Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan Perlu Lebih Dipacu
Logo BeritaSatu
INDEX

BISNIS-27 526.593 (-2.12)   |   COMPOSITE 6140.17 (-31)   |   DBX 1202.23 (-7.34)   |   I-GRADE 182.055 (-0.59)   |   IDX30 520.23 (-3.14)   |   IDX80 139.249 (-0.62)   |   IDXBUMN20 408.872 (-1.63)   |   IDXESGL 143.85 (-0.25)   |   IDXG30 142.18 (0.09)   |   IDXHIDIV20 459.051 (-3.03)   |   IDXQ30 148.957 (-0.6)   |   IDXSMC-COM 277.162 (-0.91)   |   IDXSMC-LIQ 347.622 (-0.6)   |   IDXV30 138.219 (-0.5)   |   INFOBANK15 1055.23 (-7.44)   |   Investor33 446.478 (-2.09)   |   ISSI 180.128 (-0.71)   |   JII 636.549 (-4.61)   |   JII70 222.134 (-1.32)   |   KOMPAS100 1238.45 (-7.28)   |   LQ45 966.883 (-3.74)   |   MBX 1689.51 (-8.25)   |   MNC36 329.297 (-2.07)   |   PEFINDO25 325.3 (-0.25)   |   SMInfra18 310.992 (2.08)   |   SRI-KEHATI 381.519 (-2.14)   |  

Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan Perlu Lebih Dipacu

Jumat, 13 November 2020 | 16:46 WIB
Oleh : Herman / WBP

Jakarta, Beritasatu.com - Koordinator Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara Tata Mustasya menilai, satu tahun pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin belum menunjukkan transformasi nyata untuk merealisasikan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Bila melihat hubungan ekonomi dan lingkungan, Greenpeace menilai terdapat pergeseran dari periode pertama Jokowi, di mana saat ini aspek lingkungan cenderung diabaikan ketika harus dihadapkan pada prioritas pertumbuhan ekonomi.

“Kita melihat ada sebuah kebutuhan bagi pemerintah, terutama menuju 2024 untuk mengubah haluan agar kita bisa menuju pembangunan ekonomi berkelanjutan,” kata Tata Mustasya dalam diskusi daring bertajuk "Evaluasi Setahun Jokowi Bidang Ekonomi dan Lingkungan: Transformasi atau Kemunduran?" yang diadakan Indef bersama Greenpeace Indonesia, Jumat (13/11/2020).

Menurut Tata, berbagai sasaran dan strategi pembangunan berkelanjutan sebetulnya sudah ada di dalam beberapa kebijakan kunci, seperti Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yang mencantumkan pembangunan lingkungan hidup, meningkatkan ketahanan bencana dan perubahan iklim sebagai satu dari tujuh prioritas. Menurutnya, yang diperlukan kini adalah aksi nyata dan segera.

“Terdapat gap yang besar antara strategi besar pembangunan dengan turunan kebijakan dan implementasinya. Pada sektor energi terlihat pemerintah masih memprioritaskan energi kotor dari batu bara padahal sektor energi merupakan sumber emisi terbesar sehingga transisi energi menjadi kunci untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan,” ujar dia.

Tata menegaskan, ekonomi tidak bisa berjalan tanpa daya dukung alam. People, profit, planet harus berjalan bersama.

Sementara bila mengacu pada Rencana Strategis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2020-2024, produksi batu bara akan terus meningkat. Pada 2019, porsi batu bara dalam bauran energi primer pembangkit listrik mencapai 62,2%.

“Rendahnya alokasi APBN untuk aktivitas Pembangunan Rendah Karbon (LCD) selama 2018-2020 baik secara nominal (Rp 34,5 triliun, Rp 23,8 triliun dan Rp 23,4 triliun) dan proporsi ke APBN (1,6%, 1,4% dan 0,9%) adalah indikasi kuat bahwa semangat transformasi hijau belum jadi bagian penting resep merespons pandemi dan build back better seperti dilakukan banyak negara lain,” kata Direktur Riset Indef, Berly Martawardaya.

Menurut Berly, pengkajian lebih lanjut menunjukkan sekitar 60% dari dana LCD dialokasikan untuk transportasi yang didominasi oleh subsidi tarif transportasi publik. Transformasi sektor energi yang vital untuk mencapai target 23% EBT (energi baru terbarukan) di bauran energi mendapat porsi lebih kecil dan masih belum didukung feed-in-tarif yang sesuai dengan karakteristik EBT.

Dalam kesempatan sebelumnya, Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jisman Hutajulu mengatakan bahwa saat ini bauran EBT sudah mencapai sekitar 14%. Pemerintah saat ini juga tengah fokus mengupayakan berbagai langkah untuk mencapai target bauran EBT sebesar 23% pada 2025, antara lain dengan menyiapkan Rancangan Peraturan Presiden yang mengatur tentang EBT.

“Permen 50/2017 mengenai pengaturan EBT tentang harga (listrik EBT), mungkin terlihat belum atraktif, sehingga kurang mendorong swasta untuk masuk. Jadi kita mau revisi dan kita tingkatkan menjadi Rancangan Peraturan Presiden. Ini sudah siap dan kita tunggu bulan depan barangkali sudah bisa ditandatangani. Yang bisa kami sampaikan, nanti (di Perpres) harganya pun akan lebih atraktif untuk pengembangnya, tidak seperti dulu. Sehingga kita berharap kondisi ini akan mendorong EBT bisa masuk lebih besar lagi,” kata Jisman.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Mulai Desember, AirAsia Buka 5 Rute Domestik Baru

Pembukaan rute-rute penerbangan ini demi memenuhi permintaan pelanggan di daerah

EKONOMI | 13 November 2020

PNBS dan BBRI Pimpin Daftar Saham Teraktif

PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS) dengan frekuensi 32.784 kali.

EKONOMI | 13 November 2020

Pandemi, Darya-Varia Mampu Hasilkan Laba Rp 147,2 Miliar

Efisiensi beban serta pertumbuhan segmen bisnis consumer health ikut menopang kinerja keuangan perseroan.

EKONOMI | 13 November 2020

Bank Mandiri Syariah Luncurkan Tabungan Bisnis

Tabungan Bisnis diperuntukkan untuk menarik potensi nasabah dari kalangan pebisnis baik skala besar, menengah, kecil hingga mikro.

EKONOMI | 13 November 2020

KBI Ditunjuk Jadi Lembaga Kliring Pasar Fisik Emas Digital

Dengan transaksi yang tercatat di lembaga kliring, menjadi satu upaya menumbuhkan kepercayaan masyarakat.

EKONOMI | 13 November 2020

Mata Uang Asia Menguat, Rupah Ditutup di Rp 14.170 per Dolar AS

Rupiah hari ini diperdagangkan dengan kisaran Rp 14.150- Rp 14.221 per dolar AS.

EKONOMI | 13 November 2020

Toba Pulp Lestari Terapkan Silvikultur 4.0 untuk Kegiatan Bisnis Berkelanjutan

Dengan menerapkan Silvikultur 4.0, Toba Pulp Lestari mampu mempertahankan target hingga 2,6 juta bibit eucalytus per bulan.

EKONOMI | 13 November 2020

Seharian Tertekan, IHSG Berhasil Ditutup di Zona Hijau

Sebanyak 198 saham menguat, 226 saham melemah, dan 178 saham stagnan.

EKONOMI | 13 November 2020

Bursa Eropa Dibuka Bervariasi Setelah Biden Diproyeksi Menangkan Arizona

Indeks FTSE 100 Inggris turun 51 poin ke 6.295.

EKONOMI | 13 November 2020

Pasca-Perpanjangan GSP, RI Tingkatkan Kerja Sama dengan AS

Selain akan menggenjot arus perdagangan dua arah, fasilitas GSP akan meningkatkan investasi.

EKONOMI | 13 November 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS