Pemerintah Harus Fokus Tingkatkan Produktivitas Kedelai Nasional
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Pemerintah Harus Fokus Tingkatkan Produktivitas Kedelai Nasional

Selasa, 5 Januari 2021 | 15:50 WIB
Oleh : Herman / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Head of Research Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Felippa Ann Amanta meminta pemerintah agar lebih fokus pada upaya meningkatkan produktivitas dan kualitas kedelai nasional. Pasalnya selama ini petani kedelai nasional dihadapkan pada berbagai persoalan yang membuat kedelai produksi mereka tidak bisa terserap oleh pasar secara maksimal, seperti kualitas dan harga yang tidak bisa bersaing dengan kedelai impor.

"Peningkatan produktivitas dan kualitas kedelai nasional penting untuk diusahakan,” kata Felippa Ann Amanta, di Jakarta, Selasa (5/1/2021).

Dipaparkan Felippa, Indonesia adalah negara dengan konsumsi kedelai terbesar di dunia setelah Tiongkok. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor kedelai Indonesia sepanjang semester-I 2020 mencapai 1,27 juta ton atau senilai US$ 510,2 juta atau sekitar Rp 7,52 triliun (kurs Rp 14.700). Sebanyak 1,14 juta ton di antaranya berasal dari Amerika Serikat (AS). Sementara itu bila dilihat dari tahun-tahun sebelumnya, total impor kedelai mencapai 2,67 juta ton di 2017, 2,58 juta ton di 2018, dan 2,67 juta ton di 2019.

“Impor sebenarnya dibutuhkan karena ada kesenjangan antara kebutuhan dengan ketersediaan. Selain itu, kedelai nasional juga sulit terserap karena tidak mampu bersaing dengan kedelai impor yang lebih berkualitas baik dengan harga lebih murah. Selain problem produktivitas, faktor harga jual di tingkat petani dinilai berpengaruh besar terhadap pengembangan kedelai lokal. Tidak jarang petani kedelai memilih menanam komoditas lain,” jelasnya.

Menurut Felippa, ada beberapa hal yang memengaruhi rendahnya produktivitas kedelai nasional. Yang pertama adalah faktor iklim. Kedelai adalah tanaman yang sebenarnya merupakan tanaman sub-tropis, sehingga pertumbuhan di daerah tropis seperti Indonesia menjadi tidak maksimal.

“Iklim adalah salah satu faktor yang memengaruhi tingkat produktivitas. Usaha produksi kedelai di Indonesia harus menyesuaikan dengan pola dan rotasi tanam,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Felippa, kedelai adalah jenis tanaman yang membutuhkan kelembaban tanah yang cukup dan suhu yang relatif tinggi untuk pertumbuhan yang optimal. Sementara itu di Indonesia, curah hujan yang tinggi pada musim hujan sering berakibat tanah menjadi jenuh air. Selain itu drainase yang buruk juga menyebabkan tanah menjadi kurang ideal untuk pertumbuhan kedelai.

“Permasalahan lahan yang terbatas juga perlu diperhatikan. Lahan yang cocok untuk ditanami kacang kedelai harus memiliki kadar pH yang netral dengan kedalaman minimal 20 sentimeter. Jenis lahan seperti ini tidak tersedia di semua wilayah Indonesia,” tuturnya.

Diakui Felippa, meningkatkan produktivitas bukanlah hal mudah, sebab diperlukan pembinaan dan pendampingan bagi petani kedelai, serta investasi. Dengan pembinaan yang intensif, maka produktivitas bisa meningkat. Pembinaan dapat dilakukan, antara lain dengan penggunaan benih, pupuk dan sarana produksi lain yang tepat. Selain itu, pembinaan juga dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak swasta.

“Satu hal lagi yang harus diperhatikan adalah penggunaan lahan yang hanya diperuntukkan untuk kedelai. Selama ini petani belum menilai kedelai sebagai tanaman utama. Kedelai masih diposisikan sebagai tanaman penyelang atau selingan bagi tanaman utama padi, jagung, tebu, tembakau, bawang merah atau tanaman lainnya,” ujar Felippa.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo telah menegaskan, Kementerian Pertanian (Kemtan) berkomitmen untuk segera meningkatkan produksi kedelai dalam negeri. "Petani lebih memilih untuk menanam komoditas lain yang punya kepastian pasar. Tapi kami terus mendorong petani untuk melakukan budidaya (kedelai). Program aksi nyatanya kami susun dan yang terpenting hingga implementasinya di lapangan," kata Syahrul Yasin Limpo.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan (Kemdag), Suhanto juga menyampaikan, faktor utama penyebab kenaikan harga kedelai dunia belakangan ini diakibatkan lonjakan permintaan kedelai dari Tiongkok kepada Amerika Serikat selaku eksportir kedelai terbesar dunia.

Pada Desember 2020, permintaan kedelai Tiongkok naik dua kali lipat, yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton. Hal ini mengakibatkan berkurangnya kontainer di beberapa pelabuhan Amerika Serikat, seperti di Los Angeles, Long Beach, dan Savannah sehingga terjadi hambatan pasokan terhadap negara importir kedelai lain termasuk Indonesia.

Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Perdagangan, pada Desember 2020 harga kedelai dunia tercatat sebesar US$ 12,95/bushels, naik 9 persen dari bulan sebelumnya yang tercatat US$ 11,92/bushels. Berdasarkan data The Food and Agriculture Organization (FAO), harga rata-rata kedelai pada Desember 2020 tercatat sebesar US$ 461 /ton, naik 6 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat US$ 435/ton.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Kurs Rupiah Terdepresiasi Tipis ke Rp 13.865

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan sore hari ini, Selasa (5/1/2021), terpantau melemah ke kisaran Rp 13.865.

EKONOMI | 5 Januari 2021

NYSE Batalkan Delisting 3 Perusahaan Tiongkok, Bursa Asia Mixed

Nikkei 225 turun 0,37%, indeks komposit Shanghai naik 0,73%, Hang Seng Hong Kong naik 0,64%, ASX 200 Australia turun 0,03%, Kospi Korsel naik 1,57%.

EKONOMI | 5 Januari 2021

Akselerasi Transformasi Digital, Ini 6 Fokus Utama Kemkominfo di 2021

Kemkominfo telah menetapkan enam fokus utama di tahun 2021 untuk mendorong akselerasi transformasi digital di Indonesia.

EKONOMI | 5 Januari 2021

IHSG Menguat 0,5% ke 6.137

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,53% ke kisaran 6.137,3 pada akhir perdagangan hari ini, Selasa (5/1/2021).

EKONOMI | 5 Januari 2021

Tol Cisumdawu Seksi 6B dan Tol Ancol Timur–Pluit Elevated Mulai Dibangun

Dua kontrak pembangunan ruas tol tersebut sangat krusial dan kehadirannya ditunggu masyarakat. Bahkan, khusus Tol Cisumdawu, yang menjadi prioritas Jokowi.

EKONOMI | 5 Januari 2021

Maybank Sabet Penghargaan Bank Pendukung UMKM Terbaik dari BI

Maybank mendapatkan penghargaan dari BI sebagai Bank Pendukung UMKM Terbaik untuk kategori Bank BUKU 3 dan 4.

EKONOMI | 5 Januari 2021

BI Perluas Ruang Lingkup Perlindungan Konsumen

Ruang lingkup perlindungan konsumen BI sebelumnya hanya mencakup sistem pembayaran, kini mencakup seluruh bidang tugas kewenangan BI.

EKONOMI | 5 Januari 2021

Libur Akhir Tahun, Jumlah Penumpang Semua Moda Transportasi Turun

Pada angkutan bus turun, terdapat penurunan jumlah penumpang sebanyak 59,87% sedangkan angkutan udara turun 42,30%.

EKONOMI | 5 Januari 2021

Tekan Kemiskinan Ekstrem, Pemerintah Reformasi Sistem Perlindungan Sosial

Reformasi sistem perlindungan sosial ini akan dilaksanakan dengan mengintegrasikan program-program yang sudah berjalan agar menjadi lebih efektif.

EKONOMI | 5 Januari 2021

Investasi LG, Momentum RI Jadi Pemain Industri Kelas Dunia

Minggu lalu (30/12), LG Energy Solution mengumumkan investasi senilai US$ 9,8 miliar atau sekitar Rp142 triliun.

EKONOMI | 5 Januari 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS