Solusi Gejolak Baru Harga Kedelai Dinilai Masih Butuh Waktu
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Solusi Gejolak Baru Harga Kedelai Dinilai Masih Butuh Waktu

Rabu, 14 April 2021 | 15:42 WIB
Oleh : Feriawan Hidayat / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir, masyarakat di Tanah Air seperti dihujani oleh pemberitaan soal importasi bahan pangan. Termutakhir adalah polemik perihal rencana impor beras oleh pemerintah di tengah periode panen raya yang akan berlangsung di dalam negeri.

Di tengah polemik terkait rencana impor yang cukup membuat gaduh, masyarakat dalam waktu dekat diprediksi juga akan kembali direpotkan oleh potensi kenaikan harga bahan pangan lainnya, yakni kedelai. Setidaknya, prediksi kenaikan harga bahan baku tempe, tahu dan kecap ini, telah disampaikan Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi, medio Januari lalu.

Saat itu, Mendag memproyeksikan harga komoditas kedelai baru akan memasuki periode kestabilan harga pada pertengahan tahun ini. Bahkan, ia menyebut fluktuasi harga masih bisa terjadi hingga Mei 2021.

Terkerek naiknya harga kedelai di dalam negeri memang tak bisa dilepaskan dari ketergantungan terhadap kedelai impor. Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian (Kemtan), kebutuhan impor kedelai sepanjang 2021 diperkirakan mencapai 2,6 juta ton.

Volume ini hanya mencakup kedelai untuk kebutuhan konsumsi (produksi tahu dan tempe) dan di luar kebutuhan bungkil kedelai untuk industri pakan.

Kenaikan harga pada Januari lalu dipicu tingginya permintaan dunia, menyusul gangguan cuaca di sejumlah negara penghasil utama kedelai, dan ditingkahi dengan kondisi perekonomian dunia.

Saat itu, terjadi gangguan cuaca di Amerika Latin berupa iklim La Nina di Brasil dan Argentina yang menyebabkan kondisi kekeringan sehingga penanaman kedelai mundur dan produksi turun. Argentina pun sempat diwarnai oleh aksi mogok pada sektor distribusi dan pelabuhannya.

Di Asia, Tiongkok yang tingkat demand kedelai untuk pakan ternaknya sempat melandai akibat merebaknya flu babi, belakangan kembali bangkit ketika pandemi ternak tersebut berhasil diatasi. Sekedar catatan, pada awal tahun 2021 pembelian kedelai Tiongkok ke AS meningkat menjadi 28 juta ton dari sebelumnya 15 juta ton.

Menanggapi potensi kenaikan harga produk kedelai akibat masih fluktuatifnya pasokan di pasar global, pengamat ketahanan pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prima Gandhi menyebut, bahwa sebagai negara yang bergantung pada komoditas impor seperti kedelai, maka permasalahan terkait fluktuasi harga di domestik merupakan sebuah konsekuensi logis yang dipastikan akan terus berulang.

Pasalnya, negara-negara penghasil kedelai pun tengah menghadapi ancaman keterbatasan pangan di tengah masa pandemi Covid-19 saat ini.

"Bagi negara-negara pengekspor kedelai, di saat pandemi yang belum jelas kapan akan usai ini, mereka tentu akan memilih untuk mengamankan permintaan dalam negeri dulu. Dan menyimpan stok untuk memenuhi demand di dalam negeri,” ujar Prima, dalam keterangan pers, Rabu (14/4/2021).

Untuk bergerak ke arah swasembada, seperti halnya yang telah diamanatkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), menurutnya bisa saja diupayakan dengan dibarengi sinkronisasi data seputar supply dan demand plus diikuti kejelasan seputar masa depan komoditas kedelai. Hal ini penting untuk memikat petani agar bersedia menanam kedelai.

“Pemerintah bisa memetakan kebutuhan riil kedelai. Dan karena kedelai tidak dikonsumsi rumah tangga secara langsung, bisa diketahui secara presisi kebutuhan di dalam negeri lewat koperasi-koperasi pengrajin tahu dan tempe,” ujar Prima.

Dengan memberikan kepastian pada dua faktor tadi, berikutnya bisa dimulai untuk memanfaatkan lahan-lahan kosong yang dimiliki tiap pemerintah daerah, untuk dijadikan sentra komoditas kedelai.

Prima mengatakan, bahwa Indonesia memiliki sejumlah lembaga riset yang mampu menciptakan varietas-varietas kedelai yang layak ditanami sesuai dengan kondisi geografis tiap daerah. “Di IPB pun sudah ada sejumlah varietas unggul yang siap dibudidayakan,” ujarnya.

Namun, Prima menggarisbawahi pentingnya upaya mendekatkan jarak antara sentra komoditas kedelai dan pusat industri pengrajin tahu, tempe maupun kecap sebagai pasar utama. Di sinilah dibutuhkan akurasi data pasar dan demand produk kedelai.

Dengan kedekatan antara sentra komoditas kedelai dengan para pengrajinnya, tentunya akan didapatkan tingkat cost yang lebih rendah di sisi distribusi.

Prima memaparkan, keamanan pasokan pun bisa terjamin karena para petani kedelai tahu secara pasti berapa volume kedelai yang dibutuhkan oleh para pengrajin di daerah mereka masing-masing.

“Logika ekonomi yang sederhana, satu daerah bisa mencukupi kebutuhan mereka sendiri akan meningkatkan efisiensi produk,” paparnya.

Namun demikian, Prima menyebut upaya ini bukan hal yang bisa dilakukan seperti membalik telapak tangan. Dibutuhkan waktu untuk menciptakan skema budi daya kedelai yang kondusif bagi petani dan konsumen. Sebelum hal itu tercapai, maka pemenuhan kebutuhan pasar domestik dengan cara impor masih menjadi sebuah keniscayaan.

Sementara itu soal rendahnya minat petani menanam kedelai, dikatakan Ketum Gakoptindo, Aip Syarifuddin disebabkan oleh faktor rendahnya yield yang didapat petani jika mereka membudidayakan kedelai.

“Sehingga tingginya harga kedelai sejatinya memang diakibatkan oleh keterbatasan pasokan yang berasal dari dalam negeri, serta tingginya kebutuhan di sejumlah negara importir besar seperti Tiongkok,” jelas Aip.

Aip menyebut lahan dengan tanaman kedelai seluas 1 hektare di Indonesia hanya mampu menghasilkan 1,5 ton-2,5 ton kedelai, atau rata-rata 2 ton per hektare. Sementara, harga jual selama ini masih tertekan di kisaran Rp8.000 per kg akibat standarisasi produk kedelai lokal yang belum terpenuhi oleh petani. "Kita mau beli, tapi harus bersih seperti kedelai impor. Jangan ada daun, batang, tanah, dan sebagainya,” kata Aip.

Tingkat income yang didapat petani kedelai untuk 1 hektare lahan pun masih jauh lebih rendah jika mereka membudidayakan komoditas di luar kedelai, seperti padi dan jagung. Jika hasil produksi rata-rata 2 ton dengan harga Rp8.500 per kilogramnya, maka para petani kedelai hanya menikmati income Rp17 juta untuk periode 100 hari tanam. Sementara jika mereka menanam padi, bisa dihasilkan beras sekira 5-6 ton, dengan income sebesar Rp50-60 juta.

“Jadi ini memang harus diawali oleh program pemerintah. Kementerian Pertanian bisa mencari lahan, dan ditanami kedelai, sehingga nantinya bisa diciptakan soy estate. Dan berikutnya besaran impor bisa ditekan secara perlahan,” kata Aip.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Menguat 2%, IHSG Kembali ke Level 6.050

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 2,07% ke 6.050,3 pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (14/4/2021).

EKONOMI | 14 April 2021

Kurs Rupiah Belum Bergerak dari Kisaran Rp 14.600

Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan sore hari ini, Rabu (14/4/2021), datar di kisaran Rp 14.600.

EKONOMI | 14 April 2021

Mayoritas Bursa Asia Menguat, Saham-saham Teknologi Tiongkok Melesat

Indeks Nikkei 225 Tokyo turun 0,44%, Indeks Komposit Shanghai naik 0,6%, Hang Seng Hong Kong naik 1,24%, S&P/ASX 200 naik 0,66%.

EKONOMI | 14 April 2021

GINSI dan ALFI Dukung Penyesuaian Tarif Layanan Pelabuhan Tanjung Priok

GINSI dan ALFI mendukung penyesuaian tarif layanan di Pelabuhan Tanjung Priok

EKONOMI | 14 April 2021

Bank Indonesia Siapkan Uang Tunai Rp 152 T untuk Ramadan dan Idulfitri Tahun Ini

Bank Indonesia (BI) telah menyiapkan uang tunai sebesar Rp 152,14 triliun selama periode Ramadan atau Idulfitri 1442 H, naik 39,33% dari tahun lalu.

EKONOMI | 14 April 2021

Bulan Mutu Karantina 2021, Bentuk Kepedulian pada Usaha Perikanan

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono meresmikan Bulan Mutu Karantina (BMK) 2021 dari Terminal Peti Kemas Koja, Rabu (14/4/2021).

EKONOMI | 14 April 2021

Kuartal I, Program Pembangunan Sejuta Rumah Capai 160.000 Unit

Kempupera mencatat program Sejuta Rumah pada kuartal I 2021 telah mencapai 164.071 unit rumah.

EKONOMI | 14 April 2021

Rosan: Hannover Messe 2021 Kesempatan Promosi Teknologi Industri Indonesia

Hannover Messe 2021 sebagai pameran teknologi industri terbesar akan memberikan Indonesia kesempatan perkenalkan dan promosikan teknologi industri.

EKONOMI | 14 April 2021

Bussan Auto Finance Tawarkan Obligasi Rp 1,22 Triliun

PT Bussan Auto Finance berencana menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Bussan Auto Finance Tahap II senilai Rp 1,22 triliun.

EKONOMI | 14 April 2021

Transaksi Bitcoin Secara Global Naik, Volume Transaksi Indonesia Hanya 1%

Di Indonesia, Bitcoin sudah ditetapkan sebagai komoditas dan dilindungi kepemilikannya oleh hukum.

EKONOMI | 14 April 2021


BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS