Logo BeritaSatu

Mengorbit 2023, Proses Konstruksi Satelit Satria Dimulai

Kamis, 3 September 2020 | 19:16 WIB
Oleh : Lona Olavia / EHD

Jakarta, Beritasatu.com - Setelah sempat tertunda akibat pandemi Covid-19, akhirnya proses konstruksi Satelit Republik Indonesia (Satria) dilakukan. Kepastian ini setelah dilakukannya penandatangan Preparatory Work Agreement (PWA) proyek Satria antara PT Satelit Nusantara Tiga (SNT) sebagai bagian dari konsorsium Pasifik Satelit Nusantara (PSN) dengan perancang dan pabrikan asal Prancis, Thales Alenia Space (TAS).

Satria yang merupakan satelit internet terbesar se-Asia diyakini akan resmi mengorbit di udara dengan menggunakan roket Falcon 9-5500 menuju slot orbit 146 derajat bujur timur pada tahun 2023 mendatang.

Advertisement

Satelit multifungsi yang akan menjangkau 150 ribu titik yang belum terjangkau layanan internet tersebut nantinya dioperasikan oleh konsorsium PT SNT dengan menggandeng Aerospace Manufaktur asal Perancis Thales Alenia Space dan perusahaan transportasi luar angkasa asal AS Space X, sebagai pabrikan untuk satelit peluncur.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G Plate, mengatakan, pandemi Covid-19 memberikan pengaruh sangat signifikan pada dirgantara atau aerospace, termasuk satelit.

Bahkan, mengutip kajian Space Tech Expo pada bulan Juli 2020, pandemi ini memberikan efek negatif pada penundaan penyelesaian proyek, terganggunya supply chain, perlambatan pengoperasian fasilitas pabrikasi, serta keterbatasan tenaga kerja satelit sejak Maret 2020.

"Namun bagi Indonesia dan mitra kerja satelitnya, ini hal yang sebaliknya terjadi. Agenda kita menunjukkan bahwa iklim investasi dan infrastruktur Indonesia tidak sedang melambat, namun justru makin melesat," ungkapnya dalam konferensi pers Penandatanganan PWA Satelit SMF Satria, di Jakarta, Kamis (3/9/2020).

Apalagi, sektor informatika dan komunikasi pada kuartal I 2020 tumbuh 9,6% secara yoy dan kembali positif bahkan capai pertumbuhan 10,88% secara yoy. Hal ini mengindikasikan bahwa pilihan kebijakan untuk melanjutkan afirmasi digital adalah langkah tepat.

Penandatanganan ini, dikatakan Johnny merupakan awal dari proses produksi manufakturing satelit. Di mana, mencakup dua kegiatan pokok, yakni tinjauan muatan sistem satelit yang merupakan penyesuaian desain satelit dengan permintaan pengguna dan melakukan tinjauan atas kualifikasi komponen satelit yang dipersyaratkan.

"Penandatangan ini memastikan pembuatan satelit dapat diselesaikan tepat waktu, sekaligus menandai perjanjian pembiayaan akan mulai efektif berjalan," imbuhnya.

Satelit ini, jelas Johnny akan menghadirkan WIFI gratis di 150.000 titik layanan publik, yang notabene tidak dapat akses internet lantaran tidak terjangkau oleh kabel serat optik. Penyebarannya yakni di 93.900 sekolah dan pesantren, 47.900 kantor pemerintahan daerah, 3.700 puskesmas, dan 4.500 titik layanan publik lainnya yang sulit dijangkau kabel optik. Layanan itu akan dapat menghadirkan layanan publik yang prima, dimana setiap titik layanan akan tersedia kapasitas sebesar 1 Mbps.

Pasalnya, SATRIA memiliki ciri atau spesifikasi khusus, yang dikenal dengan sebutan High Throughput Satellite (HTS) yang memiliki kapasitas 150 gigabit per second (Gbps) atau lebih besar tiga kali lipat dari yang ada sekarang. Saat ini terdapat sembilan satelit yang ada di Indonesia terdiri dari lima satelit nasional dan empat satelit asing dengan kapasitas total 50 Gbps.

Johnny menyatakan, proyek Satria menandai peluang investasi di masa yang akan datang yang lebih besar. “Sampai dengan tahun 2030, kebutuhan kapasitas satelit Indonesia diproyeksikan mencapai 900 Gbps atau 0,9 Tbps. Kita juga masih masih membutuhkan pembangunan ground segment untuk melengkapi pembangunan space segment yang sedang kita bangun,” tuturnya.

Proyek satelit Satria dikerjakan dalam skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Kementerian Kominfo bertindak selaku Penanggung Jawab Proyek Kerjasama (PJPK). Mengenai skema pendanaan proyek, Menteri Johnny menjelaskan hal itu tertuang dalam sindikasi pembiayaan yang didukung dengan tersedianya equity portion.

Ada pun proyek ini disebutkan Direktur Utama PSN sekaligus Direktur Utama SNT Adi Rahman Adiwoso menelan belanja modal (capital expenditure/capex) tak kurang dari US$ 550 juta atau sekitar Rp 8 triliun. Di mana, US$ 425 juta diantaranya merupakan pinjaman sindikasi dari ekspor kredit Perancis dan multilateral yang berkedudukan di Beijing, Tiongkok, dan sisanya adalah ekuitas.

"Kita ambil ekspor kredit karena bunganya jauh lebih rendah dari bunga komersial dan jangka pengembaliannya cukup panjang, dikembalikan 12 tahun setelah beroperasi dan selama 3 tahun setengah pembuatan satelit ini bunganya dikapitalisasi sebagai biaya proyek," jelasnya.

Sebagai informasi, proyek Satria yang ditender oleh pemerintah dimenangkan oleh Konsorsium PSN yang kemudian membentuk PT SNT sebagai perusahaan yang mengoperasikan satelit pemerintah tersebut.

Ada pun SNT dimiliki PT Pintar Nusantara Sejahtera, PT Pasifik Satelit Nusantara, PT Dian Semesta Sentosa, dan PT Nusantara Satelit Sejahtera yang semuanya tergabung dalam konsorsium PSN.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Dituduh Manipulasi Saham, Orang Terkaya Asia Ini Kehilangan Rp 700 T

Aset orang terkaya di Asia Gautam Adani jatuh lebih dari US$ 50 miliar setelah dituduh memanipulasi saham oleh Hindenburg Research.

EKONOMI | 29 Januari 2023

Simak, Tips Main Aman Investasi Kripto

Pasar kripto terpantau terus menunjukkan performa positif di sepanjang Januari 2023 ini, setelah sempat turun beberapa waktu lalu.

EKONOMI | 29 Januari 2023

Minyakita Langka, Mendag Janji Perbaiki Jalur Distribusi

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan berjanji akan memperbaiki sistem distribusi sehingga Minyakita tidak mahal.

EKONOMI | 28 Januari 2023

Mendag: Minyakita Tak Stop Produksi, tetapi Laris di Pasar

Zulkifli Hasan menepis isu yang beredar soal kelangkaan pasokan dan berhentinya minyak goreng (migor) bersubsidi dengan merek Minyakita.

EKONOMI | 28 Januari 2023

Volatilitas Tinggi, Dana Kelolaan Ashmore AM Merosot 5%

PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk (AMOR) mencatat dana kelolaan investasi (asset under management/AUM) turun 5%.

EKONOMI | 28 Januari 2023

Ayooservis Tawarkan Perbaikan Produk Teknologi Informasi

Ayooservis bagian dari Airmas Group menyasar pelanggan pemerintah dan korporasi untuk jasa perbaikan produk teknologi informasi

EKONOMI | 28 Januari 2023

Minyakita Langka di Pasaran, Harga Minyak Goreng Melonjak

Minyak goreng (migor) bersubsidi dengan merek Minyakita yang dirilis pemerintah beberapa waktu lalu kian langka di Purwakarta.

EKONOMI | 28 Januari 2023

Percepat Pemulihan Ekonomi, SBN Ritel Pilihan Tepat saat Suku Bunga Naik

Surat Berharga Negara (SBN) Ritel menjadi pilihan tepat investasi saat suku bunga terus menaik atau menanjak seperti sekarang.

EKONOMI | 28 Januari 2023

BEI Akan Rilis Papan Pemantauan Khusus Saham Tidak Likuid

BEI segera meluncurkan papan pemantauan khusus khusus hybrid untuk saham-saham tidak likuid dengan metode periodik call auction.

EKONOMI | 28 Januari 2023

Cek Harga Kebutuhan Pokok, Mendag Zulkifli Hasan Traktir Warga Berbelanja

Mendag Zulkifli Hasan melakukan pengecekan harga kebutuhan pokok di Pasar Cisalak, Cimanggis, Depok, Jawa Barat

EKONOMI | 28 Januari 2023


TAG POPULER

# Serial Killer


# Mahasiswa UI Ditabrak


# Tukang Becak Bobol BCA


# Biaya Haji 2023


# Pembunuhan di Depok


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Surat Kewarganeragaan Tidak Sah, Wakil PM Nepal Dicopot dari Jabatan

Surat Kewarganeragaan Tidak Sah, Wakil PM Nepal Dicopot dari Jabatan

NEWS | 3 menit yang lalu










CONTACT US Commodity Square, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
B UNIVERSE