Targetkan Substitusi Impor 35%, Pemerintah Harus Benahi Jaringan Distribusi
INDEX

BISNIS-27 532.645 (7.32)   |   COMPOSITE 6373.41 (52.28)   |   DBX 1200.38 (10.17)   |   I-GRADE 185.572 (2.14)   |   IDX30 530.591 (7.15)   |   IDX80 143.3 (1.72)   |   IDXBUMN20 436.746 (5.96)   |   IDXESGL 146.832 (2.28)   |   IDXG30 145.313 (1.45)   |   IDXHIDIV20 465.476 (6.56)   |   IDXQ30 150.721 (1.83)   |   IDXSMC-COM 298.62 (0.11)   |   IDXSMC-LIQ 374.87 (3.31)   |   IDXV30 150.9 (1.31)   |   INFOBANK15 1063.78 (12.96)   |   Investor33 452.728 (6.96)   |   ISSI 189.451 (0.89)   |   JII 667.742 (5.19)   |   JII70 234.615 (1.43)   |   KOMPAS100 1279.35 (14.89)   |   LQ45 988.752 (13.06)   |   MBX 1764.22 (14.4)   |   MNC36 335.71 (4.77)   |   PEFINDO25 340.233 (2.1)   |   SMInfra18 325.434 (6.29)   |   SRI-KEHATI 386.573 (6.54)   |  

Targetkan Substitusi Impor 35%, Pemerintah Harus Benahi Jaringan Distribusi

Senin, 24 Agustus 2020 | 13:46 WIB
Oleh : Herman / JAI

Jakarta, Beritasatu.com - Untuk mencapai target substitusi impor 35% pada 2022, pemerintah harus membenahi linkage atau jaringan distribusi antara penghasil bahan baku dengan industri di hilir. Pasalnya, pemasok bahan baku lokal cenderung mencari pasar sendiri, sedangkan industri di hilir lebih banyak mengimpor.

Menurut ekonom Institute for Development of Economics and finance (Indef), Bhima Yudhistira, pembenahan jaringan distribusi sangat penting untuk menghubungkan industri hilir dengan pemasok lokal, sekaligus untuk menata persaingan harga dengan pemasok dari luar negeri.

Bhima Yudhistira menjelaskan, selama ini industri di hilir banyak yang tidak mengetahui kalau ada penghasil bahan baku di dalam negeri, misalnya untuk bidang tekstil dan otomotif, sehingga lebih memilih mengimpor karena lebih mudah atau bahkan harganya lebih murah.

Dengan menghubungkan distribusi antara industri hilir dan pemasok, lanjutnya, hal itu bukan hanya membangun efisiensi produksi apalagi di saat pandemi Covid-19 saat ini, tetapi juga dapat menjadi introspeksi bagi pemasok bahan baku lokal untuk meningkatkan kualitas dan bersaing dari sisi harga.

“Kadang dari segi kualitas baik barang, quality control, biaya produksi maupun pengiriman, pemasok lokal kalah bersaing dengan barang impor. Ini yang mungkin bisa dibantu oleh Pemerintah, mulai dari insentif untuk efisiensi produksi, kemudian pengembangan kapasitas produksinya agar unit produksinya bisa lebih murah, dan juga pembenahan biaya logistik. Sebab kadang mengambil bahan baku dari negara lain seperti di Tiongkok biayanya justru lebih murah,” kata Bhima Yudhistira, Minggu (23/8).

Masalah lain yang perlu menjadi perhatian pemerintah adalah kebijakan yang tegas terkait pengamanan masuknya barang-barang impor. Misalnya dari sisi proyek infrastruktur, porsinya harus dibatasi, seperti berapa persen TKDN-nya dan berapa persen barang impornya. Tanpa pembatasan itu, menurutnya pemain lokal akan sulit bersaing.

“Jumlah non-tariff barrier Indonesia juga masih rendah, masih di bawah 1.000 jenis. Sementara negara lain seperti Amerika Serikat sudah lebih dari 4.000 jenis, negara Eropa sekitar 6.000 jenis. Negara-negara tetangga kita juga sudah di atas 2.000 jenis. Ini perlu menjadi perhatian,” ujar Bhima Yudhistira.

Namun bukan berarti Indonesia menutup diri terhadap barang-barang impor. Prinsipnya menurut Bhima adalah barang-barang yang masih bisa diproduksi di dalam negeri, itulah yang perlu dibatasi.

“Ini yang perlu dipetakan oleh Pemerintah. Bisa jadi barang-barang yang selama ini kita impor ternyata ada pemasoknya juga di Indonesia. Tetapi karena masalah daya saing dan biaya logistik, sehingga lebih banyak melakukan impor,” kata Bhima Yudhistira.

Seperti diketahui, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Kementerian Perindustrian saat ini tengah fokus menjalankan strategi pencapaian target substitusi impor hingga 35% pada 2022 sebagai langkah pemulihan ekonomi nasional.

Guna mewujudkan sasaran tersebut, antara lain melalui peningkatan investasi baru, implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0, serta optimalisasi program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).

“Kondisi pandemi Covid-19 membuat kita menyadari perlunya pendalaman struktur industri. Sehingga perlu upaya tepat untuk mengatasi ketergantungan impor,” kata Agus Gumiwang Kartasasmita.



Sumber: Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Aparat Diminta Tegas Terhadap Impor Baja Ilegal

Adanya pemalsuan SNI terhadap produk besi baja, apalagi berkualitas rendah, tentu mengganggu dan membahayakan proyek srategis nasional.

EKONOMI | 24 Agustus 2020

Emas Antam Turun ke Rp 1,023 juta Per Gram

Untuk pecahan 500 gram: Rp 481,820 juta.

EKONOMI | 24 Agustus 2020

Sri Mulyani Lantik 11 Pimpinan Tinggi Pratama di Lingkungan Kemkeu

Usaha kecil menengah adalah tulang punggung perekonomian Indonesia.

EKONOMI | 24 Agustus 2020

Sesi Siang, IHSG Naik 7 Poin ke 5.279

Sebanyak 208 saham naik, 202 saham melemah dan 154 saham stagnan.

EKONOMI | 24 Agustus 2020

Ditopang Infrastruktur, Pengiriman Paket SiCepat Tembus 1 Juta Per Hari

SiCepat telah memperkuat layanan infrastruktur dengan menambah hampir 1.000 gerai.

EKONOMI | 24 Agustus 2020

Awal Sesi, Rupiah Turun di Tengah Penguatan Mata Uang Asia

Transaksi rupiah pagi ini diperdagangkan dalam kisaran Rp 14.775-Rp 14.774 per dolar AS.

EKONOMI | 24 Agustus 2020

Awali Perdagangan, IHSG di Sekitar Garis Datar

Pukul 09.10 WIB, indeks harga saham gabungan naik 4,3 poin (0,08 persen) menjadi 5.277.

EKONOMI | 24 Agustus 2020

Harga Minyak Flat Saat Sejumlah Negara Terapkan Lockdown

Brent sedikit di atas garis datar mencapai US$ 44,36 per barel.

EKONOMI | 24 Agustus 2020

Bursa Asia Terpangkas di Tengah Aturan Baru Bursa Tiongkok

Di Jepang, Nikkei 225 turun tipis, sementara indeks Topix mendatar di awal perdagangan.

EKONOMI | 24 Agustus 2020

IHSG Berpotensi Tertekan, Simak Rekomendasi Sahamnya

Secara teknikal IHSG perdagangan hari ini akan bergerak di rentang 5.225 - 5.310.

EKONOMI | 24 Agustus 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS