GBG Rilis Enam Cara LK Asia Pasifik Berkembang di 2021
Logo BeritaSatu

GBG Rilis Enam Cara LK Asia Pasifik Berkembang di 2021

Kamis, 21 Januari 2021 | 10:31 WIB
Oleh : Happy Amanda Amalia / PYA

Jakarta, Beritasatu.com – Tren Lembaga Keuangan (LK) 2021 diprediksi dipengaruhi oleh respon politik, dan sosial terhadap pandemi, ketahanan keuangan, tren teknologi finansial (TekFin), serta adopsi teknologi LK memiliki peranan yang besar.

Sementara itu tahun lalu, LK didorong untuk mengedepankan perencanaan, implementasi dan optimalisasi teknologi. Hal ini dilatarbelakangi oleh 71% pembuat keputusan di bidang teknologi Asia Pasifik yang mengatakan bahwa pandemi telah menyebabkan organisasi harus meningkatkan transformasi digital.

Sekitar 70% dari perusahaan layanan keuangan di Asia Pasifik juga mengakui bahwa inovasi adalah sebuah “keharusan”. Pasalnya, kecepatan pertumbuhan investasi, dan penambahan sumber daya mencerminkan dampak pandemi Covid-19 dalam memaksa konsumen dan perusahaan untuk beralih ke digital dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam siaran pers, Kamis (21/1), Managing Director of APAC of GBG Dev Dhiman merilis enam cara agar LK di Asia Pasifik berkembang di 2021:

1. Dikotomi investasi teknologi fraud

Untuk negara-negara yang masih terdampak, LK akan membuat pendekatan yang lebih tradisional terhadap investasi secara keseluruhan dan mempertahankan arus kas. Walau demikian, turunnya prioritas investasi teknologi fraud malah berpotensi membuat mereka tidak siap melawan arus kejahatan finansial dan fraud yang semakin tinggi, yang merupakan imbas dari ketegangan ekonomi yang sedang berlangsung dan pengurangan bantuan subsidi pemerintah untuk individu ataupun bisnis.

Di Asia Tenggara, negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina akan perlu memperkuat teknologi pencegahan fraud untuk melindungi diri terhadap kejahatan keuangan yang diakibatkan tekanan ekonomi. Terutama karena sistem pendeteksi fraud mendasar saja tidak akan cukup membendung tipologi kejahatan, dan fraud yang semakin kompleks.

Kebijakan dalam berinvestasi juga harus memperhitungkan keseimbangan antara peningkatan jumlah pengajuan pinjaman, kredit dan transaksi digital, gap dalam sistem deteksi fraud dan persetujuan layanan, serta semakin banyaknya ancaman yang tidak terdeteksi dalam kondisi finansial yang memburuk.

Sedangkan bagi LK di negara yang bangkit atau sudah keluar dari pandemi, seperti Singapura, Australia, Vietnam, dan Taiwan, walau tingkat kepercayaan pasar lebih tinggi, pengeluaran tetap hati-hati, karena prioritas utama tetap menjaga arus keuangan.

Daripada merombak sistem fraud and compliance, LK akan cenderung memilih mengkalibrasi sistem yang ada dengan memperbarui, dan mengoptimalkan manajemen onboarding digital dan pembayaran, serta teknologi pengawasan transaksi. Investasi akan dilakukan secara lebih spesifik pada gap, dan data intelijen, antara lain data alternatif untuk onboarding cohort yang lebih menantang, menciptakan kesiapan terhadap ancaman siber endpoint, dan analisa hubungan yang bisa menjadi bagian strategi pertumbuhan akuisisi dan bertahan terhadap jumlah dan kompleksitas fraud online yang semakin tinggi.

2. Ekspektasi CX digital terus meningkat

Konsumen kini memiliki ekspektasi tinggi terhadap upaya customer experience (CX) yang didorong oleh pengalaman e-commerce yang diberikan Amazon, Alibaba, dan Google, yang kerap memberikan pengantaran hari yang sama, pelacakan pengiriman real-time, pengiriman dan pengemasan yang bisa dipersonalisasi, gratis ongkir, dan banyak lagi.

Ekspektasi tersebut berpengaruh terhadap bagaimana nasabah berinteraksi, dan menjadi pedoman CX untuk LK. Perusahaan yang merespons tuntutan pelanggan dengan cepat mampu memenangkan dan mempertahankan loyalitas pelanggan. Bahkan studi terbaru menunjukkan, 7 dari 10 pelanggan menunjukkan loyalitas yang lebih tinggi kepada layanan keuangan, dan asuransi yang banyak melakukan investasi di CX.

Untuk membawa CX ke tingkat selanjutnya, tidaklah mengherankan jika industri keuangan akan menerapkan sistem yang telah sukses diadopsi oleh perusahaan retail ritel seperti contohnya penggunaan Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) untuk menciptakan pengalaman seperti di toko fisik, yang bisa memberi pengalaman layanan finansial seperti di kantor cabang.

Penelitian baru menunjukkan bahwa pelanggan cenderung lebih berminat untuk berinteraksi dengan orang lain ketika berkomunikasi dengan chatbot berbasis Artificial Intelligence (AI), di mana 35% pelanggan mengatakan bahwa pengalaman yang diberikan LK kurang memenuhi harapan.

3. Membentuk kembali standar digitalisasi

Meningkatnya ketergantungan pada solusi identitas digital, yang terbukti meningkatkan kualitas layanan dan hasil untuk pengajuan pajak, pensiun dan kebutuhan perbankan, serta mengelola pandemi Covid-19 melalui inisiatif, seperti TraceTogether di Singapura dan sistem pelacakan kontak di Australia.

Kolaborasi perusahaan-perusahaan besar di era perbankan digital mendemonstrasikan investasi di berbagai industri yang sebelumnya tampak tidak mungkin untuk bekerja sama secara efektif dalam melayani pelanggan skala besar.

Pada 2021 dan seterusnya, pola pikir kolaboratif ini akan semakin banyak digunakan, seiring dengan dibentuknya kerja sama antara pemerintah dan lembaga hukum untuk mendorong adanya identitas digital, dan kerjasama dengan penyedia jasa telekomunikasi, institusi pendidikan dan agregator layanan untuk menciptakan data set yang lebih lengkap dan akurat.

LK akan semakin aktif dalam mempelajari pemanfaatan data set ini, lebih dari sekadar data dasar dan sumber resmi, untuk kemudian dimasukkan ke dalam inti mesin fraud mereka untuk meningkatkan kemampuan deteksi dan pencegahan. LK juga sudah menciptakan berbagai kemitraan baru untuk membuat penawaran pasar yang baru.

Keterbukaan dan inovasi ini akan memperkuat manajemen fraud dan meningkatkan penggunaan ekosistem yang bisa menambah tebal lapisan data dengan intelijen berbasis lokasi, perangkat bergerak, keamanan siber, korelasi data dan IP. Pendekatan yang semakin luas dan dalam ini akan membuat LK lebih efisien dalam menangani fraud seiring dengan semakin canggihnya dunia digital.

4. Ketersediaan penawaran kredit jangka pendek di Asia Tenggara

Munculnya layanan Buy Now, Pay Later (BNPL) telah mendisrupsi lansekap pinjaman dengan menyediakan pinjaman jangka pendek untuk membeli kebutuhan sehari-hari, termasuk pakaian, furnitur, dan elektronik, dengan pemeriksaan kredit yang cepat atau tidak ada sama sekali, persetujuan instan, dan “bunga nol”, yang sudah ramai digunakan masyarakat.

Konsep BNPL sudah menyebar di Asia Pasifik, dan pemain BPNL di seluruh wilayah ini dengan cepat memanfaatkan peluang untuk memberikan jenis pinjaman baru yang lebih gesit. Khususnya, bagi produk dari usaha kecil yang populer untuk dibeli menggunakan layanan BNPL, serta pembelian barang atau jasa yang biasanya tidak dibeli langsung, dan harus menabung jauh hari, seperti contohnya perjalanan internasional dan liburan.

Karena stabilitas keuangan dan ekonomi di kawasan Asia Tenggara memiliki perbedaan antara negara dan kotanya, LK harus tetap waspada terhadap bagaimana produk BNPL diluncurkan, cara mendistribusikan pinjaman, dan cara mengelola hutang. Walau layanan ini sangat populer dan memberikan keuntungan tinggi bagi nasabah yang menginginkan fleksibilitas keuangan, kemerosotan ekonomi dapat menyebabkan muncunya lebih banyak pinjaman yang tidak dapat dibayar dan peminjam dengan risiko tinggi.

Dalam target pasar BNPL yang menyasar milenial muda juga banyak yang tidak memiliki sejarah kredit sebelumnya. LK yang hendak menumbuhkan layanan BNPL mereka harus membangun sistem, dan teknologi yang kuat untuk onboard nasabah yang memang memiliki kemampuan dan kemauan untuk membayar kembali pinjaman mereka, sambil tetap menjaga pengalaman BNPL agar memastikan bahwa sumber pendapatan ini tidak akan merugi di kemudian hari.

5. Teknologi perangkat bergerak dan intelijen data

Tidak hanya mengubah operasional menjadi digital, konsumen dan bisnis juga semakin bergeser ke arah mobile-first. Hal ini didorong oleh semakin pentingnya peran perangkat bergerak dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu perangkat bergerak juga bisa menjadi alat yang tepat untuk memahami profil nasabah dan identifikasi perorangan. Dalam masa pandemi, peran perangkat bergerak semakin meningkat, contohnya bagaimana data Facebook mobility membantu memahami penyebaran Covid-19 dalam komunitas, dan semakin banyak bank di dunia yang menggunakan metode verifikasi identitas contactless melalui perangkat bergerak di tengah pembatasan sosial.

Layanan finansial melalui perangkat bergerak sangat menguntungkan bagi 1,7 miliar orang dewasa di seluruh dunia yang tidak memiliki rekening bank, dan 1 miliar berada di Asia. Tepatnya, Asia Tenggara merupakan tempat tujuh dari 10 orang dewasa yang tidak punya layanan perbankan atau tidak bisa mendapatkan layanan perbankan, dan membuat mereka tidak punya akses ke layanan finansial.

LK sendisi sudah memulai adanya thin file client atau nasabah yang memiliki identitas minim atau terbatas, menggunakan perangkat bergerak mereka untuk verifikasi identitas. Di masa kini, metadata perangkat bergerak, pola penggunaan perangkat, dan rekaman SIM card semua merupakan data alternatif yang bisa digunakan untuk mengisi gap dan memvalidasi keaslian serta kualitas calon nasabah dan tujuan mereka mengajukan pinjaman untuk bisa meraih segmen yang lebih luas, dan tidak lagi hanya menggunakan dokumen atau cara verifikasi lama.

6. Fraud rekayasa sosial dan kejahatan identitas kompleks

Dengan semakin banyaknya kanal dan cara untuk aktor kejahatan mengakses data pribadi, dan semakin banyaknya perusahaan di luar lingkungan perbankan yang memasukkan dan mengakses informasi perbankan, ada titik lemah bagi LK yang akan semakin terbuka untuk pengumpulan data maupun penyalahgunaan untuk rekayasa sosial, fraud maupun kejahatan identitas.

Di sisi lain, fraud rekayasa sosial pihak pertama, kejahatan seperti ID sintetis dan pemalsuan identitas akan semakin kompleks untuk dideteksi. Tanggung jawab untuk menangkal semua serangan ini, mengelola berbagai kanal informasi pribadi dan melindungi pelaku bisnis dan nasabah dari kejahatan finansial dan identitas ada pada LK.

Seiring meningkatnya ancaman kejahatan finansial, ekspektasi nasabah terhadap komitmen LK melindungi dan memastikan keamanan layanan dan produk finansial yang mereka terima juga akan meningkat. Sebagai hasilnya, perusahaan perbankan dan non-perbankan harus meninjau ulang komitmen mereka untuk kepuasan pelanggan dan nasabah, dengan berinvestasi pada teknologi deteksi dan pencegahan fraud yang lebih canggih dan lincah.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Tarif Sewa Kapal LNG di Asia Tembus Rekor Tertinggi

Tarif spot sewa kapal LNG di Asia meningkat pada Desember 2020 dan Januari 2021 dipicu melonjaknya permintaan.

EKONOMI | 21 Januari 2021

Bursa Asia Menguat, Saham Alibaba Melonjak Setelah Jack Ma Muncul

Saham Alibaba melonjak 8,52% setelah Ma berbicara kepada guru-guru pedesaan.

EKONOMI | 21 Januari 2021

Harga Emas Antam Naik Rp 9.000 Per Gram

Harga per 25 gram Rp 22,687 juta.

EKONOMI | 21 Januari 2021

Kompak, Rupiah dan Mata Uang Asia Menguat di Sesi Pagi

Transaksi rupiah pagi ini diperdagangkan dalam kisaran Rp 14.006-Rp 14.022 per dolar AS.

EKONOMI | 21 Januari 2021

Awali Perdagangan IHSG Dilanda Aksi Beli Saham

Pukul 09.10 WIB, indeks harga saham gabungan naik 14,8 poin (0,21%) menjadi 6.444.

EKONOMI | 21 Januari 2021

Harga Minyak Naik Dipicu Harapan Stimulus Biden

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret ditutup di US$ 56,08 per barel, atau menguat 18 sen.

EKONOMI | 21 Januari 2021

Produk Elektronik, Fesyen, dan Furnitur Dominasi Transaksi Cicilan Akulaku

Produk elektronik masih menempati urutan teratas sebagai kategori barang yang paling diburu konsumen Akulaku.

EKONOMI | 21 Januari 2021

BKPM: UMKM Jawa dan Luar Jawa yang Ikut Kemitraan Hampir Berimbang

Dari 196 UMKM yang ikut dalam program kemitraan, mayoritas didominasi sektor jasa (41%).

EKONOMI | 21 Januari 2021

IHSG Diprediksi Kembali Menguat, Simak Rekomendasi Sahamnya

IHSG pada perdagagan hari ini akan berada di kisaran 6.383 sampai 6.478.

EKONOMI | 21 Januari 2021

Harga Emas Naik Lebih 1% di Tengah Pelantikan Biden

Harga emas di pasar spot naik 1,3% menjadi US$ 1,863.48 per ounce.

EKONOMI | 21 Januari 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS