Latinusa Targetkan Laba 2021 Tumbuh 10%
Logo BeritaSatu

Latinusa Targetkan Laba 2021 Tumbuh 10%

Kamis, 8 April 2021 | 17:22 WIB
Oleh : Lona Olavia / WBP

Jakarta, Beritasatu.com - Produsen tinplate atau pelat timah, PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) atau Latinusa menargetkan pertumbuhan laba 10% mencapai US$ 2,98 juta di tahun 2021 ini. Adapun, pada 2020 perseroan tercatat membukukan laba bersih US$ 2,71 juta atau naik tipis 1,38% dibandingkan 2019 mencapai US$ 2,68 juta.

Presiden Direktur Pelat Timah Nusantara Jetrinaldi mengatakan, seiring pencapaian laba tersebut, pada tahun depan perusahaan akan membagikan dividen ke para pemegang saham. Meski membukukan laba bersih di tahun lalu karena efisiensi dengan menekan pos beban, namun laba komprehensif perseroan minus 2,94% dari US$ 2,58 juta pada tahun 2019 menjadi US$ 2,51 juta. “RUPST memutuskan belum bagi dividen, kalau kita mampu positif di tahun ini kita otomatis akan bagi dividen karena sudah lama pemegang saham berharap adanya dividen,” ujar Jetrinaldi dalam paparan publik usai RUPST perseroan secara virtual, di Jakarta, Kamis (8/4/2021).

Jetrinaldi menambahkan, perusahaan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) US$ 2,9 juta, lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai US$ 4,8 juta. Latinusa yang sahamnya mayoritas dikuasai oleh konsorsium Jepang Nippon Steel Corporation, Mitsui Co Ltd, Nippon Steel Trading Corporation dan Metal One menerapkan prinsip kehati-hatian ditengah ketidakpastian ekonomi global lantaran Pandemi Covid-19. Alhasil, produsen tunggal produk tinplate Tanah Air ini mementingkan efisiensi di segala bidang.

Efisiensi mencakup menekan biaya produksi, meningkatkan inovasi serta mengoptimalkan penggunaan timah. Dengan demikian, kebutuhan belanja modal tahun ini tidak terlalu banyak. ”Capex 2021 sudah mulai lebih ketat US$ 2,9 juta yang difokuskan pada efisiensi pemakaian timah mengingat bahan bakiu timah adalah biaya produksi terbesar kedua setelah TMBP (tin mill black plate). capex itu tapi diluar maintenance,” katanya.

Jetrinaldi mengatakan, pada 2020 pangsa pasar Latinusa naik 1% menjadi 64%, sedangkan 36% dipegang tinplate impor. Segmentasi pasar di tahun lalu, didominasi kemasan tinplate bagi produk susu, biskuit dan permen, kimia, dan makanan. “Dengan dorongan pemerintah yang memaksimalkan produksi dalam negeri, maka diharapkan pangsa pasar bisa naik di atas 64%,” sebut dia.

Meski laba tumbuh tahun 2020, Latinusa mencatatkan penurunan pendapatan 11,25% dari US$ 163,08 juta pada 2019 menjadi US$ 144,73 juta. Pasar lokal hampir menyumbang seluruh pendapatan emiten bersandi NIKL ini yakni 99,15% atau sebesar US$ 143,51 juta. Sisanya, pasar ekspor senilai US$ 1,21 juta, yaitu penjualan ke Italia sebesar US$ 997.482, India US$ 135.887, dan Taiwan sebesar US$ 81.826.

Realisasi volume penjualan pada 2020 di bawah target, yaitu 89,06% karena kondisi pasar tidak kondusif, khususnya dampak pandemi. Sejalan, realisasi produksi juga hanya mencapai 90,70% dari target.

Sementara aset NIKL mencapai US$ 131,92 juta, yang terdiri atas liabilitas senilai US$ 83,54 juta dan ekuitas sebesar US$ 48,38 juta. Adapun jumlah kas dan setara kas sebesar US$ 14,85 juta, menurun 47,67% dari posisi akhir 2019 yang mencapai US$ 28,39 juta.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Ini Tiga Pilar Roadmap Pengembangan Perbankan Syariah

OJK sudah menyusun Roadmap Pengembangan Perbankan Syariah Indonesia (RP2SI) periode 2020 – 2025.

EKONOMI | 8 April 2021

Teten Tetapkan Tujuh Target Kemkop dan UKM sampai 2024

Kemkop dan UKM menggelar Rapat Koordinasi Bidang Koperasi dan UMKM Tahun 2021 di Yogyakarta.

EKONOMI | 8 April 2021

IHSG Menguat, Asing Koleksi BBRI dan Lepas BBCA

Investor asing mencatat transaksi jual bersih (net sell) di semua pasar sebesar Rp 503,11 miliar.

EKONOMI | 8 April 2021

Bank Syariah Harus Jaga Kekhasan agar Dipilih Masyarakat

Beberapa prinsip bank syariah antara lain harus terhindar dari riba atau bunga, gharar atau ketidakjelasan dana, dan maysir atau perjudian.

EKONOMI | 8 April 2021

Covid-19 Belum Hilang, Taiwan Belum Terima PMI

Taiwan belum terima PMI karena Covid-19 belum hilang.

EKONOMI | 8 April 2021

IHSG Menguat, Ini Deretan Saham Top Gainers

Level tertinggi indeks mencapai 6.073,91, sedangkan terendah 6.030,28.

EKONOMI | 8 April 2021

PT Naga Global Perkasa Bangun RS Rahayu Sentosa Garut dan Bandara Dhoho Kediri

PT Naga Global Perkasa melebarkan sayap investasinya di proyek pengurukan tanah Bandara Dhoho Kediri dan pembangunan Rumah Sakit (RS) Rahayu Sentosa Garut.

EKONOMI | 8 April 2021

Kolaborasi Atome dan Mitra Adiperkasa Tumbuhkan Bisnis Ritel

MAP dan Atome Indonesia memiliki kesamaan nilai, yaitu menyediakan akses dan keterjangkauan terhadap merek berkualitas bagi para konsumen Indonesia.

EKONOMI | 8 April 2021

Pembiayaan Syariah Lebih Mahal? Ini Komentar BSI

Chief Economist PT BSI Banjaran Surya Indrastomo membantah anggapan yang menyebutkan kalau pembiayaan syariah lebih mahal daripada bank konvensional.

EKONOMI | 8 April 2021

Sejalan Mata Uang Asia, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 14.535

Rupiah hari ini diperdagangkan dengan kisaran Rp 14.510- Rp 14.570 per dolar AS.

EKONOMI | 8 April 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS