Jaga Surplus, Pemerintah Diminta Kendalikan Impor Barang Konsumtif
Logo BeritaSatu
INDEX

BISNIS-27 502.788 (4.65)   |   COMPOSITE 6122.88 (45.91)   |   DBX 1370.08 (6.4)   |   I-GRADE 175.932 (2.01)   |   IDX30 492.65 (5.36)   |   IDX80 132.743 (1.46)   |   IDXBUMN20 383.43 (5.77)   |   IDXESGL 136.189 (1.17)   |   IDXG30 136.661 (1.31)   |   IDXHIDIV20 439.142 (4.16)   |   IDXQ30 142.658 (1.28)   |   IDXSMC-COM 284.07 (1.29)   |   IDXSMC-LIQ 340.315 (4.03)   |   IDXV30 130.843 (1.67)   |   INFOBANK15 1002.8 (10.83)   |   Investor33 425.077 (4.4)   |   ISSI 180.015 (1.37)   |   JII 610.57 (6.12)   |   JII70 214.597 (2.04)   |   KOMPAS100 1179.92 (12.31)   |   LQ45 924.668 (10.2)   |   MBX 1646.91 (13.21)   |   MNC36 314.484 (3.35)   |   PEFINDO25 314.75 (0.73)   |   SMInfra18 301.265 (1.98)   |   SRI-KEHATI 359.316 (3.43)   |  

Jaga Surplus, Pemerintah Diminta Kendalikan Impor Barang Konsumtif

Rabu, 3 Maret 2021 | 19:32 WIB
Oleh : Siprianus Edi Hardum / EHD

Jakarta, Beritasatu.com - Meskipun ada kecenderungan membaiknya pasar perdagangan dunia pada 2021 setelah sempat terpuruk karena pandemi Covid-19 tahun sebelumnya, pemerintah diharapkan tetap hari-hati dalam menjaga neraca perdagangan. Sejumlah pakar meminta pemerintah meningkatkan signifikansi pengendalian impor barang, terutama barang konsumtif.

Harapan ini mengemuka pada Webinar “Pemulihan Ekonomi Nasional Pasca Pandemi Covid-19: Penguatan Ekspor” yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Sosial Politik (PKSP) Universitas Nasional Jakarta, bekerja sama dengan Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan, dan Public Trust Indonesia, di Jakarta, Rabu (3/3/2021).

Webinar yang menghadirkan narasumber Vice President PT. Sucofindo (Persero),Soleh Rusyadi Maryam; Pakar Ekonomi Universitas Nasional Jakarta, I Made Adnyana; dan Rektor Istitut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta, Mukhaer Pakkana.
Mukhaer Pakkana berharap pemerintah melanjutkan momentum surplus perdagangan pada 2020 dengan lebih mengendalikan pertumbuhan impor.

Vice President PT. Sucofindo (Persero) Soleh Rusyadi Maryam mengemukakan nilai ekspor produk Indonesia 2020 mencapai angka terendah sejak tahun 2017, namun surplus yang dicatat (21,737 miliar dollar AS) merupakan yang tertinggi sejak tahun 2015.

Hal ini terjadi bukan karena adanya lonjakan ekspor tetapi karena nilai impor 2020 sebesar US$ 141,568 miliar merupakan yang terendah sejak tahun 2017. “Jadi inilah dampak nyata dari pandemi Covid 19 di tahun 2020,” terang Soleh.

Soleh yakin pemerintah akan terus menggalakkan ekspor meskipun masih dalam situasi pandemi Covid 19. Di sisi lain pemerintah juga harus berani melakukan tindakan ekstrem mengendalikan impor barang konsumsi.

Mengenai importasi produk konsumtif itu, Soleh mengemukakan, sesuai data ada lima produk yang mengalami pertumbuhan impor tertinggi selama 2016-2020, yaitu bahan tambang, perhiasan, produk kimia, buah-buahan dan produk-produk susu (dairy product).

Ia melihat banyak jenis produk impor yang bisa dikendalikan karena bukan merupakan kebutuhan primer.
“Impor perhiasan, buah-buahan, dan susu seharusnya bisa dikendalikan hingga angka minimal,” terang Soleh.

Pengembangan Produk Ekspor

I Made Adnyana mengemukakan, sejumlah upaya yang bisa dilakukan untuk menjaga pasar dan menggenjot ekspor produk Indonesia, di antaranya meningkatkan penetrasi ke pasar non tradisional. Upaya ini dapat dilakukan melalui program pengembangan produk ekspor, pengembangan SDM di bidang ekspor, dan promosi dagang. “Pemerintah harus memfasilitasi pengusaha Indonesia untuk melakukan promosi ke berbagai negara,” kata Adnyana.

Mukhaer Pakkana mengingatkan, terjadinya surplus perdagangan adalah karena harga ekspor naik signifikan dari level terendah pada Mei 2020, sementara pada saat bersamaan harga impor relatif justru lambat kenaikannya.

“Ini memberi peluang bagi usaha berbasis ekspor untuk ekspansi selagi harga pasar tinggi, dan juga peluang pengadaan barang modal dan bahan baku impor selagi harga sedang murah dan rupiah sudah mulai kuat,” terang Mukhaer.

Dari sisi pertumbuhan, Mukhaer menilai Indonesia tidak terlampau terpuruk karena hanya terkontraksi 2,1%. Ia bandingkan dengan Filipina yang minus 9,5%.

Karena itu, Rektor Institut Teknologi Bisnis Ahmad Dahlan itu menilai tingkat konsumsi masyarakat masih bisa lebih digenjot sehingga bisa meningkatkan produksi.

Ia setuju impor produk konsumtif perlu dikendalikan. Namun impor substitusi produk lokal baik untuk ekspor maupun konsumsi lokal perlu didorong karena memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Sri Mulyani: LPI Akan Kurangi Utang Negara untuk Pembangunan Infrastruktur

LPI hadir sebagai bentuk diversifikasi investasi yang dilakukan pemerintah

EKONOMI | 3 Maret 2021

Mandiri Taspen Emisi Obligasi Rp 2 Triliun

PT Mandiri Taspen berencana menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap II senilai Rp 2 triliun, bagian dari Obligasi Berkelanjutan I Rp 4 triliun.

EKONOMI | 3 Maret 2021

Tanda Pemulihan Mulai Terlihat, BI Optimistis Ekonomi RI Tumbuh Hingga 5,3%

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo optimistis ekonomi Indonesia di 2021 akan pulih dan kembali tumbuh positif hingga 5,3%.

EKONOMI | 3 Maret 2021

Kembali Digelar, KKI 2021 Fokus Perkuat Peran Daerah Promosikan Produk UMKM

Bank Indonesia (BI) menyelenggarakan Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2021 seri 1 pada 3-31 Maret 2021 di Lombok.

EKONOMI | 3 Maret 2021

Presiden Jokowi Lapor SPT Pajak Penghasilan secara Daring

Presiden Jokowi telah melaporkan SPT Tahunan melalui aplikasi daring e-filling di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu (3/3/2021).

EKONOMI | 3 Maret 2021

Dukung Percepatan Digitalisasi Smart Industrial Estate Grand Batang City

Guna mendukung program pemerintah untuk pembangunan infrastruktur Grand Batang City yang berada di bawah pengelolaan PT Kawasan Industri Terpadu Batang

EKONOMI | 3 Maret 2021

Paling Aktif, 3,7 Miliar Saham BPD Banten Berpindah Tangan

MCOR melonjak 24,05%, BEKS terangkat 20,00% dan BBRI meningkat 1,04%, namun BBCA tergerus 0.21%, ANTM tergerus 1,10%.

EKONOMI | 3 Maret 2021

Beli Bersih Asing di IHSG Capai Rp 521,1 M, Mayoritas Saham Perbankan dan BUMN

Investor asing memborong saham Rp 521,1 miliar pada penutupan IHSG. BBRI terangkat 1,04%, BBCA tergerus 0,21%, BMRI dan KLBF stagnan dan TLKM menurun 0,58%.

EKONOMI | 3 Maret 2021

Indah Kiat Pulp & Paper Tawarkan Obligasi Rp 3,25 Triliun

PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) menggelar penawaran umum obligasi berkelanjutan I tahap IV tahun 2021 senilai Rp 3,25 triliun.

EKONOMI | 3 Maret 2021

IHSG Menguat, Ini 5 Top Gainers Hari Ini

Top gainers IHSG hari ini, BABP melonjak 34,78%, IKAN meningkat 34,48%, INPC naik 25,00%, BNBA terangkat 24,81% dan MCOR terkerek 24,05%.

EKONOMI | 3 Maret 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS