Go Digital Jadi Modal Pelaku UMKM Berdaya Saing

Go Digital Jadi Modal Pelaku UMKM Berdaya Saing
Ilustrasi usaha mikro, kecil, dan menengah. (Foto: Antara)
Lona Olavia / WBP Jumat, 10 Juli 2020 | 20:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Perubahan perilaku konsumen dengan mengurangi aktivitas di luar rumah terbukti memberi peluang kepada UMKM yang sudah terhubung dengan ekosistem digital untuk bertahan di tengah pandemi Covid-19. Namun sayangnya, peluang tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Pasalnya, dari sekitar 64 juta UMKM di Indonesia, baru 13 persen yang terhubung ke ekosistem digital.

Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM Ahmad Zabadi, menegaskan digitalisasi UMKM merupakan sebuah keniscayan. "Untuk itu, pemerintah telah menetapkan target digitalisasi sebanyak 10 juta UMKM di tahun 2020," kata dia dalam Urbancity.id webinar bertajuk "Koperasi dan UMKM Go Digital Di Era New Normal" di Jakarta, Jumat (10/7/2020).

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), hingga saat ini baru 8 juta UMKM yang telah terdigitalisasi. "Digitalisasi UMKM tidak hanya bisa memasarkan produk dan layanan melalui marketplace. Mereka yang sudah ada di marketplace harus bertahan dan memiliki transaksi berkelanjutan. Dari data yang kami terima, kegagalan UMKM di marketplace karena produk dan pelaku belum siap," kata dia.

Pakar Digital Marketing Adreas Agung Bawono mengimbau, perilaku konsumen yang serba online dalam memenuhi kebutuhan hariannya perlu cepat diadaptasi oleh pelaku UMKM dengan melakukan digitalisasi bisnis. “Ketika butuh sesuatu barang, kini setiap orang cukup membuka smartphone, lalu browsing di google, instagram, facebook atau youtube. Nah, ketika produk dan layanan UMKM tak tersedia pada fasilitas media sosial tersebut, maka sudah pasti akan tertinggal,” katanya.

Menyadari pentingnya digitalisasi, Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Ryan Kiryanto mengungkapkan, BNI kian memantapkan langkah transformasi menjadi perbankan digital, termasuk di antaranya membuat Program Klaster bagi para pelaku UMKM. Kisah sukses Program Klaster BNI ini dicatat dalam buku bertajuk "Inovasi Pengembangan UMKM melalui Klaster Binaan Unggulan". Langkah nyata yang BNI lakukan dalam digitalisasi layanan bagi UMKM dilakukan dalam bentuk pengembangan teknologi informasi pendukung diantaranya digital loan processing.

Dalam rangka menyukseskan digitalisasi pengembangan UMKM, BNI juga bekerja sama dengan start up untuk penyaluran kredit dan pembentukan ekosistem finansial berbasis digital, terutama untuk klaster UMKM pada sektor produksi. Kerja sama yang dilakukan BNI dalam mengembangkan UMKM antara lain dengan PT ARUNA. Kerja sama ini berjalan dalam bidang perikanan yaitu digunakan untuk membangun ekosistem finasial konsep Rumah Nelayan Indonesia.

Adapun pada sektor pertanian, BNI berkolaborasi dengan PT Agri Tekno Karya pemilik Aplikasi HARA. Kerja sama ini memungkinkan dilakukannya digitalisasi ekosistem bisnis petani dan pengembangan konsep Rumah Tani Indonesia. “Konsep Rumah Nelayan dan Rumah Tani Indonesia adalah untuk mengembangkan value chain ecosystem base yang berfungsi sebagai penyedia data digital nelayan dan petani dan pusat transaksi untuk memenuhi semua kebutuhannya,” jelasnya.

Pengembangan Digitalisasi yang dilakukan BNI ini sambungnya juga mendukung pengembangan UMKM melalui program klaster berbasis tekonologi digital. Hal ini mulai membantu dalam percepatan penyaluran kredit ke nelayan dan petani, terutama dalam program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Terlihat pada portofolio penyaluran KUR BNI dengan skema klaster pada tahun 2019 yang telah mencapai Rp 5,9 triliun yang menyentuh lebih dari 94.000 pelaku UMKM di seluruh Indonesia.



Sumber: BeritaSatu.com