Ini Syarat Menuju Indonesia Emas 2045
Logo BeritaSatu

Ini Syarat Menuju Indonesia Emas 2045

Jumat, 21 Agustus 2020 | 16:34 WIB
Oleh : Herman / WBP

Jakarta, Beritasatu.com – Ekonom senior dan pendiri Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Hendri Saparini menilai Indonesia perlu melakukan reformasi ekonomi menuju Indonesia emas 2045. Pasalnya dalam perjalanan 75 tahun kemerdekaan, Indonesia masih menghadapi banyak masalah yang belum dituntaskan.

Sejumlah permasalahan strategis ekonomi yang dihadapi Indonesia antara lain pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, namun pada tingkat medioker (mediocre); ekonomi didominasi konsumsi rumah tangga, namun ada kesenjangan; peran ekspor dan investasi relatif rendah; ekspor didominasi komoditas primer, manufaktur mengalami premature deindustrialisasi; business linkage antara usaha besar dan UMKM minim; tingkat kemudahan berbisnis yang rendah; kemampuan penciptaan lapangan kerja terbatas, dan pengangguran serta pekerja informal meningkat; tidak ada lompatan pendapatan per kapita; dan lainnya.

“Kenapa kita perlu melakukan reformasi ekonomi? Karena kalau kita lihat di usia kemerdekaan 75 tahun, dibandingkan negara lain yang usia kemerdekaannya hampir sama dengan kita seperti Jepang, Korea Selatan, dan yang lain, mereka tidak menghadapi permasalahan ekonomi seperti yang dihadapi Indonesia. Bahkan mereka sudah masuk sebagai negara maju. Kalau pun belum, sudah menjadi negara kelas menengah tinggi. Sementara kita masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan,” kata Hendri Saparini dalam diskusi virtual betajuk “75 Tahun Merdeka, Saatnya Reformasi Ekonomi”, Jumat (21/8/2020).

Hendri memberi contoh, berbagai negara banyak yang melakukan lompatan ekonomi untuk menjadi negara maju dan juga memangkas kesenjangan. Sementara di Indonesia rata-rata pertumbuhan ekonominya justru semakin turun.

“Bila di tahun 1990-an kita mampu tumbuh di atas 7 persen, tetapi sekarang ini justru pertumbuhan kita rata-rata 5 persen dan mengarah ke bawah. Tentu saja ini menjadi pekerjaan rumah besar. Tidak mungkin Indonesia yang sedang menghadapi kemajuan dan sedang membangun, kemudian tren pembangunan kita seperti ini. Berarti memang harus diakui secara jujur bahwa ada yang salah,” kata Hendri.

Bila berbagai pekerjaan rumah yang menghambat pertumbuhan ekonomi tidak segera diselesaikan, maka cita-cita untuk menuju Indonesia emas pada 2045 akan menjadi sulit dicapai. “Tahun emas 2045 itu tinggal 25 tahun lagi atau lima periode pemerintahan saja. Kalau kita tidak berani mereformasi ekonomi atau memperbaiki struktur, kita memang akan tumbuh, tetapi akan ada kesenjangan yang besar,” kata Hendri.

Dengan melihat kinerja pembangunan ekonomi selama 25 tahun terakhir, menurutnya cukup sulit memimpikan bahwa pada tahun 2045 Indonesia akan memiliki pendapatan sebesar Rp 320 juta per kapita bila tanpa reformasi dan terobosan.

“Untuk menuju 2045 hanya tinggal lima periode. Kalau lima periode ini dipenuhi dengan kecenderungan setiap periode membuat quick wins, walaupun ini boleh, tetapi tidak boleh quick wins yang tidak berkelanjutan. Semestinya kalau 2045, maka yang lima tahun ini quick wins-nya apa, tetapi mengarah pada posisi di 2045. Tetapi sekarang ini banyak yang datang di tengah-tengah, tidak konsisten dan yang penting ada quick win-nya. Kalau begini terus, kita tidak akan sampai pada tujuan yang utama,” kata Hendri.

Hendri menilai dua permasalahan utama yang dihadapi Indonesia saat ini adalah terkait paradigma atau cara pandang, dan teknis strategis. “Misalnya terkait isu pengangguran yang masih tinggi, ada yang berpendapat ini disebabkan karena mereka tidak bisa bersaing di pasar tenaga kerja, jadi ya wajar kalau mereka menganggur. Kalau paradigmanya adalah negara wajib menciptakan lapangan pekerjaan bagi seluruh masyarakat untuk penghidupan yang lebih baik, kalau pun mereka tidak bisa bersaing karena pendidikan dan keterampilannya rendah, tetap harus diberikan lapangan kerja yang sesuai dengan mereka. Jadi ada kekeliruan di dalam cara pandang,” kata Hendri.

Lemahnya demokrasi ekonomi menurutnya jadi masalah besar, sehingga terjadi kesenjangan asset dan akses. Juga kebijakan tidak memberikan ruang yang adil bagi masyarakat untuk terlibat dalam ekonomi.

Sementara terkait masalah yang sifatnya teknis strategis antara lain karena Indonesia lalai atau lamban dalam membangun berbagai sektor industri (supply) untuk memenuhi konsumsi rumah tangga yang tumbuh tinggi dan untuk menciptakan nilai tambah serta lapangan kerja luas bagi masyarakat. Pascakrisis 1998, struktur industri melambat (deindustrialisasi), makin rapuh sehingga memiliki ketergantungan impor tinggi.

Akhirnya, potensi yang ada (SDM dan SDA) terus menjadi potensi karena tidak memiliki visi dan strategi besar yang komprehensif dan konsisten untuk memanfaatkannya. Alhasil tidak menghasilkan nilai tambah, tidak mampu menciptakan lapangan kerja yang luas, pendapatan pajak tumbuh lambat, tidak dapat meningkatkan pendapatan, dan lainnya. Menurut Hendri, solusi dari berbagai masalah tersebut tidak boleh parsial. Harus secara komprehensif yang didalamnya kental paradigma serta kebijakan strategis secara teknikal.

Langkah konkret yang menurutnya bisa dilakukan adalah menyiapkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 25 Tahun 2020 -2045. Saat ini Indonesia memiliki RPJP 2005-2025. “RPJP akan habis dalam empat tahun ini. Melihat urgensinya, harus ada langkah terobosan. Kalau kita menunggu sampai 2025, artinya sampai 2045 hanya tinggal 20 tahun. Sementara sekarang inilah dengan adanya Covid-19, semua berubah dan kita memerlukan RPJP yang baru. Yang dituju dalam RPJP 2020-2045 adalah pertumbuhan ekonomi harus tinggi, berkualitas, dan berkelanjutan,” tegas Hendri.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Bursa Asia Menguat di Tengah Data Klaim Pengangguran AS

Indeks Komposit Shanghai menguat 0,5 persen menjadi 3.380,68.

EKONOMI | 21 Agustus 2020

Capital Financial Akan Terbitkan Obligasi Rp 1 Triliun

Dana obligasi digunakan untuk memperkuat struktur permodalan anak usaha.

EKONOMI | 21 Agustus 2020

KKP Kerja Sama dengan KBI Manfaatkan Resi Gudang Komoditas Ikan

Pemanfaatan resi gudang ikan oleh KKP ini akan membantu menguatkan dan meningkatkan peranan UMKM sektor kelautan dan perikanan.

EKONOMI | 21 Agustus 2020

Amartha Luncurkan Layanan “A Star” dengan Opsi Pendanaan Lebih Rendah

Layanan A* memberikan opsi pendanaan dengan tenor yang lebih singkat dengan plafon pendanaan rendah.

EKONOMI | 21 Agustus 2020

BNI Hong Kong Salurkan Kredit HK$ 2 Juta untuk Importir Produk Indonesia

BNI Hong Kong memberikan kredit sebesar HK$ 2 juta berupa modal kerja dan fasilitas trading kepada Surya Trading Ltd.

EKONOMI | 21 Agustus 2020

Program PKT Kempupera Telah Serap 163.003 Tenaga Kerja

Tahun ini PUPR mengalokasikan anggaran sebesar Rp 3,34 triliun untuk Program Padat Karya Tunai (PKT) di 14.618 lokasi.

EKONOMI | 21 Agustus 2020

Konsumsi BBM di Jabar, DKI, dan Banten Hampir Kembali Normal

Konsumsi BBM pada masa transisi tatanan baru tahap II di wilayah MOR III telah mencapai 91% dari konsumsi pada masa normal, yakni periode Januari – Februari.

EKONOMI | 21 Agustus 2020

Kempupera Targetkan Subsidi Perumahan 287.000 Unit

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera) akan terus meningkatkan jumlah rumah tangga yang menghuni hunian layak dari 56,75% menjadi 70%.

EKONOMI | 21 Agustus 2020

Ikuti Pergerakan Wall Street, Bursa Asia Dibuka Menguat

Nikkei 225 Tokyo naik 0,92 persen, Indeks Komposit Shanghai turun 0,03 persen, S&P/ASX 200 naik 0,37 persen, Kospi naik 0,33 persen.

EKONOMI | 21 Agustus 2020

Bursa Eropa Ditutup Melemah

Indeks Stoxx600 turun 1,07 persen, DAX Jerman turun 1,14 persen, FTSE Inggris turun 1,61 persen, CAC Prancis turun 1,33 persen.

EKONOMI | 21 Agustus 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS