Skema Kompensasi dari Pemerintah Jadi Game Changer Kinerja PGN
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-4)   |   COMPOSITE 5975 (-54)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-17)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (-0)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-16)   |   IDXHIDIV20 416 (-2)   |   IDXINDUST 956 (-20)   |   IDXINFRA 871 (-2)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-4)   |   IDXPROPERT 877 (-10)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-2)   |   IDXTECHNO 3348 (-19)   |   IDXTRANS 1056 (-5)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-10)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-5)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-2)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Skema Kompensasi dari Pemerintah Jadi Game Changer Kinerja PGN

Selasa, 13 April 2021 | 22:02 WIB
Oleh : Lona Olavia / EHD

Jakarta, Beritasatu.com - Kinerja PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN selama 2020 memburuk. Selain dipengaruhi oleh menurunnya konsumsi gas akibat pandemi Covid-19, kinerja PGN juga terpengaruh oleh kebijakan pemerintah menetapkan harga gas bumi US$ 6 per mmbtu kepada industri tertentu sejak April 2020.

Sementara industri tertentu tersebut selama ini menyerap sekitar 70% dari gas yang dialokasikan PGN. Kabarnya PGN harus menanggung kerugian hingga US$ 100 juta atau lebih dari Rp 1,4 triliun akibat harga gas US$ 6 selama 2020.

"Masuk akal jika kerugian PGN akibat harga gas US$ 6 bisa mencapai US$ 100 juta. Karena mayoritas pengguna gas PGN adalah penerima manfaat harga gas US$ 6 itu. Sementara pemerintah tidak memberikan insentif ataupun subsidi sesuai yang diamanatkan dalam regulasi. Situasi sangat merugikan PGN, termasuk investornya di pasar modal," jelas Analis Finvesol Consulting Fendi Susiyanto, Selasa (13/4/2021).

Fendi mengatakan dari kaca mata investor, salah satu hal penting yang menjadi dasar untuk mengambil keputusan investasi saham adalah melihat model bisnis dengan potensi margin yang menguntungkan. Hal itu menjadi faktor pendorong nilai perusahaan akan meningkat jangka panjang.

Secara model bisnis, lanjut Fendi, PGN sebenarnya merupakan emiten dengan fundamental dan prospek bisnis yang menarik. Sebagai inisiator dan pengembang infrastruktur gas bumi, PGN saat ini menguasai lebih dari 80% jaringan gas bumi di seluruh Indonesia. Namun dari total produksi gas nasional sebanyak 6.889 BBTUD, PGN mentransportasikan gas sebesar 1.930 BBTUD, sekitar 28% dan baru mengalirkan niaga gas sekitar 900 BBTUD atau sekitar 15%.

Sayangnya sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dengan komponen harga jual dipatok US$ 6, sementara komponen biaya realitasnya lebih tinggi dan tanpa memperoleh subsidi maka kerugian sulit untuk dihindari.

Padahal sejak tahun 2015 beberapa BUMN kontruksi mendapatkan suntikan dana melalui Penyertaan Modal Pemerintah (PMN) untuk mengembangkan berbagai infrastruktur. Sementara kepada PGN, yang selama ini mengembangkan infrastruktur gas bumi sebagai energi untuk mengurangi energi impor, tak ada sepeserpun bantuan dari pemerintah.

Menurut Fendi, jika alasannya sebagian saham PGN dimiliki asing hal itu tidak masuk akal. Dikotomi asing dan non-asing ini tidak positif untuk mendorong pasar modal Indonesia semakin atraktif. Karena banyak BUMN yang mendapat PMN triliunan rupiah, sahamnya di pasar modal juga dikuasai oleh investor asing.

Secara umum, Fendi menghitung, harga saham berkode PGAS ini secara fundamental dari price to value bagus sekali. Namun dari price to earning ratio justru negatif. Ini menunjukkan secara fundamental kuat, tapi ada dua faktor utama yang menjadi value destroyer bagi saham PGAS saat ini. Pertama, margin bisnis yang terbatas karena harga jual dipatok US$ 6. Kedua adalah sengketa kasus putusan PPN gas bumi dengan DJP.

"Investor pasar modal menunggu kejelasan dari skema kompensasi bagi PGAS dari pemerintah. Hal ini sangat dibutuhkan untuk menjadi game changer atas kinerja keuangan perseroan kedepan," pungkas Fendi.

Adapun sepanjang 2020 PGN mencatat kerugian bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$ 264,77 juta atau sekitar Rp3,84 triliun (1 US$= Rp14.500).



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Instamoney dan Pos Indonesia Jalin Kerja Sama Pengiriman Dana

Melalui kolaborasi dengan Pos Indonesia, Instamoney membawa inovasi baru transfer dana di Indonesia.

EKONOMI | 13 April 2021

Divaluasi US$ 39,6 M, Grab Akan Listing di Nasdaq

Grab akan mencatatkan diri di pasar modal AS Nasdaq dengan kode GRAB setelah merger dengan Altimeter Growth Corp.

EKONOMI | 13 April 2021

Manajemen Zebra Nusantara Berharap Suspensi Saham Segera Dibuka

Saat ini, harga saham Zebra Nusantara berada di posisi Rp 840 per saham. Padahal sebelumnya saham ZBRA masuk ke dalam kategori saham Rp 50.

EKONOMI | 13 April 2021

Terdampak Pandemi, Cahayaputra Asa Keramik Bukukan Pendapatan Rp 217 Miliar

PT Cahayaputra Asa Keramik Tbk (CALL) berhasil mencatatkan pendapatan bersih pada akhir 2020 sebesar Rp 217,01 miliar, menurun sekitar 25,01%.

EKONOMI | 13 April 2021

Crown Group Bakal Buka The Grand Shopping Center Juli 2021

Menurut Prisca, lima gerai ritel lainnya sedang dalam proses negosiasi tentang ruang sewa.

EKONOMI | 13 April 2021

Pelaku Usaha Keberatan atas Kenaikan Tarif Logistik di Pelabuhan Tanjung Priok

Kadin mengajukan keberatan atas kebijakan PT Pelindo II menaikkan sejumlah pos tarif berkisar antara 7% sampai 39% di Pelabuhan Tanjung Priok.

EKONOMI | 13 April 2021

Sempat Terhambat Pandemi, Ekspor Paraffin Wax Kembali Bergairah

Paraffin wax merupakan produk multimanfaat yang diperlukan oleh aneka industri. Mulai dari lilin, ban, batik, balsem, pemberantas hama, hingga kosmetika.

EKONOMI | 13 April 2021

Nasabah MNC Sekuritas Tumbuh 49,9%

Pendapatan MNC Sekuritas dari platform perdagangan saham secara online (online trading) (MNC Trade New) tumbuh 555,8% menjadi Rp 22,6 miliar.

EKONOMI | 13 April 2021

Tujuh Fakta Menarik di Hannover Messe 2021

Indonesia mendapat kesempatan emas menjadi official partner country pada Hannover Messe 2021: Digital Edition yang berlangsung pada 12-16 April 2021.

EKONOMI | 13 April 2021

Ini 5 Saham Teraktif Hari Ini

BBCA turun 1,07%, BBRI menurun 1,19%, BANK naik 10,13%, ASII stagnan, dan TBIG menguat 10,80%.

EKONOMI | 13 April 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS