Cegah Resesi, Pemerintah Akan Belanja Besar-besaran
Logo BeritaSatu
INDEX

BISNIS-27 513.203 (12.46)   |   COMPOSITE 6241.8 (96.72)   |   DBX 1333.51 (-4.33)   |   I-GRADE 179.858 (4.62)   |   IDX30 503.524 (12.19)   |   IDX80 135.789 (3.05)   |   IDXBUMN20 398.467 (11.15)   |   IDXESGL 139.553 (2.87)   |   IDXG30 143.497 (2.32)   |   IDXHIDIV20 443.737 (10.85)   |   IDXQ30 144.387 (3.38)   |   IDXSMC-COM 295.459 (3.14)   |   IDXSMC-LIQ 360.139 (5.51)   |   IDXV30 133.969 (2.79)   |   INFOBANK15 1035.98 (42.34)   |   Investor33 433.033 (11.5)   |   ISSI 183.362 (0.39)   |   JII 631.454 (-0.28)   |   JII70 222.641 (0.54)   |   KOMPAS100 1216.23 (23.8)   |   LQ45 944.747 (22.97)   |   MBX 1692.89 (31.73)   |   MNC36 320.866 (7.93)   |   PEFINDO25 330.28 (-1.79)   |   SMInfra18 307.272 (6.07)   |   SRI-KEHATI 367.359 (11)   |  

Cegah Resesi, Pemerintah Akan Belanja Besar-besaran

Rabu, 29 Juli 2020 | 12:26 WIB
Oleh : Herman / FMB

Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, agar terhindar dari ancaman resesi, pemerintah harus melakukan langkah extraordinary untuk mendorong pemulihan ekonomi di kuartal III dan IV tahun 2020. Belanja pemerintah secara besar-besaran akan didorong, sehingga permintaan dalam negeri meningkat dan dunia usaha tergerak untuk berinvestasi. Karenanya, dukungan untuk dunia usaha harus segera dipercepat implementasinya.

“Belanja pemerintah didorong sebagai salah satu penggerak dan pengungkit perekonomian agar di semester kedua tahun 2020, kita bisa memperbaiki pertumbuhan ekonomi dari minus menjadi nol atau positif,” kata Menko Airlangga saat memberi sambutan di acara penandatanganan perjanjian kerja sama Program Penjaminan Korporasi dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), Rabu (29/7/2020).

Airlangga menyampaikan, penyebaran wabah Covid-19 sejauh ini belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Aktivitas ekonomi global pun belum akan kembali ke normal seperti masa sebelum pandemi. Berbagai lembaga internasional memperkirakan kontraksi pada tahun 2020 pada kisaran -4,9% dengan -7,6%.

Seperti dialami sebagian besar negara di dunia, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2020 melambat menjadi 2,97%. Pada Kuartal ke-2 tahun 2020, tekanan ekonomi diproyeksikan akan semakin berat dan mengalami kontraksi. “Di akhir tahun, kita berharap bisa keluar dari krisis atau zona negatif ini,” imbuhnya.

Airlangga pun kembali menegaskan, Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional dibentuk untuk mengintegrasikan kebijakan kesehatan dan ekonomi, sehingga penanganan kesehatan dan pemulihan ekonomi dapat berjalan beriringan dan terintegrasi dalam satu kelembagaan. Akan tetapi, harus dipahami bersama bahwa penanganan kesehatan tetap menjadi prioritas.

Dukungan Swasta
Ditambahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, saat ini pemerintah tengah fokus mengakselerasi belanja-belanja pemerintah. Untuk penanganan Covid-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), realisasi dari anggaran Rp 695,20 triliun juga terus ditingkatkan. Begitu juga dengan belanja kementerian/lembaga yang mencapai lebih dari Rp 836 trilun, serta belanja-belanja pemerintah lainnya yang bila ditotal mencapai Rp 2.739 triliun.

