KRL Yogyakarta-Solo Akan Saingi KRL Jabodetabek
Logo BeritaSatu

KRL Yogyakarta-Solo Akan Saingi KRL Jabodetabek

Selasa, 19 Januari 2021 | 19:57 WIB
Oleh : Muawwan Daelami / FMB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Perhubungan (Kemhub) bakal mengoperasikan Kereta Rel Listrik (KRL) koridor Yogyakarta-Solo. Koridor tersebut merupakan KRL aglomerasi kedua setelah Jabodetabek.

"Jadi, koridor Yogyakarta-Solo ini, KRL aglomerasi kedua setelah Jabodetabek. Kita bangga bisa mengembangkannya tidak hanya di kawasan Jabodetabek tapi juga di Yogyakarta-Solo," kata Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Zulfikri, Selasa (19/1/2021).

Transformasi dari Kereta Rel Diesel (KRD) ke KRL yang sudah diterapkan di Jabodetabek akan terjadi pula di koridor Yogyakarta-Solo. Tujuannya, untuk meningkatkan pelayanan transportasi perkeretaapian yang efektif dan efisien termasuk peningkatan kapasitas lintas jalur kereta api existing dan penerapan teknologi baru perkeretaapian.

Di bidang teknologi, kata Zulfikri, penggunanan listrik sebagai sumber daya penggerak sarana kereta api dinilai baik secara teknis maupun efektif dan efisien secara pelayanan serta yang terpenting ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan bakar fosil.

Transformasi dari KRD ke KRL di koridor Yogyakarta-Solo juga tidak lepas dari meningkatnya okupansi KRD Prambanan- Ekspress (Prameks) dan bertambahnya panjang jalur yang sampai Stasiun Kutoharjo. Kenaikan okupansi tersebut karena Prameks menghubungkan dua kota penting yakni Yogyakarta-Solo yang saat ini sudah menjadi aglomerasi besar.

Populasi penduduk di koridor Yogyakarta-Solo yang mencapai hampir 10 juta telah membuat permintaan terhadap pelayanan angkutan yang memadai menjadi sangat diperlukan masyarakat.

"Jumlah penduduk aglomerasi antara Yogyakarta-Solo yang berkembang sekitar 10 juta ini sudah mutlak membutuhkan angkutan massal. Selain untuk mendukung kegiatan harian, juga mendukung aksesibilitas bagi para pelajar dan wisatawan. Itu pertimbangan dari sisi kebutuhan demand untuk pergerakan," terang Zulfikri.

Pertimbangan teknis, Yogyakarta-Solo juga sudah memiliki track atau jalur ganda sehingga kapasitasnya sudah cukup banyak untuk dimanfaatkan bagi pergerakan commuter. Walaupun nantinya tetap dibutuhkan double track seperti di Jabodetabek. Namun hal itu direalisasikan setelah melihat tingginya permintaan bangkitan-bangkitan baru.

Lebih lanjut, Zulfikri menambahkan bahwa hasil studi juga telah menunjukkan bahwa pada tahun 2021 potensi penumpang di koridor Yogyakarta-Solo diprediksi mencapai 6 juta. Kemudian di tahun 2035 akan muncul bangkitan-bangkitan baru dengan penyediaan pelayanan yang semakin tinggi. Sehingga sebanyak 29 juta penumpang diperkirakan akan menggunakan jalur angkutan massal koridor Yogyakarta-Solo.

Data tersebutlah yang mendasari mengapa KRL perlu dikembangkan di koridor Yogyakarta-Solo untuk memenuhi kebutuhan permintaan penumpang. Ditambah, guna mendukung saranana transportasi di wilayah aglomerasi atau koridor tersebut yang memiliki banyak objek wisata salah satunya KSPN Borobudur.

"Jadi kita harapkan transformasi ini juga dapat mendukung pariwisata di sekitar KSPN borobudur. Dengan demikian, kehadiran transprotasi umum massal yang ramah lingkungan sangat bermanfaat untuk memudahkan mobilitas dan mendorong pemulihan ekonomi di kawasan yg terdampak covid 19," ucap Zulfikri.

Diuji Coba 20 Januari
Sementara itu, Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Jawa Tengah Putu Sumarjaya melaporkan bahwa progres pekerjaan fisik KRL Yogyakarta-Solo sampai saat ini mencapai 91%. Menyisakan pekerjaan penyelesaian fasilitas pendukung operasi.

"Sampai saat ini, kita sudah menyelesaikan pengujian menyeluruh. Kita juga sudah dan sedang melakukan safety assesment prasarana. Kita juga sudah melakukan integrasi baik dari sisi prasarana dan sarana. Kita juga secara simultan melakukan sinkronisasi antara sarana dan prasarana dan sistem pengopersian," ungkap Putu.

Dengan tahapan dan progres tersebut, ia harapkan sudah bisa melakukan uji coba terbatas mulai 20 Januari 2021 selama 10 hari. Setelahnya, dilakukan ujicoba terbatas sampai dengan akhirnya melakukan melakukan peralihan over dan melakukan operasional secara komersial.

Sejalan dengan Zulfikri, Putu juga menyebut bahwa potensi penumpang keteta api koridor Yogyakarta Solo sangat tinggi. Apalagi saat ini sudah menjadi kawasan aglomerasi sehingga diperlukan teknologi dan transformasi perkeretapaain yang dapat meningkatkan pelayanan baik dari sisi opersional seperti waktu tempuh, aksesibilitas, kapasitas penumpang, peningkatan keselmatan pelayanan perketeapian dan mengurangi polusi.

Pekerjaan transformasi kereta api tersebut dilaksankan dengan biaya investasi cukup besar. Untuk elektrifikasi diperkirakan mencapai Rp 1,2 triliun dengan multiyears contract sejak 2019 sampai 2021 yang melingkupi tiga pekerjaan utama.

Tiga pekerjaan tersebut sebagaian besar merupakan pekerjaan pengadaan sekitar 70% dari total keseluruhan pekerjaan. Ia membeberkan bahwa untuk elektrifikasi dilakukan di 11 stasiun dengan harapan dapat meningkatkan aksesibilitas stasiun yang semula hanya dioperasikan 6 stasiun oleh Kereta Prameks, kini bisa mengoperasikan enam stasiun untuk KRL dari Yogyakarta - Solo Balapan.

"Kita melakukan elekterifikasi sepanjang 60 km jalur dan mengganti sistem persinyalan baik di Stasiun Yogyakarta Lempuyangan maupun di Stasiun Solo Balapan," tutur dia.

Sedangkan di sisi jaringan, Putu mengaku masih mngandalkan jaringan daya dari lima sumber daya PLN utntuk diditsribusikan ke delapan gardu listrik yang dimiliki guna mendukun elektrifikasi KRL ini secara langsung. Pembagian daya tersebut bertujuan untuk meminimalisasi terjadinya gangguan di satu daya PLN sehingga masih bisa dipenuhi oleh sumber daya PLN yang lain.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Menparekraf: Kopi Jawa Barat Miliki Potensi Ekspor

Data BPS tahun 2019 menyebutkan, jumlah produksi kopi di Jawa Barat mencapai lebih dari 21.000 ton per tahun.

EKONOMI | 19 Januari 2021

OJK Akan Banding Putusan PTUN Gugatan Bosowa

OJK diminta menunda pelaksanaan tentang hasil penilaian kembali Bosowa selaku pemegang saham pengendali PT Bank Bukopin Tbk sampai ada putusan pengadilan tetap.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Sun Paper Source Catat Ekspor Tisu Tumbuh 6%

Sun Paper mencanangkan target sebagai salah satu produsen tisu terbesar di Asia Tenggara.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Bukopin Lanjutkan Transformasi Baru di 2021

Hal ini untuk menjaga dukungan pemegang saham, kepercayaan nasabah, serta memberikan confident level yang tinggi dalam meyakinkan masyarakat.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Ekonomi Syariah Percepat Pemulihan Ekonomi Nasional

Ekonomi syariah telah menjadi sumber pertumbuhan baru yang bisa membantu dalam percepatan pemulihan ekonomi nasional.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Walau Pandemi, Peserta BPJamsostek Tetap Peroleh Imbal Hasil di Atas Deposito

Selama Pandemi Covid-19, Kinerja BPJamsostek tetap bagus.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Menghidupkan UMKM Sebagai 'Engine' Pertumbuhan Ekonomi

UMKM memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga perlu didorong agar bangkit kembali pasca terpuruk akibat pandemi.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Bank Mandiri-Grab Kerja Sama Permudah Akses Keuangan

Bank Mandiri akan mengembangkan sejumlah produk dan layanan keuangan pada platform Grab, di antaranya adalah pengembangan sistem dan teknologi pembayaran.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Kemkop dan UKM Dukung Peningkatan Daya Saing UMKM melalui Kemitraan dengan Usaha Besar

Kemkop dan UKM dukung peningkatan daya saing UMKM melalui kemitraan dengan usaha-usaha besar di Tanah Air.

EKONOMI | 19 Januari 2021

Joe Biden Dilantik, Ini Dampaknya untuk Ekonomi Indonesia

Pelaku usaha menilai era Joe Biden akan lebih menjanjikan untuk pertumbuhan dan peningkatan relasi ekonomi Indonesia - AS dibandingkan era Donald Trump.

EKONOMI | 19 Januari 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS