Tiga Faktor Koperasi di Indonesia Belum Berkembang Signifikan
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

HUT Ke-73 Koperasi

Tiga Faktor Koperasi di Indonesia Belum Berkembang Signifikan

Minggu, 12 Juli 2020 | 15:05 WIB
Oleh : Lona Olavia / EHD

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) Suroto menilai, kondisi koperasi Indonesia di era digital ekonomi saat ini belum signifikan. Tercatat, kontribusinya baru 2,5% terhadap GDP dan jumlah anggota koperasi sesungguhnya hanya mencapai 15.200 atau 10% dari yang diklaim pemerintah sebanyak 152.000.

Di mana, sisanya itu merupakan koperasi palsu yang semestinya perlu dibubarkan pemerintah supaya tidak mengganggu 10% yang benar tersebut. "Dari model perusahaan canggih seperti ini, sayangnya banyak koperasi palsunya yang didirikan oleh pengusaha yang menipu masyarakat, makanya muncul kasus Langit Biru, Pandawa dan sebagainya," katanya Sabtu (11/7/2020).

Koperasi menurutnya punya prospek yang bagus, karena konsumen jadi pemilik dari perusahaan. Ia pun menilai, setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan koperasi di Indonesia tidak berkembang. Pertama, paradigma atau cara pandang masyarakat terhadap koperasi yang baik masih sangat minim.

Kedua, regulasi. Sehingga, undang-undang koperasi perlu direvisi, misalnya saja jumlah orang yang mendirikan cukup dipangkas dari 20 menjadi minimal 3 orang. Selain itu, undang-undang yang lain juga tidak boleh diskriminasi terhadap koperasi. "Misalnya undang-undang BUMN yang mewajibkan semua BUMN harus berbadan hukum PT, kenapa tidak koperasi jadi dimiliki oleh masyarakat. Listrik di Amerika itu dikelola oleh satu koperasi yang dimiliki pelanggannya, namanya NFCA yang beroperasi di 51 negara bagian mereka," katanya.

Ketiga, minimnya kemauan pemerintah untuk mengembangkan kelembagaan atau ekosistem koperasi. Di mana, sistem pendidikan dan research and development, kebijakannya tidak mendorong supaya ekosistem koperasi menjadi mainstream.

Lebih lanjut, kata Suroto, modernisasi koperasi saat ini sudah mutlak di mana digitalisasi koperasi yang tidak hanya melayani simpan pinjam atau rebranding perlu didorong ke arah ekonomi digital.

"Semua orang kalau dengar koperasi pasti di-mindset mereka simpan pinjam, padahal koperasi di negara lain itu bergerak di semua sektor termasuk layanan publik yang dikembangkan melalui basis koperasi," katanya.

Koperasi, sambungnya sebenarnya merupakan terjemahan dari sistem demokrasi yang menciptakan keadilan atau pemerataan ekonomi. Jika konsep tersebut diterapkan benar maka rasio ketimpangan atau gini ratio akan rendah.

Ia pun mencontohkan, koperasi di Singapura yang bernama NTUC (National Trade Union Congress atau Federasi Serikat Buruh Singapura) Fair Price yang kini mengelola ratusan toko, supermarket dan outletnya yang tersebar di berbagai pelosok Singapura dengan pangsa pasar 64% dan dimiliki oleh 800.000 warga Singapura diharapkan bisa menjadi benchmark dari pengembangan koperasi di Indonesia.

"NTUC berbasis anggota dan benar-benar menjadi pemilik, dan mereka paham betul soal koperasi, koperasi juga milik dia bukan hanya sekedar nasabah. Makanya, membangun ekosistem melalui edukasi menjadi amat penting," ujar Suroto.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA LAINNYA

Spektra Fair Lebarkan Sayap ke 65 Kota Besar Indonesia

Spektra Fair yang digelar FIF Group di 65 kota besar di Indonesia mulai tanggal 25 September 2021 hingga 2 Oktober 2021.

EKONOMI | 25 September 2021

Atasi Kemacetan, Pembangunan Jalur Puncak 2 Dinilai Perlu Segera Dilanjutkan

Pembangunan Jalur Puncak 2 yang menyambungkan Bogor dan Cianjur via Sentul terhenti sejak 2014 harus dilanjutkan.

EKONOMI | 25 September 2021

Antam Bangun Rumah Klinik Oksigen di Kawasan Pongkor

Pembangunan rumah klinik oksigen merupakan salah satu komitmen Antam dalam membantu mempercepat penanganan covid-19 di sekitar wilayah unit bisnis perseroan.

EKONOMI | 25 September 2021

Pemeliharaan Jalan Lintas Timur Sumatera Optimalkan Pembiayaan SBSN

Pemeliharaan jalan yang menggunakan dana SBSN dilaksanakan pada ruas Simpang Penawar-Gedong Aji Baru-Rawajitu dan Pematang Panggang-Simpang Bujung Tenuk.

EKONOMI | 25 September 2021

Ralali.com Gelar Gebyar Hasil Tani Bersama Mitra BUMDes Nusantara

Ralali.com berupaya membantu mewujudkan sistem pangan berkelanjutan melalui pemberdayaan hasil tani yang berkualitas.

EKONOMI | 25 September 2021

Saleh Husin Kedatangan Sahabat dari NTT

Managing Director Sinarmas Saleh Husin kedatangan tamu, sahabatnya dari Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT).

EKONOMI | 25 September 2021

Berdikari Raih Pinjaman Rp 100 Miliar dari BJB untuk Transformasi Pangan

PT Berdikari (Persero) mendapat fasilitas pinjaman sebesar Rp 100 miliar dari BJB.

EKONOMI | 25 September 2021

Harga Emas Menguat karena Pelemahan Dolar

Harga emas di pasar spot naik 0,2% menjadi US$ 1.746,84 per ons.

EKONOMI | 25 September 2021

Pekan Ini IHSG Naik 39 Poin, Kapitalisasi Bursa Meningkat Rp 91 Triliun

IHSG pada pekan ini periode 13-17 September 2021 naik 39 poin (0,63%) menuju 6.133,246 dari posisi 6.094,873.

EKONOMI | 25 September 2021

Harga Minyak ke Level Tertinggi 3 Tahun karena Ketatnya Pasokan

Brent berjangka naik 84 sen, atau 1,1%, menjadi US$ 78,09 per barel.

EKONOMI | 25 September 2021


TAG POPULER

# Kivlan Zen


# Pilpres 2024


# Covid-19


# Azis Syamsuddin


# Kereta Jarak Jauh



TERKINI
Polri: Ada 6 Calon Tersangka Dugaan Penganiayaan M Kace, Salah Satunya Napoleon

Polri: Ada 6 Calon Tersangka Dugaan Penganiayaan M Kace, Salah Satunya Napoleon

NASIONAL | 10 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings