BCA Dorong Sektor Riil untuk Cegah Resesi

BCA Dorong Sektor Riil untuk Cegah Resesi
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja (kanan) didampingi jajaran direksi lainnya dalam "Hangout with BCA" secara virtual di Jakarta, Senin (13/7/2020). (Foto: Beritasatu Photo / Whisnu Bagus)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Senin, 13 Juli 2020 | 13:44 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berkomitmen menggerakkan sektor riil melalui pemberian kredit untuk mencegah resesi di tengah pandemi Covid-19.

"Debitur per debitor harus kita amati kesehatan keuangannya, tidak bisa disamaratakan. Kita perlu mencari peta baru, mana yang survive," kata Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dalam "Hangout with BCA" secara virtual di Jakarta, Senin (13/7/2020).

Dia mengatakan, BCA tidak memfokuskan pada sektor tertentu yang menerima kucuran kerdit. Namun perseroan akan mengkaji lebih mendalam debiturnya. "Kalau secara kalo kasat mata, ada food industry, ada sektor kesehatan, tetapi tetap kita pilah-pilah," kata dia.

Baca juga: BCA Masuk 100 Merek Paling Bernilai di Dunia Versi BrandZ

Menurut Jahja, sektor patiwisata seperti hotel, dan maskapai terkena dampak signifikan Covid-19. Namun bukan berarti BCA tidak mau membiayai sektor tersebut. "Sektor pariwisata tutup semua, apakah BCA tdak masuk sama sekali, tidak juga, ada juga debitur-debitur yang punya rekam jejak bagus, misalnya ada hotel yang cashflow-nya bagus, misal mereka butuh renovasi tetap kita support mereka butuh bayar gaji," kata Jahja.

Menurut dia, nasabah harus bisa meyakinkan BCA bahwa mereka butuh pertolongan. "Jadi kita tidak terpaku pada satu sektor, tapi pada sektor dan nasabah per nasabah," kata jahja.

Jahja optimistis dengan menggerakkan perekonomian, maka bisa mencegah Indonesia pada jurang resesi di 2020. "Kita di kuartal I-2020 masih positif, kalau kuartal kedua negatf wajar, kalau positif bagus banget," kata Jahja.

Menurut Jahja, poin kritikalnya ada di kuartal III-2020. Dia berharap, dengan diberlakukan secara gradual pembatasan soisal berskala besar (PSBB) transisi, maka bisnis mulai back to new normal. "Restoran buka hanya 50 persen kapasitas, masuk toko bergantian, hambaran-hambatan itu masih ada, tetapi bisnis paling tidak sudah mulai menggeliat, diharapkan ini memberikan sinyal positif, kalo pun negatif tidak terlalu dalam," kata dia.



Sumber: BeritaSatu.com