Realisasi Program PEN Minim

Indef Ingatkan Ancaman Kontraksi Ekonomi Lebih Dalam

Indef Ingatkan Ancaman Kontraksi Ekonomi Lebih Dalam
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati .
 (Foto: Beritasatu Photo / Herman)
Herman / FER Senin, 13 Juli 2020 | 16:23 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati mengingatkan adanya potensi kontraksi pertumbuhan ekonomi yang semakin dalam pada triwulan III 2020.

Baca Juga: Bantuan Berbentuk Sembako Bisa Matikan Usaha Kecil

Hal ini berkaca dari realisasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang masih sangat minim, ditambah lagi dengan adanya peningkatan kasus baru Covid-19 yang terus tinggi dalam beberapa hari terakhir.

Pada triwulan I 2020 lalu, ekonomi Indonesia hanya tumbuh 2,97 persen. Sedangkan di triwulan II 2020, pemerintah memprediksi ekonomi Indonesia akan minus 3,1 persen.

"Selama kebijakan-kebijakan perlindungan sosial dan juga pemulihan ekonomi nasional tidak tepat sasaran, potensi pertumbuhan yang negatif atau terjadinya kontraksi ekonomi kemungkinan besar tidak hanya terjadi di triwulan II," kata Enny Sri Hartati di sela peluncuran buku 'Pandemi Corona: Virus Deglobalisasi' di Jakarta, Senin (13/7/2020).

"Bila ini tidak segera dibenahi dan re-focusing menangani persoalan-persoalan yang konkret, besar kemungkinan triwulan III tidak hanya tetap negatif, tetapi kontraksinya bisa jauh lebih besar," tambahnya.

Baca Juga: Reshuffle Tim Ekonomi Kabinet Dinilai Perlu Dilakukan

Enny menyampaikan, sumber pertumbuhan ekonomi terbesar adalah konsumi rumah tangga. Sehingga program pemulihan ekonomi yang dijalankan harus betul-betul memperhatikan efektifitasnya dalam mendorong daya beli masyarakat.

Namun, optimisme pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, menurut Enny, harus tetap ada. Sikap tersebut, juga harus dibarengi dengan kerja keras dan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat.

"Bila masyarakat tidak punya kreativitas beradaptasi terhadap pandemi, pasti resesi yang kita hadapi ini akan berkepanjangan. Tetapi kalau kita bersatu padu, masyarakatnya kreatif, pemerintahnya juga efektif, pelaku usahanya juga tidak manja, pasti badai ini akan cepat berlalu,” imbuhnya.

Enny juga mengingatkan, pandemi Covid-19 bukanlah hal yang biasa. Bukan hanya memunculkan adaptasi kebiasaan baru atau new normal, pandemi ini juga banyak memunculkan norma-norma baru. Bahkan tatanan ekonomi dunia juga akan berubah secara signifikan.

Baca Juga: Indef Setuju Rencana Bank BUMN Syariah Dimerger

"Ini harus menjadi pemahaman pemangku kepentingan, terutama elite di pemerintahan, legislatif dan eksekutif untuk paham betul. Mereka harus benar-benar beradaptasi terhadap kebutuhan-kebutuhan dengan adanya norma baru setelah pandemi Covid-19 ini," kata Enny.

 

 



Sumber: BeritaSatu.com