce. GoFood bisa memulai dengan membangun dapur bersama, yang dapat membantu mitranya, yaitu pelaku UMKM, agar lebih meringankan biaya produksinya,” tambahnya.

 



Sumber: BeritaSatu.com