“Dari sisi demand, kita gunakan seluruh instrumen untuk memulihkan daya beli masyarakat. Selain yang Rp 695,20 triliun, plus belanja-belanja pemerintah lainnya, jadi total kita harus membelanjakan Rp 2.739 triliun sampai dengan akhir tahun ini,” kata Sri Mulyani.

Tetapi meskipun belanja penanganan Covid-19 dan PEN dan belanja-belanja pemerintah lainnya terus digenjot, Sri Mulyani mengatakan tidak mungkin ekonomi Indonesia bisa bangkit kembali tanpa dukungan korporasi sektor swasta.

Karenanya, pemerintah kembali memberikan dukungan kepada pelaku usaha, kali ini korporasi padat karya, berupa penjaminan kredit dengan plafon di atas Rp 10 miliar hingga Rp 1 triliun. Melalui penjaminan kredit ini, harapannya perbankan tidak lagi ragu untuk menyalurkan kreditnya.

“Perbankan di dalam proses yang hati-hati melakukan restructuring. Karena mereka melihat risiko meningkat, mereka mempunyai likuditas tetapi tidak menyalurkan (kredit) karena melihat risiko. Perusahan yang melakukan restrukturisasi atau tidak melakukan restrukturisasi melihat kondisi ekonomi yang belum pulih juga menahan diri untuk tidak meminjam kredit modal kerja. Kalau dua-duanya menunggu, tidak ada katalis, ekonomi berhenti,” kata Sri Mulyani.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Pengelolaan Dana Peserta, BP Tapera Tetapkan Dua Acuan Utama

Investasi aman dan transparansi menjadi acuan BP Tapera dalam pengelolaan dana peserta.

EKONOMI | 29 Juli 2020

Rupiah Berbalik Melemah ke Rp 14.500-an

urs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan siang hari ini, Rabu (29/7/2020), terpantau melemah ke kisaran Rp 14.500.

EKONOMI | 29 Juli 2020

Sesi I, IHSG Terkoreksi 0,22%

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,22 persen ke kisaran 5.101,73 pada akhir sesi pertama perdagangan hari ini, Rabu (29/7/2020).

EKONOMI | 29 Juli 2020

OJK Akan Perpanjang Masa Restrukturisasi Kredit yang Terdampak Covid-19

Pada Oktober mendatang, OJK akan mengumumkan masa perpanjangan dari program restrukturisasi kredit bagi debitur yang terdampak Covid-19.

EKONOMI | 29 Juli 2020

Program Penjaminan Kredit Korporasi Diluncurkan

Lewat penjaminan ini, perbankan diharapkan bisa menyalurkan kredit modal kerja hingga Rp 100 triliun sampai tahun 2021.

EKONOMI | 29 Juli 2020

Harga Bitcoin Kembali Tembus US$ 10.000 Didorong Kebijakan OCC

Harga Bitcoin kembali melewati US$ 11.200 atau Rp 162 juta pada Selasa (27/7/2020).

EKONOMI | 29 Juli 2020

Amartha Catatkan Tingkat Keberhasilan Pengembalian 100% di Wilayah Sumatera

Tingkat Keberhasilan Pengembalian Amartha dengan nilai riil 100% berhasil diraih di wilayah Sumatera.

EKONOMI | 29 Juli 2020

Kebijakan Pemda Tak Sejalan dengan Pemerintah Pusat

Selama pandemi Covid-19, beban operasional penyelenggara jaringan dan operator telekomunikasi mengalami peningkatan signifikan.

EKONOMI | 29 Juli 2020

Kurs Rupiah Menguat ke Rp 14.400-an

Kurs rupiah berada di level Rp 14.460,5 per dolar AS atau terapresiasi 74,25 poin (0,51 persen) dibandingkan perdagangan sebelumnya Rp 14.535.

EKONOMI | 29 Juli 2020

IHSG Melemah di Awal Perdagangan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,39 persen ke kisaran 5.093,23 pada awal perdagangan hari ini, Rabu (29/7/2020).

EKONOMI | 29 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS