Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur Terhambat Kebijakan Impor
Logo BeritaSatu

Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur Terhambat Kebijakan Impor

Rabu, 20 Januari 2021 | 19:14 WIB
Oleh : Herman / FMB

Jakarta, Beritasatu.com – Ekonom senior Core Indonesia, Ina Primiana melihat kendala utama yang dihadapi industri manufaktur Indonesia selama ini adalah masalah daya saing. Kondisi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kebijakan yang memudahkan impor.

Diungkapkan Ina, pertumbuhan industri manufaktur terus mengalami penurunan dalam 10 tahun terakhir. Pada 2010, pertumbuhannya sebesar 6,4%, kemudian di 2019 hanya 4,01%. Pertumbuhan ini juga lebih rendah dari laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain itu, kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) sejak 2015 juga relatif stagnan berkisar 20%.

“Kebijakan yang memudahkan impor menyebabkan industri dalam negeri tidak dapat bersaing dengan barang impor yang harganya jauh lebih murah, sehingga penggunaan bahan baku dan bahan penolong impor lebih menjadi prioritas. Sedangkan kemudahan impor tidak berkorelasi dengan kenaikan impor dan investasi,” kata Ina Primiana dalam webinar “Agenda Reindustrialisasi Pasca-Pandemi” yang digelar Core Indonesia, Rabu (20/1/2021).

Ina juga melihat kebijakan impor atau free trade agreement (FTA) dilakukan tanpa mempersiapkan terlebih dahulu amunisi bagi industri nasional, sehingga langsung tergerus oleh produk impor. Kemudian kebijakan yang ada juga kurang tegas terhadap impor ilegal, ataupun penyalahgunaan penggunaan fasilitas impor yang telah menyuburkan bisnis online belanja barang impor.

“Berikutnya adalah tidak ada jaminan pasar bagi produk industri dalam negeri, sehingga tidak mampu bersaing. Jadi memang kesempatan dan kepercayaan terhadap industri dalam negeri itu rendah. Kadang-kadang produk dalam negeri lebih mahal karena tidak ada intervensi yang dilakukan pemerintah,” kata Ina.

Hal lainnya yang menyebabkan daya saing industri manufaktur kalah yaitu lemahnya research and development (R&D), sehingga desain produk industri dalam negeri dianggap ketinggalan dan kurang memenuhi kebutuhan industri hilir atau perdagangan. Ditambah lagi dengan mahalnya biaya logistik lantaran penerapan infrastruktur logistik belum terintegrasi dan menciptakan biaya ekonomi tinggi, serta mahalnya biaya energi bagi industri.

“Indonesia juga kurang memanfaatkan Non Tariff Measures (NTM) untuk menghadapi barang impor,” tambah Ina.

Sehingga menurut Ina, Rancangan Peraturan pemerintah (RPP) yang menjadi peraturan pelaksana Undang-Undang Cipta Kerja akan mampu mendorong reindustrialisasi, bila pasal-pasal yang ada mengatur beberapa persoalan yang dihadapi industri manufaktur tersebut. Dengan begitu daya saing industri manufaktur akan meningkat, serta surplus neraca perdagangan industri bisa tetap terjaga dan meningkat.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Presiden Perintahkan Pengawasan Pesawat Diperketat

Presiden Jokowi mengapresiasi, usaha tim gabungan pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat Sriwijaya Air.

EKONOMI | 20 Januari 2021

Kemperin Sukses Selenggarakan Indonesia Good Design Selection 2020

Kemperin sukses menyelenggarakan Indonesia Good Design Selection (IGDS) 2020.

EKONOMI | 20 Januari 2021

Kemenparekraf Gandeng Kemendes PDTT Bangun Desa Wisata

Kemenparekraf dan Kemendes PDTT bersinergi program untuk mengembangkan desa wisata di Indonesia.

EKONOMI | 20 Januari 2021

Diborong Investor Asing, Saham BRI dan Mandiri Naik Hampir 6%

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat beli bersih investor asing sebesar Rp 329,4 miliar. Saham BBRI naik 5,84% ke Rp 4.890.

EKONOMI | 20 Januari 2021

Bursa Eropa Positif Jelang Pelantikan Biden

Indeks Stoxx600 naik 0,35%, DAX Jerman naik 0,26%, FTSE Inggris turun 0,11%, CAC Prancis naik 0,28%, FTSE MIB Italia naik 0,45%.

EKONOMI | 20 Januari 2021

Kurs Rupiah Menguat ke Rp 14.020

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan sore hari ini, Rabu (20/1/2021), terpantau menguat ke kisaran Rp 14.020.

EKONOMI | 20 Januari 2021

IHSG Menguat 1,7% Ditopang Aksi Beli Asing

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,71% ke kisaran 6.429,76 pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (20/1/2021).

EKONOMI | 20 Januari 2021

Jack Ma Muncul, Saham Alibaba Melesat

Nikkei 225 Tokyo turun 0,38%, indeks komposit Shanghai naik 0,47%, Hang Seng Hong Kong naik 1,04%, ASX 200 Australia naik 0,41%, Kospi Korsel naik 0,71%

EKONOMI | 20 Januari 2021

Pembiayaan Proyek Infrastruktur SBSN 2021 Rp 27,58 Triliun, Ini Rinciannya

Alokasi pembiayaan proyek infrastruktur melalui SBSN sebesar Rp 27,58 triliun, meningkat dari alokasi tahun 2020 yang sebesar Rp 27,35 triliun.

EKONOMI | 20 Januari 2021

Telkom Kembali Hadirkan Tayangan Olahraga Bergengsi melalui Channel Usee Sports di IndiHome TV

Mengawali tahun 2021, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) kembali menghadirkan tayangan yang paling ditunggu oleh pecinta olahraga tanah air

EKONOMI | 20 Januari 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS