Khawatir Pertumbuhan Minus, Jokowi Minta Penanganan Kesehatan dan Ekonomi Beriringan

Khawatir Pertumbuhan Minus, Jokowi Minta Penanganan Kesehatan dan Ekonomi Beriringan
Joko Widodo. (Foto: Antara)
Lenny Tristia Tambun / AB Selasa, 30 Juni 2020 | 12:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Dalam kunjungan kerjanya ke Posko Penanganan Covid-19 di Provinsi Jawa Tengah, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan kekhawatirannya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II tahun 2020 akibat pandemi Covid-19. Ia khawatir pertumbuhan ekonomi nasional minus.

“Kuartal pertama kita tumbuh 2,97 persen, masih bisa tumbuh 2,97 persen, tetapi di kuartal kedua, kita sangat khawatir bahwa kita sudah berada di posisi minus pertumbuhan ekonomi,” kata Jokowi saat memberikan arahannya di Posko Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Tengah, Selasa (30/6/2020).

Karena itu, Jokowi minta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah beserta pemerintah daerah lainnya dapat mengelola krisis dengan hati-hati. Dalam mengelola krisis, penanganan urusan kesehatan dan ekonomi harus berjalan beriringan, tidak bisa berat sebelah.

“Inilah yang harus hati-hati mengelola manajemen krisis ini agar urusan kesehatan dan ekonomi ini bisa berjalan beriringan,” ujar Jokowi.

Ia mengibaratkan mengelola krisis dengan mengendarai kendaraan bermotor. Gas dan rem harus diatur. Dengan melonggarkan gas tanpa kendali rem untuk membuat pertumbuhan ekonomi bagus, tetapi akhirnya mengakibatkan jumlah kasus Covid-19 menjadi naik.

“Jadi gas dan remnya itu betul-betul diatur. Jangan sampai melonggarkan tanpa sebuah kendali rem sehingga mungkin ekonominya bagus, tetapi Covidnya juga naik. Bukan itu yang kita inginkan,” terang Jokowi.

Yang diinginkannya adalah keseimbangan dalam manajemen krisis dalam menangani bidang kesehatan dan ekonomi. Dia berharap laju penambahan kasus positif Covid-19 dapat terkendali, tetapi pertumbuhan ekonomi juga tidak terganggu. “Covidnya terkendali, tapi ekonominya juga tidak mengganggu kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Namun, Jokowi mengakui untuk mengatur rem dan gas dalam manajemen krisis ini tidak mudah. Terbukti semua negara mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi.

“Ini bukan barang yang mudah. Semua negara mengalami dan kontraksi ekonomi terakhir yang saya terima misalnya dunia diperkirakan di tahun 2020 akan terkontraksi minus 6 persen sampai minus 7,6 persen,” papar Jokowi.

Bahkan, negara-negara besar di dunia pun mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi minus yang cukup besar. Hal ini menunjukkan pandemi Covid-19 telah membawa dampak global. Negara-negara di dunia telah masuk dalam sebuah kondisi resesi.

“Artinya apa, ini global. Dunia sudah masuk ke yang namanya resesi. Bahkan saya sampaikan tahun ini Singapura diprediksi minus 6,8 persen, Malaysia minus 8 persen, Amerika minus 9,7 persen, Inggris minus 15,4 persen, Jerman minus 11,2 persen, Prancis minus 17,2 persen, Jepang minus 8,3 persen,” ungkap Jokowi.

Oleh sebab itu, lanjut Jokowi, pemerintah pusat dan daerah harus bisa mengatur dan mengelola keseimbangan antara penanganan krisis kesehatan dan ekonomi.

“Kalau kita bisa mengatur, mengelola gas dan rem antara Covid, antara kesehatan dan ekonomi, inilah yang kita harapkan. Dan ini menjadi tanggung jawab kita semuanya, bukan hanya gubernur, bupati dan wali kota, tetapi jajaran Forkopimda, TNI, Polri dan seluruh Gugus Tugas agar betul-betul menjaga agar itu bisa berjalan dengan baik,” tutupnya.



Sumber: BeritaSatu.com