Investor Sulit Ambil Posisi Saham MDLN karena Tunda Bayar Obligasi

Investor Sulit Ambil Posisi Saham MDLN karena Tunda Bayar Obligasi
Perumahan Kota Modern yang dikembangkan PT Modernland Realty di Kota Tangerang. (Foto: Beritasatu Photo / Istimewa)
Lona Olavia / WBP Selasa, 7 Juli 2020 | 14:10 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penundaan pembayaran pokok obligasi sebesar Rp 150 miliar oleh PT Modernland Realty Tbk (MDLN) yang jatuh tempo pada Selasa (7/7/2020) membuat saham emiten bidang real estate dan pengembangan properti Jakarta Garden City ini terpuruk hingga dihentikan sementara (suspensi) perdagangannya oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Untuk penundaan tersebut, Modernland bakal menggelar rapat umum pemegang obligasi (RUPO) pada Selasa (14/7/2020).

Saat dimintai pendapatnya mengenai prospek saham MDLN pascasuspensi dari BEI pada 7 Juli 2020, Head of Research PT Kresna Sekuritas Robertus Hardy masih memiliki pandangan negatif. "Karena selama masih belum ada kepastian mengenai pembayaran obligasi Modernland, kemungkinan besar suspensi belum akan dicabut sehingga investor masih akan sulit untuk mengambil posisi jual beli atas saham ini," ujarnya, di Jakarta, Selasa (7/7/2020).

Baca juga: BEI Hentikan Sementara Perdagangan Saham dan Obligasi Modernland

BEI melakukan penghentian sementara perdagangan saham dan obligasi MDLN di seluruh pasar sejak sesi I perdagangan efek 7 Juli 2020 hingga pengumuman selanjutnya. "Perseroan melakukan penundaan pembayaran pokok obligasi berkelanjutan I Modernland Realty Tahap I Tahun 2015 seri B yang jatuh tempo pada 7 Juli 2020 sehingga menimbulkan keraguan atas kelangsungan usaha perseroan," tulis Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 2 BEI Vera Florida dan Kepala Divisi Pengaturan Operasional Perdagangan Irvan Susandy.

Untuk informasi, obligasi yang pembayaran pokoknya bakal ditunda tersebut telah diturunkan ratingnya oleh Pefindo dari BBB- menjadi CCC. "Efek utang dengan peringkat CCC pada saat ini rentan untuk gagal bayar dan tergantung pada kondisi bisnis dan keuangan yang lebih menguntungkan untuk dapat memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya atas efek utang," kata Direktur Utama Pefindo Salyadi Saputra.

Fitch Ratings juga memangkas peringkat MDLN dari B menjadi CCC- yang mencerminkan likuiditas Modernland lemah, menimbulkan keraguan kemampuan bayar kembali obligasi senilai Rp 150 miliar yang jatuh tempo pada 7 Juli 2020. Terutama karena Modernland belum dapat mengamankan pembiayaan dari perbankan untuk membayar obligasi tersebut. Moody's juga memangkas peringkat utang MDLN dari B3 ke Caa1. Sedangkan S&P Global Rating memangkas peringkat dari CCC menjadi CCC- dan memberikan CreditWatch dengan implikasi negatif. 



Sumber: BeritaSatu.com