Harga Emas Tembus US$ 1.800, Tertinggi Sejak September 2011

Harga Emas Tembus US$ 1.800, Tertinggi Sejak September 2011
Ilustrasi emas. (Foto: Antara / Iggoy el Fitra)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Rabu, 1 Juli 2020 | 06:36 WIB

Chicago, Beritasatu.com- Harga emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange ditutup naik akhir perdagangan Selasa (30/6/2020) membukukan kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut karena investor tetap khawatir atas berlanjutnya penyebaran kasus Covid-19. Kenaikan ini merupakan level tertinggi sejak September 2011.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus naik US$ 19,3 atau 1,08 persen, menjadi US$ 1.800,5 per ounce.

Peningkatan kasus baru infeksi Covid-19 di banyak negara bagian AS mendorong investor beralih ke logam mulia sebagai tempat yang aman, karena mereka memperkirakan bahwa dampak ekonomi Covid-19 belum berakhir.

Baca juga: Harga Logam Mulia Antam Melonjak Rp 7.000 Per Gram

Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS Anthony Fauci dalam kesaksiannya di hadapan Komite Senat Kesehatan, Pendidikan, Perburuhan dan Pensiun AS pada Selasa (30/6/2020) memperkirakan bahwa kasus baru infeksi Covid-19 di Amerika Serikat dapat mencapai 100.000 per hari.

Emas juga menemukan dukungan dari dolar AS yang lebih lemah pada Selasa (30/6/2020).

Sebuah laporan yang dirilis oleh lembaga riset swasta Institute for Supply Management menempatkan indeks manajer pembelian Chicago pada angka 36,6 pada untuk Juni, lebih buruk dari yang diperkirakan, karena setiap angka di bawah 50 menunjukkan kondisi yang memburuk.

Indeks kepercayaan konsumen yang dirilis pada Selasa (30/6/2020) oleh lembaga riset Conference Board yang berbasis di AS naik ke level tertinggi tiga bulan pada Juni.

Emas diperdagangkan naik 12,8 persen untuk kuartal kedua, dan naik lebih dari 18 persen untuk paruh pertama tahun ini.

Logam mulia lainnya, perak pengiriman September naik 57,3 sen atau 3,17 persen, menjadi US$ 18,637 per ounce. Platinum pengiriman Oktober naik US$ 23 atau 2,78 persen, menjadi US$ 851,2 per ounce.



Sumber: Reuters