Para Peternak Ayam Terpaksa Menjual di Bawah Harga Normal
Logo BeritaSatu

Para Peternak Ayam Terpaksa Menjual di Bawah Harga Normal

Jumat, 28 Agustus 2020 | 19:36 WIB
Oleh : Hendro Situmorang / FMB

Jakarta, Beritasatu.com - Akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan para peternak ayam yang berada di wilayah Jawa Barat, Tangerang, dan DKI Jakarta, terancam tak bisa melanjutkan usaha mereka lantaran harga jual yang hingga saat ini berada jauh di bawah harga pokok produksi peternak.

Bayangkan saja, para peternak dipaksa untuk rela melepas hasil ternak mereka dengan harga Rp 9.500 - Rp 10.000/kg, padahal menurut Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 7 tahun 2020, harga ayam di tingkat peternak seharusnya berada di level Rp 19.000-21.000/kg.

Kondisi ini memang tak terlepas dari pandemi Covid-19 yang terjadi sejak awal tahun 2020 kemarin. Turunnya permintaan di pasaran, membuat harga ayam hidup anjlok hingga jauh di bawah harga normal. Namun sejak dua tahun belakangan, peternak sebenarnya sudah dipaksa untuk melepas hasil ternak mereka di bawah harga normal.

“Bulan Agustus 2020 ini tepat 2 tahun harga ayam hidup di tingkat peternak atau kandang di bawah biaya produksi (Rp 17.500/kg). Sementara harga aktual di kandang sekarang ini di kisaran Rp 10.000/kg. Berapa kerugian yang harus ditanggung para peternak kecil mandiri, sehingga para peternak kecil mandiri sudah banyak yang gulung tikar atau tutup usahanya, bahkan meninggalkan jumlah utang yang banyak baik kepada supplier atau ke bank,'' ujar Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN), Kadam Wijayai pada keterangannya Jumat (28/8/2020).

Menurut Ketua Harian Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sigit Prabowo, perlu ada ketegasan dari pemerintah mengenai tata kelola niaga perunggasan. Selain itu, pemerintah juga perlu melakukan pengawasan, sehingga perusahaan integrator menyerap hasil produksinya ke rumah potong hewan unggas (RPHU) sendiri dan mengolah hasil produksinya, tidak bersaing di pasar becek dengan pelaku UMKM.

“Diterbitkan Regulasi khusus yang mempertajam dan memperjelas kewajiban hilirisasi di mata rantai industri perunggasan, Perusahaan integrator agar menyelesaikan integrasinya yaitu wajib menyiapkan RPHU, blast freezer, cold storage, industri olahan, sesuai dengan live bird (unggas hidup) yang diproduksi. Hal ini bisa berfungsi sebagai buffer harga maupun buffer stok atau lumbung pangan," ujar Sigit.

“Tata niaganya harus diatur, peternak mandiri dan peternak kecil masing masing harus dapat haknya untuk melepas ayam ke pasar tradisional dengan harga layak. Di negara manapun, dan dalam hal apapun, harus ada upaya pemerintah memayungi dan melindungi rakyat kecil," ucap Sigit

Permintaan peternak sebenarnya cukup sederhana, yaitu meminta pemerintah untuk turun langsung guna menata industri perunggasan supaya harga ayam di tingkat peternak diatas HPP guna mencegah matinya mata pencaharian para peternak.

“Harga live bird harus di atas HPP sesuai Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 96 Tahun 2018, secepatnya dan seterusnya,'' ucap Parjuni, peternak ayam dari Jawa Tengah.

Sebelumnya, Pemerintah lewat Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, memang telah mendorong sejumlah perusahaan integrator untuk meningkatkan serapan mereka demi kembali menstabilkan harga jual ayam hidup di tingkat tengkulak. Tapi sayangnya, langkah tersebut masih belum cukup untuk mengembalikan harga ayam hidup ke level normal karena pelaksanaan dan pengawasannya yang dirasa kurang maksimal.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Tingkatkan Kepatuhan Pajak, Keberadaan UU Konsultan Pajak Dinilai Penting

Ketua Umum IKPI Mochamad Soebakir menaruh harapan yang besar agar RUU tentang Konsultan Pajak yang diinisiasi DPR.

EKONOMI | 28 Agustus 2020

Dukung Peningkatan Kepatuhan Pajak, IKPI Perkuat Kapasitas Anggota

IKPI terus melakukan perbaikan sebagai bentuk transformasi IKPI menjadi kuat dan modern.

EKONOMI | 28 Agustus 2020

Gelar RUPS, Ini Susunan Direksi Terbaru PT Sepatu Bata

Posisi Presiden Direktur dijabat Inderpreet Singh Bhatia, Direktur masing-masing diisi oleh Piyush Gupta, Ricardo Lumalessil, Hatta Tutuko, dan Susan.

EKONOMI | 28 Agustus 2020

Diapresiasi, Langkah Pertamina Tidak PHK Karyawan

Untung dan rugi dalam dunia usaha adalah hal yang lumrah oleh karena itu manejemen Pertamina tak perlu khawatir dengan masalah ini.

EKONOMI | 28 Agustus 2020

Satgas PEN: Serapan Anggaran Perlindungan Sosial Sudah 47%

Budi Gunadi Sadikin mengatakan serapan anggaran untuk program perlindungan sosial sudah terserap sekitar 47%, sementara untuk program UMKM sudah mencapai 38%.

EKONOMI | 28 Agustus 2020

Bangun Hotel di Tangerang, JHL Group Usung Konsep Budaya Lokal

Hotel Episode di Serpong, Kabupaten Tangerang merupakan hotel Episode bintang 4 kedua yang dibangun JHL Group setelah di Kuta, Bali.

EKONOMI | 28 Agustus 2020

Menaker Lantik Enam Pejabat Eselon I Secara Tertutup

Ida Fauziyah lantik pejabat secara tertutup.

EKONOMI | 28 Agustus 2020

Kurs Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 14.632

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan sore hari ini, Jumat (28/8/2020), terpantau menguat ke kisaran Rp 14.600.

EKONOMI | 28 Agustus 2020

Grant Thornton: Banyaknya Perusahaan Go Public Akan Bantu Pemulihan Ekonomi

Data Grant Thornton mengungkapkan optimisme ekonomi global menurun 16 poin pada semester 1 2020.

EKONOMI | 28 Agustus 2020

GRP Lepas Ekspor Struktur Baja Senilai Rp 69 Miliar ke Kanada

Adapun ekspor ke Kanada oleh anak perusahaan Gunung Steel Group ini dilakukan untuk menyuplai salah satu kawasan Riverbend.

EKONOMI | 28 Agustus 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS