Pandemi, Buana Lintas Proyeksi Laba Bersih Naik 3,5 Kali Lipat

Pandemi, Buana Lintas Proyeksi Laba Bersih Naik 3,5 Kali Lipat
Direktur Utama PT Buana Lintas Lautan Tbk, Wong Kevin (kiri) dalam paparan publik perseroan, di Jakarta, Jumat (28/6/2019). (Foto: Beritasatu Photo / Whisnu Bagus)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Kamis, 16 Juli 2020 | 09:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -Emiten kapal tanker minyak dan gas, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) memproyeksi hingga akhir 2020 laba bersih akan meningkat 3,5 kali lipat dari tahun 2019. Sementara EBITDA pada tahun 2020 diperkirakan akan melebihi 2,5 kali lipat dari tahun 2019. Pandemi Covid-19 membuat permintaan penyewaan kapal tanker meningkat.

Direktur Utama PT Buana Lintas Lautan Tbk Kevin Wong mengatakan perusahaan melanjutkan strategi berimbang menggabungkan pendapatan usaha dari stabilnya kontrak time-charter dengan margin laba dari kerja sama pool operator. "Selain itu, didukung tarif sewa internasional pada kuartal kedua tahun 2020," Kevin dalam keterangan tertulisnya Kamis (16/7/2020).

Baca juga: Terima Kapal Tanker ke-7 di 2020, Kapasitas BULL Jadi 2,3 Juta DWT

Dia mengatakan, pada kuartal kedua tahun 2020 BULL menerima tiga kapal besar sehingga menjadikan total 33 armada dengan kapasitas sebesar 2,3 juta tonase bobot mati (dead weight tonnage/DWT). Faktor lain yang meningkatkan kinerja Buana Lintas adalah dampak positif Covid-19. Pandemi telah meningkatkan permintaan kapal tanker untuk penyimpanan minyak terapung. Kondisi ini sempat mencapai titik tertinggi dimana lebih 400 kapal tanker digunakan untuk penyimpanan minyak terapung yang merupakan 10 persen dari armada tanker global. "Ini lebih dari mengimbangi penurunan konsumsi dan produksi minyak karena penutupan ekonomi dunia dan lockdown," kata Kevin.

Kevin mengatakan dinamika ini tercermin pada tingkat time charter equivalent (TCE) Buana Lintas yang melonjak di kuartal kedua 2020 dari kuartal pertama tahun 2020. TCE rata-rata kapal tanker Long Range 2 (LR2) atau kapal tanker ukuran sekitar 110,0000 DWT meningkat 74,8 persen. Sedangkan TCE rata-rata untuk kapal tanker Handy (kapal tanker ukuran sekitar 30,000 - 40,000 DWT) turun menjadi 11,6 persen sejalan dengan tren sebagian besar permintaan penyimpanan minyak terapung terkonsentrasi di segmen kapal tanker besar. "Mengingat bagusnya proyeksi itu, nilai pasar kami saat ini masih belum sepenuhnya mencerminkan kinerja perseroan karena PER tetap serendah 3,0 - 3,5x dan EV/EBITDA 3,5x - 4,0x," kata Kevin.

Namun dampak Covid-19 membuat pelabuhan-pelabuhan tidak beroperasi, termasuk negara pembangun dan reparasi kapal terbesar, seperti Tiongkok, Korea, Jepang, Singapura, yang menyebabkan penundaan pengiriman kapal baru yang sedang dibangun serta docking pemeliharaan. "Hal ini mengakibatkan antrean kapal yang melaksanakan docking pemeliharaan dan berhenti kerja sampai 30 hari dalam beberapa bulan ke depan, atau setara dengan 5 persen dari armada tanker global," kata dia.

Bahkan selama Juni 2020 saja, jumlah kapal yang sedang melaksanakan docking pemeliharaan 84 persen lebih banyak dari Mei 2020. "Sebanyak enam VLCC sedang melaksanakan docking pemeliharaan selama Juni dibandingkan dengan hanya satu pada Mei," kata dia.

Menurut perkiraan Braemar ACM, lockdown akibat Covid-19 juga menutup semua galangan scrap kapal, sehingga banyak kapal yang terpaksa tetap dioperasikan, padahal seharusnya sudah dibesituakan.

Sementara pemulihan permintaan minyak Tiongkok telah meningkatkan permintaan menjadi 13 juta barel per hari pada kuartal kedua dan diperkirakan akan lebih tinggi lagi YoY mulai kuartal ketiga 2020, menurut Wood Mackenzie. Kondisi ini menyebabkan kepadatan pelabuhan dengan jumlah kapal yang menunggu untuk membongkar muatan meningkat dari kurang 10 kapal pada April menjadi lebih 70 kapal pada Juni 2029. Situasi ini diperkirakan akan berlangsung selama dua hingga tiga bulan karena impor Tiongkok yang tetap kuat.

Ketika ekonomi negara lain dibuka kembali, maka akan meningkatkan permintaan minyak dan kepadatan pelabuhan di seluruh dunia akan meningkat. Permintaan bahan bakar India yang telah turun 60 persen diperkirakan akan kembali ke tingkat pra-pandemi pada bulan September 2020. Bahkan di Amerika Serikat permintaan BBM telah pulih ke tingkat prapandemi pada bulan Juli 2020.

Adapun IEA memperkirakan produksi OPEC+ akan naik 2 juta barel per hari pada Agustus 2020 dan 2,7 juta barel per hari mulai kuartal ketiga 2020 hingga kuartal keempat 2020. Produsen shale oil Amerika Serikat juga diperkirakan akan meningkatkan produksi sebesar 1,5 juta barel per hari sejak Agustus. Bersama pulihnya produksi minyak Libya yang menambahkan total 0,9 juta barel minyak per hari tambahan, dalam waktu dekat akan ada tambahan 4,4 - 5,1 juta barel minyak per hari produksi yang akan meningkatkan permintaan kapal tanker. "Melihat besarnya peluang itu, maka tarif kapal tanker internasional diperkirakan akan tetap tinggi hingga akhir tahun 2020 dan berlanjut hingga tahun 2021," kata Kevin Wong.



Sumber: BeritaSatu.com