Apindo Sambut Hadirnya Indeks UMKM Pertama di Indonesia
INDEX

BISNIS-27 540.837 (-8.19)   |   COMPOSITE 6428.31 (-54.9)   |   DBX 1183.86 (16.52)   |   I-GRADE 188.148 (-2.58)   |   IDX30 539.476 (-8.89)   |   IDX80 144.979 (-1.68)   |   IDXBUMN20 440.639 (-3.89)   |   IDXESGL 147.926 (-1.09)   |   IDXG30 146.726 (-1.41)   |   IDXHIDIV20 473.385 (-7.91)   |   IDXQ30 152.644 (-1.92)   |   IDXSMC-COM 299.578 (-0.96)   |   IDXSMC-LIQ 376.282 (-1.41)   |   IDXV30 152.705 (-1.81)   |   INFOBANK15 1086.82 (-23.03)   |   Investor33 459.04 (-6.31)   |   ISSI 190.39 (-0.94)   |   JII 671.594 (-3.85)   |   JII70 236.079 (-1.46)   |   KOMPAS100 1294.89 (-15.54)   |   LQ45 1002.38 (-13.63)   |   MBX 1785.38 (-21.17)   |   MNC36 340.467 (-4.76)   |   PEFINDO25 342.936 (-2.7)   |   SMInfra18 325.457 (-0.02)   |   SRI-KEHATI 391.973 (-5.4)   |  

Apindo Sambut Hadirnya Indeks UMKM Pertama di Indonesia

Kamis, 12 November 2020 | 15:34 WIB
Oleh : Novy Lumanauw / JAI

Jakarta, Beritasatu.com - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyambut baik hadirnya indeks usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk mengukur aktivitas bisnis dan ekspektasi para pengusaha.

Indeks ini diyakini akan memacu pelaku UMKM untuk lebih maju dan mendapat sokongan yang tepat dari pemerintah, swasta dan Badan Usaha Milik Negara.

Anggota Dewan Pertimbangan Apindo, Franky Sibarani, mengungkapkan bahwa indeks UMKM akan berdampak pada semakin banyaknya pelaku UMKM yang naik kelas. Hal itu juga berdampak pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Pernyataan Franky Sibarani disampaikan menanggapi hadirnya BRI Micro and SME Index (BMSI) yang diluncurkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Rabu (11/11/2020). BMSI adalah indeks tentang UMKM pertama di Indonesia yang memotret kondisi usaha mikro dan kecil setiap 3 bulan sekali.

“Bagus sekali inisiatif dari BRI, memacu UMKM untuk maju dan lebih banyak yang naik kelas. Semakin banyak UMKM yang terlibat akan lebih baik. Indeks ini bisa dikembangkan nanti, tentu dengan dukungan pemerintah, supaya lebih masif,” ujar Franky Sibarani, di Jakarta, Kamis (12/11/2020).

BMSI adalah indeks yang dibuat BRI untuk menilai kondisi pelaku UMKM saat ini dan ekspektasi mereka hingga kurun 3 bulan mendatang. Indeks ini terdiri atas dua indikator yakni Indeks Aktivitas Bisnis (IAB) dan Indeks Ekspektasi Aktivitas Bisnis (IEAB).

BMSI bersifat nasional dan akan dipublikasikan rutin setiap kuartal oleh BRI, sehingga diharapkan menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan publik, khususnya di UMKM.

“Indeks ini kami launching untuk digunakan sebagai alat ukur aktivitas bisnis UMKM, dan kami buat sebagai bentuk kepedulian BRI terhadap aktivitas UMKM Indonesia, serta menjadi leading indicator pertama di Indonesia yang mengukur aktivitas UMKM,” ujar Direktur Utama BRI, Sunarso, kemarin.

Bagi BRI, lanjut Sunarso, BMSI menjadi guidelines dalam menumbuhkan UMKM, terutama dalam menyusun strategi dan pendekatan yang benar terhadap UMKM. Sesuai dengan tujuannya, BMSI dapat juga dijadikan salah satu indikator untuk keperluan monitoring dan early warning system (EWS) terhadap keberlangsungan usaha debitur UMKM.

“Dengan indeks ini kita melihat kira-kira situasi kegiatan UMKM saat ini seperti apa dan ekspektasi 3 bulan ke depan itu seperti apa. Sekarang yang kita baca adalah ekspektasinya UMKM itu positif, akan menggeliat maka kita siapkan produknya, layanan, dan sistem layanannya, supaya approach-nya itu sesuai dengan apa yang dibutuhkan di lapangan. Itu yang saya katakan bahwa BSMI akan menjadi pedoman untuk menumbuhkan UMKM,” kata Sunarso.

Menurut Franky Sibarani, BMSI merupakan hal yang beda dengan kebutuhan pendataan tunggal UMKM di Indonesia. Kehadiran indeks khusus ini tidak meniadakan kebutuhan akan hadirnya basis data tunggal UMKM. Karena itu, dia berharap pembuatan basis data UMKM dapat segera dibentuk oleh pemerintah.

“Satu data dari Usaha Mikro sampai Usaha Menengah kapasitasnya pasti berbeda. Sehingga akses ke indeks tentu yang Usaha Menengah akan lebih banyak. Sementara pendataan, kita perlu untuk pengembangan Usaha Mikro yang jumlahnya 63 juta. Leadnya harus oleh Kementerian Koperasi dan UKM dan melibatkan semua stakeholder termasuk swasta, serta BUMN,” tutur Frangky Sibarani.

Berdasarkan publikasi perdana BSMI pada kuartal III tahun ini, terlihat bahwa kondisi pelaku UMKM saat ini sudah mulai bangkit. Indeks UMKM tercatat naik dari 65,5 menjadi 84,4 per September 2020.

BSMI juga merekam ekspektasi pelaku UMKM yang meningkat hingga 109,3 untuk kuartal IV/2020. Peningkatan ini menandakan adanya optimisme pengusaha akan perbaikan kondisi ekonomi mulai akhir tahun ini.



Sumber: Investor Daily


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Kempupera Bangun Rusun ASN Rp 64 Miliar di Kalsel

Kempupera akan membangun perkantoran yang terpusat di kota Banjarbaru.

EKONOMI | 12 November 2020

Kreasi Arduo Kuasai Pasar Chest Freezer di Surabaya

Potensi pasar produk pembeku di Surabaya dan sekitarnya cukup besar selama pandemi Covid-19.

EKONOMI | 12 November 2020

CSAP Jajaki Pasar Bahan Bangunan di Kalimantan

CSAP memutuskan untuk melakukan ekspansi Mitra10 ke Balikpapan, seiring dengan tren pertumbuhan dan penetapan Kalimantan Timur sebagai calon ibukota baru

EKONOMI | 12 November 2020

Bantu Atasi Pandemi, Australia Beri Pinjaman Rp 15,339 T ke Indonesia

Australia memberikan pinjaman kepada Indonesia sebesar 1,5 miliar dolar Australia atau sekitar Rp 15,339 triliun untuk penanganan pandemi Covid-19.

EKONOMI | 12 November 2020

Gozco Land Kembangkan Hunian Tapak The Juanda

The Juanda sebagai hunian tapak berkonsep modern minimalis, membidik segmen milenial.

EKONOMI | 12 November 2020

Rupiah Masuk ke Zona Negatif Siang Ini

Transaksi rupiah pagi ini diperdagangkan dalam kisaran Rp 14.080-Rp 14.170 per dolar AS.

EKONOMI | 12 November 2020

Mayoritas Bursa Asia Siang Ini di Zona Merah

Shanghai SE composite di Tiongkok turun 6,7 poin (0,2%) mencapai 3.335.

EKONOMI | 12 November 2020

Rehat Siang, IHSG Turun 32 Poin ke Level 5.477

Sebanyak 169 saham naik, 242 saham melemah dan 178 saham stagnan.

EKONOMI | 12 November 2020

Waskita Karya Bidik Potensi Proyek Hingga Rp 92 Triliun

Di Jawa yakni infrastruktur, konektivitas, dan pipanisasi senilai Rp 49 triliun.

EKONOMI | 12 November 2020

Emas Antam Turun ke Rp 968.000 Per Gram

Untuk pecahan 100 gram sebesar Rp 91,012 juta.

EKONOMI | 12 November 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS