Logo BeritaSatu

INA Bakal Evaluasi Investasi Energi Baru Terbarukan

Minggu, 9 Mei 2021 | 05:06 WIB
Oleh : Novy Lumanauw / WBP

Jakarta, Beritasatu.com - Dewan Pengawas Indonesia Investment Authority (INA) Darwin Cyril Noerhadi mengatakan, investasi sektor energi baru terbarukan (EBT), baik jangka menengah maupun jangka panjang akan menjadi salah satu bahan evaluasi INA. Sektor lainnya yang kini disorot INA adalah infrastruktur, pelayanan kesehatan, konsumer, teknologi, infrastruktur digital, logistik, waste management, dan turisme.

“Pada tahapan awal ini, kami INA diberikan setoran modal awal sebesar Rp 15 triliun dan akan naik pada tahun depan menjadi Rp 75 triliun. Ini diberikan untuk meningkatkan prinsip tata kelola dan operasionalisasi lembaga,” kata Cyril saat menjadi pembicara pada webinar bertema "Sovereign Wealth Fund: Mewujudkan Pendanaan Berkelanjutan dalam Meningkatkan Ketahanan Energi" yang diselenggarakan Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) pada Sabtu (8/5/2021).

Pembicara lainnya adalah Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana dan Ketua Dewan Pengawas PYC, Inka Yusgiantoro.

Cyril mengatakan, kehadiran INA yang juga dikenal sebagai Lembaga Pengelola Investasi (LPI) diharapkan dapat menjadi mitra utama investor dalam menjembatani kebutuhan pembiayaan sehingga akan meningkatkan penggunaan EBT di Indonesia. Sebab, menurut Cyril, kebutuhan dana untuk pembangunan infrastruktur, termasuk ketenagalistrikan sangat besar dan tidak cukup hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Kebutuhan dana pembangunan infrastruktur begitu besar dan yang jelas tidak cukup dana itu bersumber hanya dari pemerintah,” kata Cyril.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas PYC, Inka Yusgiantoro mengatakan, kehadiran LPI menjadi harapan dan semangat baru bagi para pemangku kepentingan di Tanah Air untuk membantu memobilisasi dana dari dalam maupun luar negeri terkait pemanfaatan berbagai kesempatan investasi yang ada di Indonesia, khususnya di sektor EBT. “Kami melihat salah satu penyebab lambatnya pertumbuhan sektor EBT di Indonesia selama ini adalah sulitnya mendapatkan pembiayaan untuk proyek EBT, sehingga salah satu pemangku kepentingan di Indonesia untuk alternatif pembiayaan proyek-proyek EBT adalah melalui LPI,” katanya.

Inka berharap LPI dapat berperan penting dalam proyek-proyek EBT ke depan, khususnya memobilisasi dana swasta dari investor asing maupun domestik. “Kita perlu menyadari juga bahwa hingga akhir tahun 2020, realisasi bauran EBT masih sangat jauh dari target 23% di tahun 2025 dan 31% di tahun 2050 sesuai penetapan kebijakan energi nasional,” jelas Inka.

Tingkatkan Porsi EBT
Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana mengatakan, sejumlah upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan porsi sektor EBT di Indonesia, yaitu pengembangan biodiesel, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) co-firing dan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di Indonesia.

Selain meningkatkan ketahanan energi, pengembangan EBT juga ditujukan untuk menurunkan emisi karbon di Indonesia sesuai dengan perjanjian Paris Agreement tahun 2015 lalu. “Indonesia sudah bergabung dalam upaya penurunan gas rumah kaca (GRK) ini. Pada tahun 2015, Presiden Joko Widodo hadir di Paris Agreement dan menyampaikan komitmennya menurunkan emisi GRK hingga 29 persen di tahun 2030,” kata jelas Dadan.

Upaya lainnya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan porsi EBT adalah dengan melakukan transisi energi yang juga dengan mempertimbangkan realitas kebutuhan energi, dengan nilai keekonomian yang wajar. “Peralihan dari energi fosil menjadi EBT sangat diperlukan,” ujarnya.

Di sisi lain, Dadan juga mengakui bahwa terdapat sejumlah hambatan dan tantangan dari sisi pembiayaan untuk mengembangkan efisiensi energi dan transisi ke energi yang lebih bersih di Indonesia.

Tantangan pertama adalah tarif rendah atau menciptakan iklim investasi yang menarik. Tantangan lainnya adalah bunga pinjaman yang tinggi, kemudian persyaratan agunan tinggi, tidak adanya pendanaan proyek, proyek berukuran kecil dan meningkatkan biaya transaksi, serta kapasitas pengembang proyek dan lembaga keuangan masih terbatas. “Kemudian, persyaratan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Bukan kami tidak mendukung TKDN, tetapi ini menjadikan harga komponen lebih mahal dibandingkan impor, yang terakhir adalah hambatan perizinan dan lisensi,” kata Dadan.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Tingkatkan Produksi, Dewi Shri Bangun Peternakan Baru

PT Dewi Shri Farmindo Tbk (DEWI) sedang mempersiapkan pembangunan peternakan kedua di Kabupaten Cianjur.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

SIG Berpartisipasi dalam Penataan Trotoar Ramah Lingkungan

PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) atau SIG berpartisipasi pada pembangunan trotoar ramah lingkungan dengan mengaplikasikan produk beton perusahaan.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

Program Kartu Prakerja Berlanjut di 2023, Skema Berubah

Program Kartu Prakerja akan lebih fokus pada peningkatan kompetensi angkatan kerja sebagaimana konsep awal program ini.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

55 Menit Perdagangan, Rupiah Berada di Level Rp 15.302

Transaksi mata uang Garuda atau rupiah pagi ini diperdagangkan dalam kisaran Rp 15.281- Rp 15.312 per dolar AS.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

42 Menit Perdagangan, IHSG Naik 84,2 Poin Jadi 7.091

Pukul 09.42 WIB, IHSG naik 84,2 poin (1,24%) menjadi 7.091 dan Investor33 naik menjadi ke 501,1.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

Pengembangan Energi Bersih Harus Sejalan dengan Prinsip Berkeadilan

Energi adalah masalah ketahanan nasional, sehingga kebijakan energi terkait harus sejalan dengan prinsip berkeadilan.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

IHSG Berpeluang Rebound, Cermati BMRI, MEDC, BRPT, ASII

Level IHSG resistance hari ini berada di 7.055, 7.078, 7.135, 7.179, support di 6.997, 6.968, 6.925, 6.866.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

Harga Emas Naik karena Penurunan Dolar, Perak Melompat 7%

Harga emas melonjak 2% pada perdagangan Senin (3/10/2022) didorong pelemahan dolar AS dan imbal hasil obligasi.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

OPEC Kurangi Produksi Terbesar Sejak 2020, Harga Minyak Naik

Harga minyak melonjak hampir US$ 4 per barel karena OPEC+ mempertimbangkan mengurangi produksi lebih 1 juta bph.

EKONOMI | 4 Oktober 2022

Sun Life dan CIMB Niaga Perluas Kerja Sama Bancassurance

Sun Life Indonesia melalui kerja sama bancassurance dengan PT Bank CIMB Niaga Tbk memperluas jangkauan produknya dengan menghadirkan asuransi jiwa

EKONOMI | 4 Oktober 2022


TAG POPULER

# Tragedi Kanjuruhan


# Lesti Kejora


# Pembantaian di Papua Barat


# Arema FC


# Raja Charles III


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Tingkatkan Produksi, Dewi Shri Bangun Peternakan Baru

Tingkatkan Produksi, Dewi Shri Bangun Peternakan Baru

EKONOMI | 12 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings