Insurtech Dorong Penetrasi Asuransi

Insurtech Dorong Penetrasi Asuransi
Ilustrasi Asuransi. (Foto: Istimewa)
Lona Olavia / FER Kamis, 30 Juli 2020 | 18:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penerapan teknologi digital di asuransi lebih jauh diharapkan dapat mendorong penetrasi asuransi di Indonesia yang masih relatif rendah. Melalui produk-produk asuransi yang lebih sederhana dan klaim yang bisa dilakukan secara digital, diharapkan dapat menepis kesan bahwa asuransi rumit dan sulit diklaim.

Baca Juga: Restrukturisasi Akulaku Capai Rp 47,3 Miliar

Deputy Komisioner Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) II Otoritas Jasa Keuangan (OJK), M Ihsanuddin mengatakan, literasi asuransi pertumbuhannya masih lambat, sejalan dengan penetrasinya yang juga masih rendah. Namun, hal itu berbeda dengan Pegadaian dan financial technology (Fintech) yang kini bertumbuh cukup pesat.

"Untuk itu, melalui digitalisasi di industri asuransi melalui kehadiran insurtech (insurance technology) yang bisa menawarkan produk dan layanan asuransi melalui platform digital, diharapkan bisa mendorong penetrasi asuransi di kalangan milenial," ujar Ihsanuddin, dalam acara webinar 'Peluang dan Tantangan Asuransi di Era Digital', Kamis (30/7/2020).

 

Apalagi, kata Ihsanuddin, keberadaan insurtech dapat meminimalkan biaya, sehingga lebih efisien dan efektif dalam proses bisnis asuransi. 

"Selama ekonomi belum membaik atau income masyarakat belum pulih, dan industri asurasi belum sehat, tidak mudah memasarkan asuransi. Apalagi ditengah kondisi ekonomi yang saat ini mengalami kontraksi ditambah dengan model bukan face to face," tegasnya.

Baca Juga: Tugu Insurance Terus Kembangkan Platform Digital

Director and Chief of Partnership Distribution Officer PT Asuransi Allianz Life Indonesia, Bianto Surodjo, mengakui, digitalisasi dapat membantu asuransi untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas. Pesatnya perkembangan sistem pembayaran akan diikuti pula oleh industri asuransi. Dengan demikian, jika mau berkembang lebih cepat, maka asuransi harus memasukkan ekosistem digital.

"Di asuransi umum sudah berjalan, menempelkan asuransi perjalanan ke platform perjalanan. Allianz juga sudah memulai menerapkan ini dengan bekerja sama dengan bukalapak misalnya, untuk menawarkan asuransi kesehatan dan jiwa," kata Bianto Surodjo.

Sementara itu, chairman Infobank Institute, Eko B Supriyanto mengatakan, insurtech untuk saat ini baru sebatas potensi, namun memiliki potensi yang sangat besar. "Asuransi akan baik kalau ekonominya baik, namun ekonomi sendiri saat ini masih terkontraksi," kata Eko.

Baca Juga: Bijak Atur Kondisi Keuangan di Masa Pandemi



Menurut Eko, asuransi saat ini masih dibayangi risiko reputasi akibat gagal bayar yang terjadi di beberapa asuransi. Karena itu, penting bagi OJK untuk dapat mengatur lebih hat-hati industri ini dengan pendekatan resiko.

"Saya berharap, OJK sudah mulai membuat beberapa aturan, bukan mengetatkan tetapi memang asuransi harus diatur lebih ketat dan lebih jelas. Karena asuransi juga menjaring dana masyarakat," tandas Eko.

Sebagai negara dengan pengguna internet yang besar dan sangat aktif terutama oleh para kaum milenial, insurtech dikatakannya menjadi solusi dalam mendorong penetrasi dan pertumbuhan asuransi di Indonesia. Berdasarkan data OJK, jumlah aset asuransi sampai dengan Mei 2020 mencapai Rp 1.313 triliun, tumbuh 1,43 persen secara year on year (yoy). Adapun pangsanya mencapai 53,02 persen dari total aset IKNB yang mencapai Rp 2.476 triliun.



Sumber: BeritaSatu.com