Rupiah Ditutup Melemah di Awal Juli

Rupiah Ditutup Melemah di Awal Juli
Ilustrasi rupiah. (Foto: Beritasatu Photo / Uthan A Rachim)
Lona Olavia / FER Rabu, 1 Juli 2020 | 16:59 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Di sisi nilai tukar, kurs rupiah pada perdagangan awal Juli ditutup melemah terhadap dolar AS. Nilai tukar rupiah menurut kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada perdagangan Rabu (1/7) berada di level Rp 14.341 per dolar AS dari perdagangan Selasa (30/6) kemarin di Rp 14.302 per dolar AS.

Baca Juga: Siang Ini, Rupiah Berada di Zona Negatif

"Dalam perdagangan sore ini berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah tipis 17 poin di level Rp 14.282 dari penutupan sebelumnya di level Rp 14.299. Dalam perdagangan besok rupiah kemungkinan akan menguat terbatas di level Rp 14.250-Rp 14.300,” kata Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, dalam risetnya, Rabu (1/7/2020).

Ibrahim menuturkan, setelah ditandatangani Undang-undang (UU) keamanan nasional untuk Hong Kong oleh Presiden Xi Jinping, maka ada keuntungan tersendiri bagi pasar dalam negeri yang kemungkinan aliran modal asing yang terparkir di Hong Kong akan kembali mengalir ke pasar dalam negeri, sehingga pemerintah harus melakukan evaluasi kebijakan dan menyiapkan regulasi yang bisa memudahkan pengusaha-pengusaha tersebut untuk memindahkan asetnya.

"Secara bersamaan Bank Indonesia (BI) terus berupaya untuk menstabilkan mata uang garuda dengan melakukan intervensi di pasar Valas, Obligasi dan SUN di pasar DNDF sehingga pasar kembali stabil walaupun dalam penutupan Rabu rupiah masih ditutup melemah, namun tipis,” jelasnya.

Baca Juga: Rupiah Tertekan di Tengah Penguatan Mata Uang Asia

Sementara itu, dari eksternal, penguatan dolar didukung pasar merespon positif komentar Menteri Keuangan Steven Mnuchin dan Ketua Federal Reserve Jerome Powell, dalam kesaksian di depan Komite Jasa Keuangan Dewan Perwakilan AS pada hari Selasa (30/6/2020), menyarankan kesediaan untuk berbuat lebih banyak untuk ekonomi AS karena pihaknya berjuang melawan dampak luar biasa dari wabah virus corona.

Mnuchin mengatakan, dia bekerja dengan DPR dan Senat untuk meloloskan lebih banyak bantuan virus corona pada akhir Juli, sementara Powell mengatakan The Fed dapat menurunkan batas pinjaman minimum di bawah program pinjaman Main Street di masa depan.

Di sisi lain, Dr Anthony Fauci, kepala Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular, dalam sambutannya kepada komite Senat pada hari Selasa memperingatkan tentang risiko lonjakan kasus dan mengatakan negara itu tidak boleh bankrut pada ketersediaan vaksin Covid-19 yang aman dan efektif.

AS melihat peningkatan 46 persen dalam kasus baru Covid-19 pada minggu yang berakhir 28 Juni dibandingkan dengan tujuh hari sebelumnya, dengan 21 negara melaporkan tingkat tes positif di atas tingkat yang telah ditandai oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

ISH Markit kemarin melaporkan purchasing managers index (PMI) manufaktur Negeri Tiongkok bulan Juni naik menjadi 50,9 dari bulan sebelumnya 50,6. PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas, di bawahnya berarti kontraksi dan di atasnya berarti ekspansi.

Dengan demikian, Tiongkok masih mempertahankan bahkan menambah laju ekspansi di bulan Juni, meski virus corona sempat menyerang ibu kota Beijing. Sehingga harapan akan perekonomian bisa segera bangkit kembali muncul.

 



Sumber: BeritaSatu.com