Jokowi: "Beruntung" Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II "Hanya" Minus 4,3%

Jokowi:
Deretan gedung bertingkat di Jakarta, Kamis, 14 Mei 2020. (Foto: Beritasatu Photo / Ruht Semiono)
Lenny Tristia Tambun / FMB Rabu, 15 Juli 2020 | 22:50 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II/2020 akan minus 4,3 persen. Kondisi seperti ini merupakan dampak dari merebaknya pandemi virus corona atau Covid-19 di Indonesia. Padahal laju ekonomi nasional pada kuartal I/2020 masih bertumbuh positif, sebesar 2,97 persen.

“Beruntung sekali, kita sekarang ini, kondisi ekonomi kita, meskipun di kuartal kedua pertumbuhannya kemungkinan, ini dari hitungan pagi tadi yang saya terima, minus ke 4,3 (persen). Di kuartal pertama kita masih positif 2,97 persen," kata Jokowi di hadapan para gubernur se-Indonesia di Istana Kepresidenan Bogor, Rabu (15/7/2020), dikutip dari situs resmi Sekretariat Kabinet.

Meski pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal II/2020 mengalami minus, Jokowi menilai kondisi tersebut masih lebih baik dibandingkan bila pemerintah mengambil kebijakan lockdown. Bila kebijakan itu diambil, ia memastikan pertumbuhan ekonomi nasional akan lebih terpuruk, bahkan bisa mencapai minus 17 persen.

“Saya enggak bisa bayangin kalau kita dulu lockdown mungkin bisa minus 17 persen,” ujar Jokowi.

Mantan Gubernur DKI ini menegaskan selalu mengikuti perkembangan pertumbuhan ekonomi dunia dan negara-negara yang mengalami pandemi Covid-19. Dia mendapatkan informasi dari Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva, bahwa pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan akan terjun ke angka minus 2,5 persen.

Kemudian, lanjut Jokowi, Presiden Bank Dunia David Malpass justru memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia akan bertengger di angka minus 5 persen. Terakhir, OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) memprediksikan pertumbuhan ekonomi global bisa minus 7,6 persen.

“Di tahun 2020, perkiraan-perkiraan itu sudah berubah total. Terakhir yang saya terima dari OECD, Perancis di angka minus 17,2 persen, Inggris minus 15,4 persen, Jerman minus 11,2 persen, Amerika Serikat minus 9,7 persen. Minus semuanya. Enggak ada yang plus semuanya. Padahal di awal, IMF itu memperkirakan masih plus, yang plus itu Tiongkok, India, Indonesia,” ungkap Jokowi.

Oleh sebab itu, Jokowi meminta kepada para Gubernur agar "rem" dan "gasnya" ini diatur betul. Jangan sampai tidak terkendali. Pemerintah tidak bisa hanya memberikan "gas" pada sektor ekonomi saja, tetapi tidak pada pengendalian Covid-19 karena akan membuat pertumbuhan kasus positif Covid-19 semakin naik. 



Sumber: BeritaSatu.com