22 Provinsi Alami Kenaikan Angka Kemiskinan Akibat Covid-19

22 Provinsi Alami Kenaikan Angka Kemiskinan Akibat Covid-19
Angka Kemiskinan per Provinsi di Indonesia per Maret 2020 (Foto: Dok SP)
Herman / JAI Kamis, 16 Juli 2020 | 13:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan sekitar 22 dari 34 provinsi di Indonesia mengalami kenaikan angka kemiskinan pada Maret 2020, akibat dampak pandemi virus corona (Covid-19). Jumlah penduduk miskin di wilayah perkotaan dan pedesaan juga meningkat antara 7% sampai 12%.

Ke-22 provinsi yang mengalami peningkatan penduduk miskin adalah DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Banten, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Begkulu, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Kepualauan Riau, NTB, NTT, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Papua.

“Dari 34 provinsi di Indonesia, 22 provinsi mengalami kenaikan persentase kemiskinan, dan seluruh provinsi di Pulau Jawa mengalami kenaikan, di mana yang tertinggi adalah DKI Jakarta yang naik 1,11%, Jawa Barat 1,06% dan Banten 0,98%,” kata Kepala BPS Suhariyanto, di Jakarta, Rabu (15/7/2020).

Menurut Suhariyanto, total penduduk miskin Indonesia per Maret 2020 mencapai 26,42 juta orang, meningkat 1,63 juta orang (0,56%) dibandingkan September 2019, dan meningkat 1,28 juta orang (0,37%) dibandingkan Maret 2019.

Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2020 sebesar 7,38%. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan 12,82%. Dibanding September 2019, jumlah penduduk miskin Maret 2020 di daerah perkotaan naik sebanyak 1,3 juta orang menjadi 11,16 juta orang. Sementara itu, daerah perdesaan naik sebanyak 333,9 ribu orang menjadi 15,26 juta orang.

“Masih ada disparitas kemiskinan yang cukup tinggi antara kota dan desa, di mana kemiskinan di desa persentasenya selalu lebih tinggi dibandingkan di kota,” ujar Suhariyanto.

Dia melanjutkan, pada Maret 2020, garis kemiskinannya tercatat sebesar Rp 454.652 per kapita/bulan dengan komposisi garis kemiskinan makanan sebesar Rp 335.793 (73,86%) dan garis kemiskinan bukan makanan sebesar Rp 118.859 (26,14%).

Secara rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,66 orang anggota rumah tangga. Sehingga besarnya garis kemiskinan per rumah tangga miskin secara rata-rata adalah sebesar Rp 2.118.678/rumah tangga miskin/bulan.

Selain itu, penduduk hampir miskin yang bekerja di sektor informal mencapai 12,15 juta orang (Susenas, Maret 2019). Kelompok ini merupakan kelompok penduduk yang rentan terhadap kemiskinan dan paling terdampak dengan adanya pandemi Covid-19.

Suhariyanto memaparkan, beberapa faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan selama periode September 2019–Maret 2020 antara lain pandemi Covid-19 akibat pembatasan sosial yang melumpuhkan dunia usaha dan menyebabkan gelombang pemutusan hubugan kerja (PHK).

Hal itu, juga berdampak pada pengeluaran konsumsi rumah tangga pada Produk Domestik Bruto (PDB) Kuartal I 2020 yang melambat, di mana pengeluaran konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 2,84% dibandingkan periode yang sama tahun 2019 yang sebesar 5,02%.

“Gelombang PHK menyebabkan banyak keluarga kehilangan penghasilan, sehingga berpengaruh pada pengeluaran konsumsi rumah tangga,” kata Suhariyanto.



Sumber: Suara Pembaruan