Hari Kemerdekaan RI Momentum Dorong Pakai Produk Lokal
Logo BeritaSatu
INDEX

BISNIS-27 502.788 (4.65)   |   COMPOSITE 6122.88 (45.91)   |   DBX 1370.08 (6.4)   |   I-GRADE 175.932 (2.01)   |   IDX30 492.65 (5.36)   |   IDX80 132.743 (1.46)   |   IDXBUMN20 383.43 (5.77)   |   IDXESGL 136.189 (1.17)   |   IDXG30 136.661 (1.31)   |   IDXHIDIV20 439.142 (4.16)   |   IDXQ30 142.658 (1.28)   |   IDXSMC-COM 284.07 (1.29)   |   IDXSMC-LIQ 340.315 (4.03)   |   IDXV30 130.843 (1.67)   |   INFOBANK15 1002.8 (10.83)   |   Investor33 425.077 (4.4)   |   ISSI 180.015 (1.37)   |   JII 610.57 (6.12)   |   JII70 214.597 (2.04)   |   KOMPAS100 1179.92 (12.31)   |   LQ45 924.668 (10.2)   |   MBX 1646.91 (13.21)   |   MNC36 314.484 (3.35)   |   PEFINDO25 314.75 (0.73)   |   SMInfra18 301.265 (1.98)   |   SRI-KEHATI 359.316 (3.43)   |  

Hari Kemerdekaan RI Momentum Dorong Pakai Produk Lokal

Jumat, 7 Agustus 2020 | 11:04 WIB
Oleh : Herman / FMB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri menyampaikan, Pemerintah perlu mengambil momentum semangat Hari Kemerdekaan untuk mendeklarasikan memakai produk dalam negeri. Dengan begitu, diharapkan industri di Indonesia yang ikut dihantam pandemi Covid-19 bisa kembali bergerak karena produk-produknya banyak yang terserap.

“Ini saya rasa jadi kunci utama untuk recovery ekonomi, supaya industri kita kembali bangkit. Alangkah sayangnya ketika pemerintah selama pandemi ini sudah menyubsidi industri dan masyarakat untuk meningkatkan daya beli, ternyata yang dibeli barang-barang impor," kata Firman Bakri, Jumat (7/8/2020).

Bila yang digunakan lebih banyak barang-barang impor, Firman mengatakan yang diuntungkan hanyalah industri atau pabrik yang berada di luar negeri.

"Padahal kita di sini di pabrik dalam negeri harus menghidupi tenaga kerja, supplier kita, masyarakat di sekitar pabrik. Jadi perlu ada gerakan untuk mendorong memakai produk dalam negeri dengan membangun perspektif dari sisi konsumen. Ini penting supaya industri kita kembali bangkit dan tidak lagi banyak terjadi PHK," tuturnya.

Iklim Investasi
Firman juga menilai salah satu permasalah yang membuat angka pengangguran di Indonesia masih tinggi dikarenakan iklim investasi yang tidak kompetitif dibandingkan negara pesain di ASEAN. Padahal investasi sangat penting untuk mendorong penciptaan lapangan kerja yang semakin besar. Salah satu contohnya kenaikan upah di beberapa daerah di Indonesia yang lebih tinggi dibandingkan beberapa negara pesain di ASEAN.

“Masalah ketenagakerjaan seperti upah ini pada akhirnya menaikkan ongkos produksi, sehingga harga jual produk menjadi lebih tinggi. Tentu ini akan memengaruhi pertimbangan buyer. Kalau produk yang kita hasilkan tidak bisa terserap karena kalah bersaing, ini pada akhirnya juga akan memengaruhi nasib tenaga kerja,” kata Firman.

Ia memberi contoh adanya relokasi pabrik dari Banten ke Jawa Tengah lantaran Upah Minimum Kabupaten/Kota dan Upah Minimum Sektoral di Banten yang lebih tinggi dan menjadi beban berat pengusaha. PHK massal yang belum lama ini terjadi di pabrik sepatu di Tangerang alasan utamanya juga karena masalah daya saing yang tidak kompetitif.

“Ini isu ketenagakerjaan yang sangat krusial. Makanya saat perang dagang kemarin antara Amerika Serikat dan Tiongkok, kita tidak bisa mengambil peluangnya. Justru Vietnam yang mendapatkan benefit. Untungnya kemarin relokasi pabrik dari Banten tetap di Indonesia. Tetapi ini memperlihatkan bahwa memang ada masalah dalam isu ketenagakerjaan kita,” kata Firman.

Segera disahkannya RUU Cipta Kerja menurutnya sangat penting, supaya iklim investasi di Indonesia menjadi lebih kompetitif. Apalagi selain masalah ketenagakerjaan, hal lainnya yang juga menghambat investasi lantaran banyaknya aturan yang tumpang tindih. Ditambah lagi dengan proses perizinan yang panjang.

Hal senada disampaikan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN) Ristadi. Menurutnya, masih tingginya angka pengangguran di Indonesia disebabkan oleh lambannya pertumbuhan industri manufaktur. Padahal industri tersebut paling banyak menyerap tenaga kerja. Di sisi lain, daya saing produk yang dihasilkan menurutnya juga banyak tertinggal negara kompetitor. Hal ini berkaitan dengan alih teknologi yang berjalan lamban. Misalnya saja di industri garmen.

“Di sini, masih banyak industri garmen yang bertahan dengan teknologi lama. Sementara Vietnam, Banglades, dan juga Tiongkok sudah lebih cepat melakukan modernisasi. Sehingga pabrik di Indonesia misalnya dalam satu jam hanya mampu memproduksi 100 meter kain, negara pesaing kita itu bisa memproduksi dua sampai tiga kali lipatnya. Ini pada akhirnya memengaruhi harga jual, di mana masyarakat lebih memilih produk impor yang murah. Karena produk dalam ini tidak banyak terserap, pabrik di Indonesia akhirnya tidak berkembang dan tidak bisa melakukan ekspansi tenaga kerja, bahkan malah melakukan PHK,” kata Ristadi.

Dengan banyaknya angka pengangguran, angka kemiskinan pun ikut meningkat lantaran tidak ada lagi penghasilan untuk bertahan hidup. “Kalau pengguran meningkat, otomatis angka kemiskinan juga meningkat. Dan yang paling tidak kita inginkan bisa meningkatnya angka kriminal akibat itu,” kata Ristadi.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Peruri Fungsionalkan 2 Gudang untuk Usaha Kreatif M Bloc Space

“Peruri memberikan sentuhan teknologi digital terhadap UMKM yang menjadi bagian dari pengembangan M Bloc fase kedua melalui produk digital Peruri."

EKONOMI | 7 Agustus 2020

Burden Sharing, BI Serap Utang Pemerintah Rp 82,1 Triliun

Bank Indonesia (BI) melakukan transaksi pembelian surat utang negara (SUN) secara private placement sebesar Rp 82,1 triliun.

EKONOMI | 7 Agustus 2020

Ini Sentimen-sentimen Penggerak IHSG

Menurut riset Valbury Sekuritas Indonesia IHSG diperkirakan bergerak mixed dengan peluang menguat pada perdagangan hari ini.

EKONOMI | 7 Agustus 2020

Kurs Rupiah Melemah Kembali ke Rp 14.600

Kurs rupiah berada di level Rp 14.610 per dolar AS atau terdepresiasi 25 poin (0,17 persen) dibandingkan perdagangan sebelumnya Rp 14.585.

EKONOMI | 7 Agustus 2020

Rawan Ambil Untung, IHSG Dibuka Melemah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,27 persen ke kisaran 5.164,43 pada awal perdagangan hari ini, Jumat (7/8/2020).

EKONOMI | 7 Agustus 2020

Bursa Asia Mixed Jelang Rilis Neraca Perdagangan Tiongkok

Nikkei 225 Tokyo turun 0,33 persen, Indeks Komposit Shanghai turun 0,02 persen, S&P/ASX 200 Australia turun 0,54 persen, dan Kospi Korsel naik 0,49 persen.

EKONOMI | 7 Agustus 2020

Belum Ada Tanda-tanda Melambat, Harga Emas Terus Ukir Rekor

Di pasar spot, harga emas naik 0,5 persen ke US$ 2079,6 per troy ons. Di pasar berjangka, harga emas naik 1 persen ke US$ 2069,4.

EKONOMI | 7 Agustus 2020

Irak Setuju Pangkas Produksi, Harga Minyak Mentah Naik

Pagi ini, harga minyak mentah dunia jenis WTI terpantau naik 0,45 persen ke US$ 42,14 per barel, sementara Brent naik 0,33 persen ke US$ 45,24 per barel.

EKONOMI | 7 Agustus 2020

Proyeksi Bank Sentral Inggris Membuat Bursa Eropa Melemah

ursa Eropa ditutup melemah pada perdagangan Kamis (6/8/2020) setelah Bank sentral Inggris (BoE) menahan suku bunga di level terendah sepanjang masa 0,1 persen.

EKONOMI | 7 Agustus 2020

Wall Street Lanjutkan Tren Positif

Dow Jones Industrial Average menguat 0,7 persen, indeks S&P 500 naik 0,6 persen, dan Nasdaq naik 1 persen menembus level 11.000 untuk pertama kalinya.

EKONOMI | 7 Agustus 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS