Rusun Pasar Jumat Ditargetkan Rampung Akhir Juli 2020

Rusun Pasar Jumat Ditargetkan Rampung Akhir Juli 2020
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera), Basuki Hadimuljono meninjau pembangunan rumah susun (Rusun) Pasar Jumat. (Foto: Beritasatu Photo / Dok. Kempupera)
Imam Muzakir / FER Selasa, 7 Juli 2020 | 19:59 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera) menyatakan, progres pembangunan rumah susun (Rusun) di Pasar Jumat sudah mencapai 90 persen. Kempupera menargetkan pembangunan rusun tersebut,, rampung pada akhir Juli 2020.

Baca Juga: Rusun Pasar Jumat Usung Konsep Hunian Terintegrasi

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera), Basuki Hadimuljono dalam kunjungan lapangan ke lokasi proyek menyatakan, dengan adanya penyediaan hunian yang layak berupa rusun dapat memberikan kontribusi nyata bagi produktivitas masyarakat dalam bekerja, sekaligus sebagai persiapan menghadapi tatanan baru atau new normal.

"Pembangunan rusun disamping untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), juga diperuntukkan bagi para mahasiswa, pelajar, santri, dan pekerja, termasuk aparatur sipil negara (ASN), TNI/Polri,” kata Basuki dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, Selasa (7/7/2020).

Basuki juga meminta kepada PT Brantas Abipraya selaku kontraktor pelaksana, untuk segera menyelesaikan pembangunan rusun tersebut dengan tetap menjaga kualitas, agar bisa dimanfaatkan ASN dengan baik.

Baca Juga: Teknologi Beton Pracetak Percepat Pembangunan Rusun

Rusun Pasar Jumat merupakan infrastruktur perumahan yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Rusun tersebut dibangun di atas lahan Komplek Perumahan Kempupera seluas 5.300 meter persegi (m2) dan berada tidak jauh dari stasiun moda transportasi berbasis rel mass rapid transit (MRT) atau moda raya terpadu di Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Kehadiran rusun berbasis transit oriented development (TOD) yang lokasinya dekat dengan transportasi publik diharapkan memberikan nilai efisiensi tinggi bagi masyarakat perkotaan, khususnya para ASN.

Diharapkan konsep hunian terintegrasi ini dapat lebih banyak dikembangkan di kota-kota besar lainnya di Indonesia, sehingga dapat menurunkan angka backlog pemilikan dan penghunian rumah sekaligus meningkatkan kualitas hunian yang layak.



Sumber: BeritaSatu.com