Walau Pandemi, Peserta BPJamsostek Tetap Peroleh Imbal Hasil di Atas Deposito
Logo BeritaSatu
INDEX

BISNIS-27 525.47 (0.85)   |   COMPOSITE 6359.21 (15.51)   |   DBX 1342.2 (23.72)   |   I-GRADE 184.288 (0.06)   |   IDX30 516.126 (0.2)   |   IDX80 138.807 (-0.14)   |   IDXBUMN20 408.536 (-1.82)   |   IDXESGL 142.044 (0.13)   |   IDXG30 145.076 (0.14)   |   IDXHIDIV20 455.222 (0.07)   |   IDXQ30 147.857 (0.16)   |   IDXSMC-COM 298.089 (1.86)   |   IDXSMC-LIQ 362.717 (-0.59)   |   IDXV30 136.649 (-0.62)   |   INFOBANK15 1071.96 (3.09)   |   Investor33 444.599 (0.37)   |   ISSI 184.85 (-0.27)   |   JII 633.797 (-0.98)   |   JII70 223.435 (-0.24)   |   KOMPAS100 1241.07 (-0.39)   |   LQ45 967.658 (-0.09)   |   MBX 1728.33 (-0.28)   |   MNC36 329.04 (0.2)   |   PEFINDO25 326.697 (0.59)   |   SMInfra18 315.108 (-1.25)   |   SRI-KEHATI 378.138 (0.56)   |  

Tahun 2020, BPJamsostek Berhasil Bukukan Iuran Peserta Rp 73,31 Triliun

Walau Pandemi, Peserta BPJamsostek Tetap Peroleh Imbal Hasil di Atas Deposito

Selasa, 19 Januari 2021 | 17:52 WIB
Oleh : Siprianus Edi Hardum / EHD

Jakarta, Beritasatu.com - Tahun 2020 menjadi tahun yang sangat berat karena efek dari pandemi Covid-19. Namun meski demikian Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJamsostek) tetap mencatatkan hasil positif pada kinerja institusi sepanjang tahun 2020 tersebut. Antara lain kinerja pada bidang investasi, kepesertaan, dan pelayanan.

Demikian dikatakan Direktur Utama BPJamsostek, Agus Susanto, kepada Beritasatu.com, Selasa (19/1/2020).
Ia mengatakan, sepanjang tahun 2020, penerimaan iuran (unaudited) BPJamsostek tercatat berhasil dibukukan sebesar Rp 73,31 triliun, walaupun terdapat implementasi Peraturan Pemerintah (PP) 49 Tahun 2020 tentang Relaksasi Iuran Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JK) sebesar 99% dan penangguhan Program Jaminan Pensiun (JP) sebesar 99%.

Iuran tersebut, kata dia, ditambah pengelolaan investasi berkontribusi pada peningkatan dana kelolaan mencapai Rp 486,38 triliun pada akhir Desember 2020.

Ia mengatakan, BPJamsostek juga mencatatkan hasil investasi sebesar Rp 32,30 triliun, dengan Yield on Investment (YOI) yang didapat sebesar 7,38%. Dana dan hasil Investasi tersebut mengalami pertumbuhan masing masing sebesar 12,59% dan 10,85% dibandingkan tahun akhir 2019.

Agus mengutarakan, investasi BPJamsostek dilaksanakan berdasarkan PP Nomor 99 tahun 2013 dan PP Nomor 55 tahun 2015, yang mengatur jenis instrumen-instrumen investasi yang diperbolehkan berikut dengan batasan-batasannya.

Ada juga Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 1 tahun 2016 yang juga mengharuskan penempatan pada Surat Berharga Negara sebesar minimal 50%. "Untuk alokasi dana investasi, BPJamsostek menempatkan sebesar 64% pada surat utang, 17% saham, 10% deposito, 8% reksadana, dan investasi langsung sebesar 1%,” tuturnya.

Selama masa pandemi, pengelolaan dana investasi mendapatkan tantangan yang cukup berat, mengingat dampak pandemi Covid-19 dirasakan oleh seluruh bidang usaha di dalam negeri. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada awal tahun 2020 dibuka melemah, bahkan sempat terseok ke level 3000-an pasca ditetapkannya Covid-19 sebagai pandemi global.

“Kondisi pandemi termasuk pasar investasi global dan regional tentunya memiliki pengaruh pada hasil investasi yang diraih oleh industri jasa keuangan pada tahun 2020. Tapi kami telah mengalihkan mayoritas portofolio pada instrumen fixed income hingga mencapai 74% dari total portofolio, sehingga tidak berpengaruh langsung dengan fluktuasi IHSG,” ujar Agus.

Agus mencontohkan pada investasi saham, mayoritas penempatan atau 98% penempatan dana dilakukan pada saham kategori Blue Chip atau LQ45. Meski demikian, penempatan pada saham non LQ45 juga tetap dilakukan dengan menerapkan protokol investasi yang ketat. Jumlah saham non LQ45 tersebut hanya sekitar 2% besarannya dari total portofolio saham BPJamsostek.

“Untuk saham, BPJamsostek hanya berinvestasi pada emiten BUMN, emiten dengan saham yang mudah diperjualbelikan, berkapitalisasi besar, memiliki likuiditas yang baik dan memberikan deviden secara periodik. Tentunya faktor analisa fundamental dan review risiko menjadi pertimbangan utama dalam melakukan seleksi emiten. Jadi, tidak ada investasi pada saham-saham gorengan,” tegas Agus.

Dirinya menambahkan, untuk lebih memaksimalkan hasil kelolaan investasi, BPJamsostek juga mengurangi broker fee atau biaya transaksi penempatan dana dengan manajer investasi.

Agus juga menjelaskan, dengan kinerja pengelolaan dana di atas, sebagai Badan Hukum Publik yang bersifat nirlaba, seluruh hasil pengelolaan dana dikembalikan kepada peserta, sehingga BPJamsostek dapat memberikan hasil pengembangan Jaminan Hari Tua (JHT) kepada pesertanya mencapai 5,63% p.a yang tentunya selalu di atas rata-rata bunga deposito bank pemerintah yang pada tahun 2020 ini sebesar 3,87%.

Jika ditilik dari tahun 2016 hingga 2020 saja, kata dia, dana kelolaan BPJamsostek dapat tumbuh mencapai 2 kali lipat dengan CAGR sebesar 18,74%, hingga mencapai Rp 486,38 triliun. Padahal sejak tahun 1977 hingga 2015, dana kelolaan BPJamsostek berada pada angka Rp206,58 triliun.

Hal ini jelas membuktikan kinerja BPJamsostek dalam meningkatkan kepesertaan dan mengelola dana investasi sangat baik dengan peningkatan signifikan dari dana kelolaan yang diperoleh.

Peningkatan dana kelolaan investasinya ini juga tentunya tidak lepas dari protokol penempatan dana yang dimiliki BPJamsostek yang sangat ketat. Jika dilihat dari aturan yang dimiliki, sangat kecil kemungkinan penempatan dana investasi bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pihak tertentu.

Contohnya pada aturan penempatan dana, kapitalisasi pasar dari emiten yang dituju minimal Rp 3 triliun. Contoh lainnya seperti rerata nilai transaksi saham yang akan dibeli minimal Rp 20 miliar. Protokol ketat dalam mengatur penempatan dana investasi ini yang menjadi rahasia BPJamsostek agar tetap mendapatkan hasil investasi yang selalu meningkat, untuk kepentingan seluruh peserta BPJamsostek.

Menilik kinerja kepesertaan BPJamsostek, total 50,72 juta pekerja telah terdaftar sebagai peserta BPJamsostek hingga akhir Desember 2020.

Hasil ini merupakan pencapaian yang positif untuk mengakhiri tahun 2020, meski dengan kondisi pandemi Covid-19 yang juga tidak kalah menantang bagi peningkatan kepesertaan.

“Sementara dari sisi perusahaan peserta atau pemberi kerja, pada periode yang sama capaian yang diraih oleh BPJamsostek sebesar 683,7 ribu perusahaan,” kata dia.

Melalui inisiatif Penggerak Jaminan Sosial Indonesia (Perisai), BPJamsostek juga mendorong kepesertaan pekerja Bukan Penerima Upah (BPU) dan Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM).

Terhitung sejak 2017 sampai dengan akhir Desember 2020, PERISAI ini telah berkontribusi positif terhadap kepesertaan sebesar 1,6 juta peserta dengan total iuran Rp 364,2 miliar yang dilakukan oleh 4.694 Perisai aktif yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sementara untuk perlindungan kepada Pekerja Migran Indonesia (PMI), terhitung Desember 2020, sebanyak 376,6 ribu PMI telah terlindungi oleh program BPJamsostek dengan nilai iuran mencapai Rp 31,9 miliar.

"Walaupun banyak terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat berkurangnya pendapatan usaha sebagai dampak dari pandemi Covid-19, BPJamsostek tetap dapat melakukan akuisisi peserta sebanyak 17,4 juta untuk tahun 2020,” jelas Agus.
Meski demikian, dirinya mengaku lonjakan klaim JHT imbas dari PHK tidak bisa dihindari, yaitu sebesar 15,22% atau sebanyak 2,2 juta pengajuan klaim JHT pada tahun 2019 dengan nominal yang juga melonjak 24,25% atau sebesar Rp 26,64 triliun.

Sepanjang tahun 2020, pembayaran klaim atau jaminan yang dikucurkan BPJamsostek mengalami peningkatan sebesar 20,01% atau mencapai Rp 36,5 triliun.

Dengan perincian klaim untuk Jaminan Hari Tua (JHT) mencapai Rp33,1 triliun untuk 2,5 juta kasus, Jaminan Kematian (JKM) sebanyak 34,7 ribu kasus dengan nominal sebesar Rp1,35 triliun, Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) sebanyak 221,7 ribu kasus dengan nominal sebesar Rp1,55 triliun, dan Jaminan Pensiun (JP) sebanyak 97,5 ribu kasus dengan nominal sebesar Rp489,47 miliar.

“Tentunya kami akan selalu optimis dengan tetap waspada terhadap tantangan-tantangan yang mungkin akan muncul di depan, seperti dengan mewujudkan transformasi digital berkelanjutan. Tahun 2021 ini harus bisa dijadikan titik balik pulihnya perekonomian Indonesia setelah didera pandemi. BPJamsostek siap mendukung upaya ini agar perlindungan menyeluruh pekerja Indonesia dapat segera terwujud,” pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Menghidupkan UMKM Sebagai 'Engine' Pertumbuhan Ekonomi

UMKM memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga perlu didorong agar bangkit kembali pasca terpuruk akibat pandemi.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Bank Mandiri-Grab Kerja Sama Permudah Akses Keuangan

Bank Mandiri akan mengembangkan sejumlah produk dan layanan keuangan pada platform Grab, di antaranya adalah pengembangan sistem dan teknologi pembayaran.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Kemkop dan UKM Dukung Peningkatan Daya Saing UMKM melalui Kemitraan dengan Usaha Besar

Kemkop dan UKM dukung peningkatan daya saing UMKM melalui kemitraan dengan usaha-usaha besar di Tanah Air.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Joe Biden Dilantik, Ini Dampaknya untuk Ekonomi Indonesia

Pelaku usaha menilai era Joe Biden akan lebih menjanjikan untuk pertumbuhan dan peningkatan relasi ekonomi Indonesia - AS dibandingkan era Donald Trump.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Menkop dan UKM Tingkatkan Kerja Sama di 5 Destinasi Super Prioritas

Kemkop dan UKM bersama Kemperekraf berkomitmen untuk konsisten mengembangkan potensi di lima Destinasi Super Prioritas.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Genjot Pendapatan, AP II Cari Pengelola Tunggal Iklan Outdoor

AP II akan membuka kerja sama pengelolaan iklan outdoor di 13 cabang bandara selama 10 tahun.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Ini 5 Tantangan Ekonomi Syariah di 2021

Perlu strategi khusus untuk membuat pangsa pasar keuangan syariah menjadi lebih besar, setidaknya mencapai 20%.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Ini 5 Saham Pilihan Investor Asing Hari Ini

PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) mencatat beli bersih investor asing sebesar Rp 55,5 miliar. Saham INKP naik 2,2% ke Rp 12.775.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Rupiah Relatif Stabil di Rp 14.050

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan sore hari ini, Selasa (19/1/2021), terpantau menguat tipis ke kisaran Rp 14.050.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Bursa Eropa Menguat, Investor Pantau Laporan Keuangan Emiten-emiten Kakap

Indeks Stoxx600 Eropa naik 0,27%, DAX Jerman naik 0,36%, FTSE Inggris naik 0,48%, CAC Prancis naik 0,24%, FTSE MIB Italia naik 0,45%.

EKONOMI | 19 Januari 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS