Logo BeritaSatu

Mendag: RCEP Tidak Akan Membuat RI Kebanjiran Impor

Senin, 16 November 2020 | 23:58 WIB
Oleh : Herman / FMB

Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menegaskan, Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional 15 negara atau Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) tidak akan membuat impor membengkak. RCEP adalah blok perdagangan bebas terbesar di dunia yang beranggotakan ASEAN, Australia, Selandia Baru, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan.

Agus mengatakan RCEP akan mendorong Indonesia lebih jauh ke dalam rantai pasok global (global supply chain) dengan memanfaatkan backward linkage, yakni memenuhi kebutuhan bahan baku atau bahan penolong yang lebih kompetitif dari negara RCEP lainnya; dan forward linkage, yakni dengan memasok bahan baku atau bahan penolong ke negara RCEP lainnya. Mendag Agus yakin hal tersebut akan mengubah RCEP menjadi sebuah ‘regional power house’.

Advertisement

“Indonesia harus memanfaatkan arah perkembangan ini dengan segera memperbaiki iklim investasi, mewujudkan kemudahan lalu-lintas barang dan jasa, meningkatkan daya saing infrastruktur dan suprastruktur ekonomi, dan terus mengamati serta merespons tren konsumen dunia,” kata Agus Suparmanto dalam keterangan resminya, Senin (16/11/2020).

Mendag juga memastikan Indonesia tidak akan mengalami banjir impor karena semua negara yang tergabung dalam perjanjian RCEP sepakat untuk melindungi supaya ada keseimbangan dari impor, khususnya trade balance.

“Kita tidak akan ada kebanjiran impor. Ini akan memudahkan supply chain. Ini akan bawa dampak positif sehingga impor dan ekspor akan meningkat. Impor pun untuk akses bahan baku dan itu akan meningkatkan PDB kita,” kata Agus.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo juga melihat perjanjian RCEP ini justru akan membuka peluang yang semakin besar bagi Indonesia untuk meningkatkan kinerja ekspor.

“Mungkin kita masih ada impor untuk bahan baku yang tidak bisa menghasilkan sendiri. Tapi yang penting, ekspornya didorong kuat-kuat. Karena kalau kita bicara ancaman impor, semua negara RCEP sebetulnya juga mengalami ancaman impor. Jadi saya cenderung melihat bagaimana kita menempatkan RCEP untuk mendorong ekspor sebesar-besarnya. Kalau kita lihat Vietnam, impornya besar sekali, tetapi ekspornya berkali-kali lipat. Jadi saya cenderung melihat dari aspek itu,” kata Imam.

Proses Ratifikasi
Perjanjian RCEP sudah ditandatangani pada 15 November 2020. Tetapi untuk bisa sepenuhnya berlaku, kesepakatan ini masih membutuhkan proses ratifikasi perundang-undangan. Kementerian Perdagangan menargetkan terjemahan naskah (teks) perjanjian dagang RCEP setebak 14.367 halaman bisa selesai dalam dua bulan ke depan agar bisa segera dilakukan proses ratifikasinya.

“Tentunya kita harus menerjemahkan teks perjanjian ini, sedang dalam proses. Mudah-mudahan dalam waktu dua bulan ke depan kita bisa sampaikan ke DPR untuk proses ratifikasinya,” kata Iman Pambagyo.

Iman menjelaskan, perjanjian RCEP ini akan dinyatakan memasuki tahap implementasi apabila enam negara Asean dan tiga partner-nya sudah menyampaikan notifikasi ke ASEAN Secretariat yang menyatakan bahwa proses ratifikasi sudah selesai.

Upaya Pemulihan Ekonomi
Peneliti Center for Indonesian Policy Studies Pingkan Audrine Kosijungan menyampaikan, perjanjian RCEP ini merupakan bagian dari upaya pemulihan ekonomi nasional, sebab Indonesia dan ke-14 negara anggota lainnya diperkirakan akan memetik manfaat melalui peningkatan ekspor dan juga investasi.

Pingkan menjelaskan, untuk Indonesia, menjalin kemitraan dengan blok regional sebesar ini akan sangat membantu dalam mendorong pemasaran produk-produk ekspor. Terlebih jika mengingat kedekatan negara-negara anggota secara geografis dan hubungan kerja sama yang selama ini sudah dibangun dalam bilateral.

Kerja sama RCEP sendiri mencakup perdagangan barang dan jasa, investasi, kerja sama ekonomi dan teknis, kekayaan intelektual, persaingan, penyelesaian sengketa, e-commerce, usaha kecil dan menengah (UKM) dan sejumlah masalah hal-hal teknis lainnya.

Asian Development Bank memproyeksikan bahwa RCEP akan membawa manfaat pendapatan global sekitar US$ 260 miliar, mengingat bahwa blok perdagangan ini memiliki cakupan yang sangat besar jika dilihat dari jumlah populasi dan pencapaian PDB secara keseluruhan.

Cakupan ini setara hampir dua kali lebih besar dari Comprehensive and Progressive Agreement for the Trans-Pacific Partnership (CPTPP). ASEAN melaporkan bahwa pada tahun 2018, ekonomi kawasan RCEP tumbuh sebesar 5,6% yang meliputi 47,4% seluruh populasi global, 32,2% ekonomi global, 29,1% perdagangan global dan 32,5% aliran investasi global. Berkaca dari database International Investment Agreements Navigator yang dirilis oleh United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), perjanjian RCEP ini akan menjadi payung dari 35 kerja sama bilateral dan multilateral yang sudah terjalin di antara 15 negara anggota RCEP.

“Dengan demikian, harmonisasi dari tiap-tiap perjanjian perlu diupayakan dan dikomunikasikan kepada para pelaku usaha dalam negeri agar dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Lebih jauh dari itu, ditandatanganinya RCEP ini akan menjadi upaya lebih lanjut dari pengurangan hambatan tarif dari AFTA dan ASEAN Plus karena juga mencakup eliminasi hambatan-hambatan non-tarif,” kata Pingkan.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

JD.ID Tutup, Bagaimana Nasib Voucher dan JD Points?

Bagaimana nasib kupon/voucher dan JD point setelah JD.ID menutup semua layanannya pada 31 Maret 2023?

EKONOMI | 31 Januari 2023

Selain Indonesia, JD.com juga Tutup Layanan di Thailand

Selain di Indonesia, platform dagang elektronik (e-commerce) asal Tiongkok JD.com juga akan menutup layanan di Thailand.

EKONOMI | 31 Januari 2023

Harga Emas Turun Jelang Pengumuman Kenaikan Bunga The Fed

Harga emas turun pada Senin karena investor mencermati pertemuan kebijakan Federal Reserve AS (The Fed).

EKONOMI | 31 Januari 2023

Harga Minyak Turun 2% karena Proyeksi Kenaikan Suku Bunga

Harga minyak Brent berjangka pengiriman Maret turun US$ 1,76 atau 2,03% menjadi US$ 84,90 per barel.

EKONOMI | 31 Januari 2023

Long Form Sensus Penduduk Pertajam Pembangunan Kependudukan

BPS merilis hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 (SP2020 Lanjutan) sebagai rangkaian lanjutan SP2020 yang telah dilakukan di 2020.

EKONOMI | 31 Januari 2023

Bursa AS Terkoreksi, Kenaikan 6 Hari Dow Jones Terhenti

Bursa AS Wall Street termasuk Dow Jones diperdagangkan melemah menghentikan reli Januari jelang pengumuman suku bunga The Fed.

EKONOMI | 31 Januari 2023

Bursa Eropa Melemah, Investor Fokus Pertemuan Fed Minggu Ini

Indeks Stoxx 600 di bursa Eropa ditutup turun 0,2%, dengan sebagian besar sektor berada di wilayah negatif.

EKONOMI | 31 Januari 2023

Erick Rombak Jajaran Direksi Indofarma, Ini Dirut Barunya

Menteri BUMN Erick Thohir mengangkat Agus Heru Darjono sebagai direktur utama yang baru Indofarma.

EKONOMI | 31 Januari 2023

Badan Usaha Tentukan Harga BBM Nonsubsidi, Pemerintah Tetapkan Batas Atas

Perubahan harga BBM nonsubsidi merupakan kewenangan badan usaha penyalur dengan mempertimbangkan sejumlah aspek.

EKONOMI | 31 Januari 2023

Pemerintah Siapkan 9,4 T dari APBN untuk Bangun Rumah Dinas di IKN

Pembangunan rumah dinas ini diperuntukkan bagi sekitar 16.900 aparatur sipil negara (ASN), Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Kepolisian RI (Polri).

EKONOMI | 31 Januari 2023


TAG POPULER

# Serial Killer


# Mahasiswa UI Ditabrak


# Tukang Becak Bobol BCA


# Biaya Haji 2023


# Pembunuhan di Depok


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
JD.ID Tutup, Bagaimana Nasib Voucher dan JD Points?

JD.ID Tutup, Bagaimana Nasib Voucher dan JD Points?

EKONOMI | 6 menit yang lalu










CONTACT US Commodity Square, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
B UNIVERSE