Usulan Pajak Mobil Baru 0% Ditolak, Ini Respons Pelaku Industri Otomotif
INDEX

BISNIS-27 555.695 (12.56)   |   COMPOSITE 6537.09 (82.91)   |   DBX 1185.45 (4.25)   |   I-GRADE 192.346 (4.58)   |   IDX30 559.887 (14.06)   |   IDX80 149.821 (2.81)   |   IDXBUMN20 454.506 (9.99)   |   IDXESGL 154.417 (2.37)   |   IDXG30 151.04 (3.24)   |   IDXHIDIV20 490.586 (12.63)   |   IDXQ30 156.252 (4.15)   |   IDXSMC-COM 301.613 (0.45)   |   IDXSMC-LIQ 382.211 (0.35)   |   IDXV30 157.186 (1.27)   |   INFOBANK15 1083.88 (30.87)   |   Investor33 472.674 (10.59)   |   ISSI 194.508 (1.25)   |   JII 694.836 (6.78)   |   JII70 242.811 (1.92)   |   KOMPAS100 1324.28 (21.59)   |   LQ45 1037.35 (23.63)   |   MBX 1819.69 (25.48)   |   MNC36 350.082 (7.57)   |   PEFINDO25 343.337 (-0.23)   |   SMInfra18 332.762 (3.61)   |   SRI-KEHATI 404.998 (10)   |  

Usulan Pajak Mobil Baru 0% Ditolak, Ini Respons Pelaku Industri Otomotif

Selasa, 20 Oktober 2020 | 17:48 WIB
Oleh : Herman / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah melalui Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, telah mengambil sikap untuk tidak memberikan pajak mobil baru sebesar 0 persen, seperti yang diusulkan oleh industri maupun Kementerian Perindustrian (Kemperin).

Sri Mulyani menilai, sudah banyak insentif yang diberikan oleh pemerintah kepada sektor yang tertekan akibat pandemi Covid-19.

Mengomentari sikap pemerintah tersebut, Presiden Direktur PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), Naoya Nakamura menyampaikan, MMKSI mendukung dan berusaha berjalan beriringan dengan pemerintah. Ia meyakini keputusan yang diambil pemerintah merupakan sebuah upaya untuk memperbaiki perekonomian, terutama di saat pandemi seperti saat ini.

"Meski relaksasi pajak mobil baru saat ini tidak dikeluarkan, pemerintah kemungkinan akan mengambil langkah lain untuk membantu sektor industri yang diharapkan dapat membantu industri otomotif yang terdampak pandemi di tahun ini," kata Naoya Nakamura di sela acara Mitsubishi Xpander Exclusive Preview, Selasa (20/10/2020).

Sementara itu menurut Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Yohannes Nangoi, usulan kepada pemerintah agar memberikan relaksasi pajak bagi industri otomotif sebetulnya untuk mendorong permintaan yang sedang melemah. Sebab ia menilai masyarakat sebetulnya punya uang untuk membeli mobil baru. Hanya saja mereka masih menahan diri untuk membeli, sehingga diperlukan trigger atau pendorong.

"Pajak itu sebetulnya bermacam-macam, mulai dari pajak bea masuk, Pajak Penjualan Atas Mobil Mewah (PPnBM), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), pajak kendaraan bermotor (PKB), dan sebagainya. Relaksasi pajak yang kami usulkan lewat Kemperin ini tujuannya agar industri otomotif tidak kolaps, sehingga sampai melakukan hal-hal yang kita semua tidak inginkan. Kami juga bukan minta support, tapi kami bilang kontribusi kami kepada pemerintah (dalam bentuk pajak) kalau bisa dikurangi dulu, supaya minat masyarakat untuk membeli mobil kembali lagi,” kata Yohannes Nangoi.

Bila kemudian Kementerian Keuangan menolak usulan Gaikindo dan juga Kemenperin, Yohanes mengaku tak bisa berbuat apa-apa selain tetap mengoptimalkan kegiatan marketing untuk mendongkrak penjualan. "Yang kita sampaikan ini adalah harapan. Kalau pemerintah akhirnya tidak bisa menerima, ya kami tidak bisa berbuat apa-apa. Itu wewenang pemerintah,” imbuhnya.

Namun, Yohanes mengkhawatirkan nasib industri otomotif yang sangat terpukul akibat pandemi Covid-19. Hingga September 2020, penjualan wholesales baru mencapai 372.046 unit. Padahal di periode sama tahun lalu, penjualannya sebanyak 755.094 unit.

"Kalau kita bandingkan dengan negara-negara di Asean, Indonesia yang biasanya nomor satu, sekarang ini jadi nomor empat. Penjualan kita sampai September turun 50 persen. Di Thailand dan Malaysia, sekarang ini penjualan mobil barunya sudah lebih tinggi dibandingkan sebelum Covid-19. Ini karena salah satunya pemerintah di sana memberikan keleluasaan dalam hal pajak,” kata Yohannes.

Di Indonesia, lanjut Yohannes, kemampuan memproduksi mobil baru bisa mencapai 2,4 juta unit. Namun akibat permintaan yang melemah, Yohannes memprediksi pada tahun ini yang bisa diproduksi hanya sekitar 500.000-an unit saja. Padahal ada sekitar 1,5 juta pegawai yang bekerja di sektor otomotif, ditambah lagi dengan pegawai di industri lain yang ada kaitannya dengan otomotif seperti perusahan pembiayaan dan asuransi.

“Kalau produksinya hanya sampai 20 persen, ini kondisi yang sulit. Yang kami khawatirkan, perusahan otomotif akan melakukan tindakan penghematan operasional,” kata Yohannes.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Ma'ruf Amin Raih Lifetime Achievement Investor Best Syariah Awards

Tahun ini merupakan penyelenggaraan Investor Best Syariah Awards ke-15 yang diadakan secara rutin oleh Majalah Investor.

EKONOMI | 20 Oktober 2020

BRIS dan ANTM Pimpin Daftar Saham Teraktif

PT Bank Rakyat Indonesia Syariah Tbk (BRIS) dengan frekuensi 83.469 kali.

EKONOMI | 20 Oktober 2020

Bursa Asia Bervariasi karena Tiongkok Pertahankan Bunga Pinjaman

Di Jepang, Nikkei 225 turun 0,44 persen menjadi 23.567,04.

EKONOMI | 20 Oktober 2020

Saat Mata Uang Asia Terpuruk, Rupiah Ditutup Perkasa

Rupiah hari ini diperdagangkan dengan kisaran Rp 14.658- Rp 14.718 per dolar AS.

EKONOMI | 20 Oktober 2020

Mayoritas Sektor Ambles, IHSG Ditutup Hilang 26 Poin

Sebanyak 103 saham menguat, 317 saham melemah, dan 157 saham stagnan.

EKONOMI | 20 Oktober 2020

Pemerintah Dorong Industri Halal Nasional Mendunia

Pemerintah terus mendorong penciptaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) berbasis syariah yang dapat berperan dalam global halal value chain.

EKONOMI | 20 Oktober 2020

Bursa Eropa Dibuka Melemah karena Kekhawatiran Covid-19

Pan-European Stoxx 600 turun sekitar 0,15 persen.

EKONOMI | 20 Oktober 2020

Kakao Jembrana Tembus Pasar Belanda

Wagub Bali mengapresiasi upaya peningkatan mutu produk pertanian.

EKONOMI | 20 Oktober 2020

50 Tahun di Industri Baja Nasional, GGRP Ganti Logo dengan Inovasi Baru

Perubahan logo di tengah selebrasi 50 tahun berdiri, adalah bentuk optimisme.

EKONOMI | 20 Oktober 2020

Aset Holding Perasuransian dan Penjaminan IFG Rp 72,5 Triliun

Ekuitas IFG mencapai Rp 36,7 triliun, pendapatan Rp 4,2 triliun dan laba bersih Rp 536 miliar.

EKONOMI | 20 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS