Rencana Merger Perbankan Syariah Banjir Dukungan

Rencana Merger Perbankan Syariah Banjir Dukungan
Ilustrasi Syariah Mandiri. (Foto: Dok)
Novy Lumanauw / FER Senin, 6 Juli 2020 | 16:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah mendukung rencana Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyatukan perbankan syariah milik pemerintah.

Baca Juga: Merger Bank Syariah Tingkatkan Kepercayaan Nasabah

Tokoh muda NU yang juga pengurus Pesantren Al-Mizan Majalengka, KH Maman Imanulhaq, menilai tepat rencana pemerintah untuk menggabungkan bank syariah milik BUMN, karena akan memperkuat dan membesarkan perekonomian syariah di Indonesia.

"Saya setuju atas rencana merger bank syariah. Bersatunya perbankan syariah BUMN akan berdampak positif bagi perkembangan ekonomi syariah. Ekonomi syariah akan menjadi semakin kuat dan besar,” kata KH Maman di Jakarta, pada Senin (6/7/2020).

Ia menambahkan, bersatunya perbankan syariah, selain akan menambah nilai aset dalam jumlah besar, juga melahirkan bank syariah terbesar di Indonesia. Bahkan, posisi perbankan syariah dari sisi aset akan sejajar dengan bank-bank konvensional dalam daftar Top 10 bank terbesar di Indonesia.

"Jika dilakukan merger BRI Syariah, BNI Syariah, dan Bank Syariah Mandiri, maka akan memiliki aset sekitar Rp207 triliun sehingga kita akan memiliki bank syariah terbesar di Indonesia, sejajar dengan bank-bank konvensional,” tambahnya.

Baca Juga: Indef Setuju Rencana Bank BUMN Syariah Dimerger

Sebagaimana diketahui, saat ini perbankan syariah masih jauh tertinggal dibandingkan dengan perbankan konvensional dengan market share berkisar 8 persen hingga 9 persen, padahal Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Secara terpisah, tokoh muda Muhammadiyah, Sunanto menyatakan, dukungannya bagi rencana pemerintah untuk melakukan konsolidasi perbankan syariah BUMN. Menurutnya, ini bisa jadi bank syariah besar kebanggaan umat muslim Indonesia.

"Bersatunya bank syariah ini tentu akan meningkatkan nilai aset, yang mana hal itu akan melahirkan bank ini menjadi bank syariah terbesar yang dimiliki Indonesia. Saya rasa umat muslim akan bangga bisa memiliki bank syariah yang besar,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Sunanto menyampaikan, secara umum belum ada keluhan signifikan dari umat terkait kinerja bank-bank syariah tersebut. Namun, rencana merger tetap harus dilakukan secara matang dan seksama serta tidak perlu terburu-buru, mengingat tenggat waktu yang dicanangkan Kementerian BUMN, yakni Februari 2021.

Baca Juga: BRI Syariah Dapat Tambahan Kuota KUR Rp 1,5 Triliun

"Saya melihat kinerja bank syariah masih bagus dan belum ada keluhan dari umat. Jadi kalau mau merger perlu dicatat bagaimana persiapannya, siapa target pasarnya karena ada 3 target pasar akan menjadi satu, jadi perlu dikaji apakah rencana ini bisa dilaksanakan tahun depan,” imbuhnya.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pangsa pasar keuangan syariah terhadap sistem keuangan di Indonesia per April 2020 mencapai 9,03 persen dengan total aset keuangan syariah Indonesia, tidak termasuk saham syariah, mencapai Rp 1.496,05 triliun.

Posisi ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2019 yang sebesar 8 persen per April 2020. Pemerintah menargetkan market share keuangan syariah mampu mencapai 20 persen pada rentang waktu 2023-2024.

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan sedang mematangkan rencana merger perbankan syariah milik BUMN yaitu, BRI Syariah, BNI Syariah, BTN Syariah, dan Mandiri Syariah. "Insyaallah, pada bulan Februari tahun 2021 akan menjadi satu bank syariah," kata Erick Thohir.



Sumber: BeritaSatu.com