Perbankan Berlomba Transformasi Digital
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Perbankan Berlomba Transformasi Digital

Senin, 19 April 2021 | 22:26 WIB
Oleh : Gita Rossiana / EHD

Jakarta, Beritasatu.com - “Tidak hanya bank kecil yang mengklaim diri sebagai bank digital, bank-bank besar yang sebelumnya memiliki model bisnis tradisional pun berlomba melakukan transformasi digital. Mau tidak mau bank harus siap (dengan digitalisasi), kalau tidak siap akan ditinggalkan nasabah," tutur Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana dalam acara VIP Forum Bank Digital yang diselenggarakan oleh CNBC Indonesia belum lama ini.

Penuturan Heru tersebut mengisyaratkan jika kondisi yang terjadi saat ini memang mengharuskan adanya digitalisasi di perbankan. Apalagi dengan adanya pandemi Covid-19 yang membuat interaksi sosial terhambat, praktis layanan digital sangat dibutuhkan untuk melakukan transaksi perbankan. Bisa dibayangkan, bagaimana bank yang tidak memiliki layanan digital kesulitan bertahan dalam kondisi ini.

Menurut Heru, dari 107 bank konvensional dan bank syariah yang ada di Indonesia, hampir seluruhnya mulai mengarah ke layanan digital. Bank besar seperti PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Permata Tbk mulai mentransformasi diri untuk bisa memberikan layanan digital. Sementara bank kelas menengah dan bank kecil sudah meminta izin untuk bisa menjadi bank digital.

Namun di balik keharusan untuk bisa mengembangkan layanan digital ini, Heru memahami ada risiko yang harus dikelola oleh perbankan. Karena itu, OJK akan mewadahi transformasi bank digital ini dalam sebuah aturan.

Heru mengatakan OJK berencana mengeluarkan peraturan terbaru mengenai bank umum. Di dalam aturan itu, OJK akan mengatur mengenai pendirian bank baru, termasuk bank fully digital.

"OJK tidak mendikotomikan bank digital atau bank umum, di dalam UU perbankan kita hanya mengenal dua bank, yakni bank umum dan bank perkreditan rakyat (BPR)," kata dia.

Meski begitu, bank baru yang akan full digital harus memiliki tata kelola yang lebih baik dalam teknologi, kapasitas permodalan harus mencukupi dan model bisnis yang mendukung. Heru menjelaskan, bank baru yang akan berdiri setidaknya harus memiliki modal inti Rp 10 triliun untuk mengantisipasi layanan digital.

Sementara bank eksisting atau bank yang sudah beroperasi juga harus meningkatkan permodalannya menjadi minimal Rp 3 triliun. Batas waktu untuk meningkatkan modal inti ini adalah hingga 2022 bagi bank umum dan 2023 untuk Bank Pembangunan Daerah (BPD).

"Untuk bisa melayani nasabah dan beroperasi efisien, rentang modal itu Rp 3 triliun hingga Rp 10 triliun, itu berdasarkan penelitian," terang dia.

Harus Bertransformasi

Bank tradisional juga menyadari pentingnya digitalisasi. Mereka tidak mau kalah pamor dengan bank yang sekarang sedang mengarah jadi bank digital atau neo bank.

Direktur Teknologi dan Operasional PT Bank Permata Tbk, Abdy D Salimin, menjelaskan bank digital sengaja didesain khusus agar bisa menawarkan layanan keuangan melalui internet dan tidak memiliki cabang fisik.

"Produk yang ditawarkan tentunya lebih terbatas dari bank tradisional, terkadang tidak lebih dari produk tabungan sederhana dan pinjaman pribadi," jelas dia kepada Investor Daily belum lama ini.

Singkatnya, bank digital ini dapat menawarkan produk dan jasanya kepada nasabah secara digital. Pelanggan dapat membuka rekening atau mendapatkan pinjaman dan bertransaksi secara digital dari aplikasi mobile banking.

Dengan model yang lebih sederhana ini, menurut Abdy memungkinkan nasabah bank digital untuk menikmati biaya admin yang lebih kecil dan suku bunga yang lebih tinggi dari rata-rata. Hal ini juga yang mendorong bank-bank di kelas BUKU I dan BUKU II berbondong-bondong menjadi bank digital dan menjadi target akuisisi platform e-commerce besar atau bank tradisional besar.

Abdy melanjutkan transformasi digital bukan lagi menjadi pilihan bank tradisional. Transformasi digital ini malah menjadi sarana untuk meningkatkan efisiensi agar bertahan hidup dan bisa mendapatkan tempat di ekosistem keuangan yang baru dengan model bisnis dan kehadiran pemain baru.

Kehadiran perusahaan fintech, big techs, multinasional, dan raksasa dari sektor lain yang mulai menyediakan jasa keuangan memperketat persaingan di industri keuangan digital. Mereka juga memiliki karakter yang lebih gesit serta memberikan lebih banyak fleksibilitas dan alternatif kepada nasabah.

"Munculnya perusahaan fintech telah memaksa sektor keuangan tradisional untuk memperkuat transformasi digital, jika tidak, bank tradisional akan terdegradasi ke lapis kedua atau menghilang begitu saja," kata dia.

Melihat hal ini, bank tradisional harus memperbarui dirinya sendiri dan menemukan tempat untuk bertahan hidup. Pasalnya, seiring dengan semakin pesatnya revolusi digital dan semakin banyak orang yang bertransaksi dengan perangkat seluler mereka, Abdy menilai keberadaan cabang mulai dipertanyakan.

"Saya merasa bank tradisional tidak akan menghilang, tetapi memang benar bahwa bank digital mengambil bagian pekerjaan yang lebih besar karena kecepatan yang diminta pasar," kata dia.

Di Bank Permata, Abdy menjelaskan perseroan harus beradaptasi dengan kebiasaan nasabah yang baru, mengadopsi cara kerja yang baru, seperti multi channel, menawarkan layanan eksklusif baru yang mendorong dan mempromosikan persaingan serta memberikan layanan pelanggan yang lebih baik.

"Kami juga mempercepat transformasi digital, meluncurkan produk dan layanan digital baru," kata dia.

Bank Permata juga tidak melihat fintech sebagai kompetitor. Sebaliknya, Bank Permata mencari cara baru untuk bermitra dan berkolaborasi untuk menemukan cara terbaik untuk menciptakan nilai lebih dan membangun skala.

Lain halnya dengan Bank Permata yang memilih jalan kolaborasi, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk memilih jalan untuk membentuk anak usaha bank digital. Sekretaris Perusahaan BRI Aestika Oryza Gunarto mengatakan, transformasi anak usaha BRI, yakni PT BRI Agroniaga Tbk menjadi bank digital masih dalam tahap koordinasi dengan OJK.

"Setelah rencana bisnis BRI Agro disetujui OJK, maka akan segera dilakukan keterbukaan informasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku di pasar modal," kata dia.

Namun demikian, BRI juga melakukan transformasi digital di perusahaannya sendiri. Aestika mengungkapkan, transformasi ini diarahkan kepada beberapa hal, antara lain digitalisasi proses untuk memperoleh kecepatan proses, kemudahan, akurasi (ketepatan) menuju efisiensi.

Selanjutnya, BRI menciptakan nilai tambah baru dengan model bisnis yang baru. BRI juga menciptakan pola-pola distribution channel maupun ekosistem baru seperti membangun jaringan melalui prinsip keagenan, yakni Agen BRILink.

Ekosistem Digital

Di lain pihak, bank yang sedang mengarah menjadi bank digital juga ingin transformasi ini berlangsung secara berkesinambungan dan bukan hanya fenomena sesaat. Pasalnya, antusiasme investor dan masyarakat sangat tinggi terhadap bank digital ini.

Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) Tjandra Gunawan, menjelaskan nilai saham BBYB melonjak cukup signifikan pada Februari hingga awal Maret 2021, yakni dari Rp 340 pada Februari 2021 menjadi Rp 1.010 pada 26 Maret 2021.

"Kenaikan harga saham BBYB yang cukup signifikan juga mendapat perhatian Bursa Efek Indonesia (BEI). Kami sangat senang karena hal ini menunjukkan antusiasme dan kepercayaan masyarakat terhadap bank digital," terang Tjandra.

Tjandra menjelaskan untuk memenuhi aspirasi masyarakat tersebut, Bank Neo Commerce memperkuat ekosistemnya dengan menggandeng Akulaku. Pada 2019, perusahaan fintech ini resmi menjadi pemegang saham di Bank Neo Commerce.

Menurut Tjandra, pengalaman Akulaku dalam menjalankan aktivitas keuangan digital menjadi nilai tambah bagi Bank Neo Commerce untuk menjadi bank digital. Dukungan dari Akulaku ini pula yang membuat Bank Neo Commerce memiliki posisi yang berbeda dibandingkan dengan lainnya.

"Dukungan dari pemegang saham terkait pemenuhan modal inti minimum bank juga dapat menjadi bukti keseriusan Bank Neo Commerce dalam bertransformasi menjadi bank digital," terang dia.

Ke depan, untuk bisa meningkatkan fundamental menjadi bank digital, Bank Neo Commerce akan menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan digital ternama seperti Huawei, Sunline, dan Tencent Cloud. Kerja sama ini untuk mewujudkan pengalaman perbankan digital yang aman dan terlindungi, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir lagi atas kerahasiaan data nasabah.

Bank Neo Commerce juga sedang menyiapkan mobile banking apps bernama Neo+ yang diluncurkan akhir bulan Maret 2021, sambil menunggu proses persetujuan OJK terkait proses opening account online. Menurut rencana, proses onboarding atau pembukaan rekening akan dilakukan fully digital dan e-KYC juga dilakukan dengan proses biometric.

"Selain itu, Bank Neo Commerce juga akan menggandeng perusahaan financial technology dan ritel untuk bekerja sama dengan skema channeling," papar dia.

Pembentukan ekosistem untuk mendukung fundamental bank digital ini juga dilakukan oleh PT Bank Jago Tbk. Bank yang dahulunya bernama Bank Artos ini secara resmi memboyong Gojek masuk menjadi pemegang saham. Masuknya Gojek diharapkan bisa membentuk ekosistem keuangan digital dengan Bank Jago sebagai medianya. Di samping dengan Gojek, Bank Jago juga membangun kemitraan dengan Akseleran dan Kredit Pintar.

Founder Bank Jago Jerry Ng dalam Indonesia Data and Economic Conference 2021 oleh Katadata, mengatakan kolaborasi tersebut dapat menjadi strategi kunci untuk mengakselerasi pertumbuhan bisnis bank digital. Bentuk kolaborasi ini dilakukan oleh bank digital di Tiongkok dan Korea Selatan sehingga mereka bisa meningkatkan pertumbuhan melalui produk dengan spektrum yang lebih luas.

Model ini berbeda dengan bank digital di Eropa dan Amerika Serikat yang fokus pada pengembangan layanan bersifat life centric.

Bank is no longer the centre of ecosystem, tetapi bagian dari ekosistem. Jika menempatkan diri dengan tepat, kami akan punya peranan strategis karena apapun yang dilakukan konsumen, ujung-ujungnya adalah pembayaran,” ungkap Jerry.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Dirut Bank Mandiri Optimistis 2021 Lebih Baik dari 2020

Pada 2021, Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan kredit 6%, sedikit lebih rendah dari arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar kredit tahun ini tumbuh 7,5%.

EKONOMI | 19 April 2021

Menkominfo: Sampoerna Telekomunikasi Tunggak Pemasukan Negara

PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia menunggak pembayaran Biaya Hak Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio untuk Izin Pita Frekuensi Radio.

EKONOMI | 19 April 2021

PGN Butuh US$ 5 Miliar Siapkan Infrastruktur Gas Terintegrasi

PGN mempersiapkan infrastruktur gas bumi di wilayah barat dengan dominan infrastruktur pipa dan wilayah timur dengan infrastruktur non-pipa.

EKONOMI | 19 April 2021

Sentul City Jual AEON Mall Rp 1,9 Triliun untuk Bayar Utang

Dana hasil penjualan tersebut akan digunakan untuk melunasi pinjaman ke PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar Rp 900 miliar.

EKONOMI | 19 April 2021

Airlangga Pastikan Upaya Penanganan Pandemi Covid-19 Sudah Sesuai Jalur

Airlangga Hartarto memastikan berbagai upaya penanganan ekonomi dan sosial masyarakat yang dilakukan pemerintah sampai saat ini telah sesuai jalur.

EKONOMI | 19 April 2021

Kinerja Positif, Laba Bersih Pyridam Farma Naik 137%

Pertumbuhan laba bersih Pyridam Farma didorong kenaikan penjualan produk vitamin, suplemen, dan alat kesehatan.

EKONOMI | 19 April 2021

Angkasa Pura I Giat Gandeng Mitra Strategis

PT Angkasa Pura I (Persero) kian giat menggandeng mitra strategis untuk melakukan pengelolaan dan pengembangan bandara.

EKONOMI | 19 April 2021

Chandra Asri Raih Fasilitas Green Loan US$ 13 Juta

Pembiayaan inovatif dan tanpa jaminan ini akan digunakan untuk membiayai proyek ramah lingkungan yang dilakukan oleh Chandra Asri.

EKONOMI | 19 April 2021

Kementerian BUMN Selesaikan Restrukturisasi PTPN

Kementerian BUMN telah melakukan restrukturisasi keuangan Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero).

EKONOMI | 19 April 2021

Pos Indonesia Gandeng 1.000 Pondok Pesantren Jadi Agen Pos

Alasan PT Pos Indonesia menggandeng Pondok Pesantren lantaran dinilai lebih dekat dengan masyarakat, khususnya di pedesaan.

EKONOMI | 19 April 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS