Minus 9%, Resesi Hong Kong Empat Kuartal Berturut-turut

Minus 9%, Resesi Hong Kong Empat Kuartal Berturut-turut
Foto yang diambil dari South China Morning Post (SCMP) Rabu (5/2/2020) pagi memperlihatkan ribuan warga Hong Kong mengantre untuk mendapatkan masker kesehatan (surgical mask). (Foto: SCMP)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Kamis, 30 Juli 2020 | 13:51 WIB

Hong Kong, Beritasatu.com - Hong Kong mengalami resesi karena perekonomiannnya terkontraksi minus untuk empat kuartal berturut-turut karena pandemi virus corona (Covid-19) dan ketegangan politik. Resesi itu merupakan yang pertama dalam satu dekade.

Dikutip Bloomberg Kamis (30/7/2020), pada kuartal kedua 2020, ekonomi Hong Kong mengalami kontraksi atau minus 9 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy) menurut Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong. Angka itu lebih buruk dari perkiraan sebesar minus 8,3 persen sekaligus mengikuti kontraksi minus 9,1 persen yang direvisi pada kuartal pertama 2020.

Baca juga: Kasus Covid-19 Pecahkan Rekor, Pembatasan di Hong Kong Diperketat

Pemerintah dalam keterangannya menyebutkan lonjakan kasus Covid-19 baru-baru ini telah mengaburkan prospek jangka pendek kegiatan ekonomi domestik. "Meski demikian, setelah epidemi lokal terkendali dan lingkungan eksternal terus membaik, ekonomi Hong Kong diharapkan secara bertahap akan pulih di sisa tahun ini," kata pernyataan pemerintah 

Hong Kong melaporkan 118 kasus Covid-19 pada Rabu (29/7/2020), sehingga total infeksi menjadi 3.002, kata pejabat Departemen Kesehatan Chuang Shuk-Kwan pada sebuah konferensi.

Situasi ekonomi secara keseluruhan agak stabil selama kuartal ini, terutama pada Mei dan Juni ketika virus sebagian besar terkendali, kata pemerintah. Pada basis penyesuaian kuarta ke kuartal, ekonomi mengalami kontraksi 0,1 persen dalam tiga bulan hingga Juni.

Perang dagang AS dan Tiongkok dan protes anti-pemerintah mendorong kota ke dalam resesi pada paruh kedua tahun 2019. Kemudian pandemi global tahun ini mengikis sektor pariwisata, menghancurkan industri ritel, makanan, minuman dan industri perhotelan.

"Sebagai pusat keuangan internasional yang bergantung pada arus penumpang dan barang, angka ini merangkum kontraksi tajam pariwisata," kata Kepala Ekonom Australia & Selandia Baru Banking Group Ltd, Raymond Yeung.

Kontraksi pada kuartal dua 2020 ini menandai empat kuartal berturut-turut ekonomi Hong Kong minus, menyamai periode setelah krisis keuangan global. Ekonomi Hong Kong mulai terlihat menurun sejak kuartal II-2019. Secara basis kuartalan (quartal to quartal /qtq), ekonomi negara itu minus 3,8 persen. Meski demikian, di basis tahunan (YoY), angkanya masih mengalami pertumbuhan 0,4 persen. Pada kuartal III-2019, pembacaan awal menunjukkan ekonomi kota itu kembali mencatatkan perlambatan. Di mana ekonomi minus -2,8 persen (YoY). Pada kuartal IV-2019, ekonomi Hong Kong terkontraksi minus 3,04 persen (YoY). Pada kuartal I-2020 ekonomi Hong Kong minus 9,1 persen. Perlambatan itu kembali terjadi di kuartal-II 2020 di mana ekonominya mencatatkan kontraksi minus 9 persen (YoY) .

Tingkat pengangguran kota telah melonjak ke level tertinggi 15 tahun, membuat ribuan orang kehilangan pekerjaan dan kaum miskin kota semakin rentan. Penjualan ritel kemungkinan mengalami penurunan dua digit lagi pada Juni, menurut perkiraan data yang akan dirilis Kamis. "Kami melihat banyak restoran kecil tutup dan pengangguran akan meningkat menjadi sekitar 8 persen," kata Kepala Ekonom ING Bank NV, Iris Pang.

Adapun saat ini tingkat pengangguran di 6,2 persen.

Masa depan Hong Kong sebagai pusat keuangan Asia dipertanyakan setelah Beijing memberlakukan Undang-Undang Keamanan Nasional pada akhir Juni. Hal ini membat AS mencabut status khusus kota itu. Tekanan lebih lanjut pada perekonomian adalah upaya menahan gelombang infeksi virus, karena pemerintah memberlakukan pembatasan industri restoran dan membatasi pertemuan publik. "Diperlukan waktu lebih lama dari yang diperkirakan untuk memulihkan ekonomi," kata Sekretaris Keuangan Paul Chan dalam posting blog 26 Juli di situs webnya.



Sumber: Bloomberg