Oxford Economics: Sektor Agri-Food Indonesia Hadapi Risiko Pemulihan Terbesar di Asia Tenggara
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Oxford Economics: Sektor Agri-Food Indonesia Hadapi Risiko Pemulihan Terbesar di Asia Tenggara

Kamis, 27 Mei 2021 | 18:50 WIB
Oleh : Happy Amanda Amalia / PYA

Jakarta, Beritasatu.com – Sektor pangan berbasis pertanian (agri-food) merupakan pilar utama perekonomian nasional di Indonesia, yang menyumbang lebih dari sepertiga total produk domestik bruto (PDB) negara pada 2019. Akan tetapi, laporan terbaru dari Oxford Economics mengungkapkan, meskipun sektor ini dapat menjadi penggerak utama bagi pemulihan ekonomi Indonesia pasca Covid-19, di saat bersamaan sektor ini pun paling rentan terhadap gangguan-gangguan yang ada di kawasan Asia Tenggara, yang meliputi risiko penawaran dan permintaan, risiko kebijakan fiskal, serta pandemi yang tak kunjung usai.

Menurut laporan The Economic Impact of Agri-Food Sector in South East Asia mengenai tantangan dan dampak ekonomi dari sektor agri-food pada 2020 - yang diinisiasikan oleh Food Industry Asia (FIA) - sektor tersebut memiliki peran yang sangat penting dalam mendorong pemulihan ekonomi Indonesia, menciptakan lapangan kerja, dan memastikan ketersediaan pangan dengan harga yang stabil.

Laporan itu menunjukkan bahwa pada 2019, sektor agri-food di Indonesia memberikan kontribusi PDB sebesar US$ 374 miliar, yang didorong oleh luasnya lanskap pertanian yang berkontribusi cukup besar terhadap pendapatan nasional dan lapangan pekerjaan. Sektor agri-food pula yang mewujudkan separuh dari keseluruhan tenaga kerja dengan 63,4 juta lapangan pekerjaan sehingga menjadikannya penghasil lapangan pekerjaan terpenting dalam perekonomian negara. Sektor tersebut turut menyumbang total pendapatan pajak sebesar US$ 42,7 miliar.

Laporan tersebut mencatat bahwa sektor agri-food tetap kokoh selama pandemi Covid-19, dengan pertumbuhan 2% pada 2020, atau peningkatan terhadap kontribusi PDB sebesar US$ 8,2 miliar. Namun, sektor ini diperkirakan menghadapi beberapa tantangan selama masa pemulihan ekonomi. Bahkan matriks dari laporan "Economic Recovery" menempatkan Indonesia dengan risiko pemulihan tertinggi di kawasan Asia Tenggara, melihat bagaimana negara tersebut sangat bergantung kepada sektor pariwisata untuk memulihkan kembali industri pangannya.

Menanggapi temuan tersebut, Ketua Umum GAPMMI (Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman) Adhi Siswaya Lukman mengatakan, bahwa sektor pariwisata berkontribusi terhadap 8,8% dari total konsumsi pangan di Indonesia. Namun, mengingat pariwisata internasional masih terus dikelilingi oleh ketidakpastian, industri agri-food perlu bekerja sama dengan pemerintah untuk mengidentifikasi cara-cara lain agar mampu berkembang di era kenormalan baru saat ini.

“Laporan itu menunjukkan adanya kinerja yang kuat dari industri agri-food serta betapa pentingnya sektor ini dalam mendorong pergerakan ekonomi nasional. Akan tetapi, laporan ini juga menunjukkan bagaimana Indonesia menghadapi risiko pemulihan tertinggi di Asia Tenggara, dengan defisit fiskal yang terus memburuk yang dapat berpotensi menciptakan tekanan biaya pada rantai pasokan makanan, sehingga pada akhirnya dapat berdampak pada sektor pangan nasional. Sebagai sumber lapangan pekerjaan utama, sektor publik dan swasta harus bekerja sama untuk menopang dan mengangkat industri ini, serta memastikan terus terdorongnya peluang-peluang kerja,” kata Lukman dalam siaran pers, Kamis (27/5).

Secara khusus, Direktur Eksekutif FIA Matt Kovac membahas tentang adanya kebutuhan untuk memahami lanskap risiko saat ini dan yang akan datang, sebelum menerapkan langkah-langkah nyata untuk menghidupkan kembali ekonomi pasca Covid-19.

"Laporan tersebut menyoroti berbagai tantangan substansial jangka pendek dan panjang yang dihadapi oleh sektor agri-food di Indonesia. Penting bagi para pembuat kebijakan untuk menyadari dan mengatasi risiko-risiko tersebut, mengingat besarnya skala kontribusi sektor ini terhadap lapangan pekerjaan dan PDB Indonesia. Dengan adanya tantangan besar yang diproyeksikan untuk 2021, sangatlah penting bagi Indonesia untuk tetap memperhatikan hal ini dengan berbagai kebijakan yang dapat berdampak pada industrinya," ujarnya.

Sedangkan Direktur Economic Consulting Asia untuk Oxford Economics James Lambert menyampaikan, seiring dengan semakin kuatnya Indonesia keluar dari pandemi, penting bagi para pembuat kebijakan untuk menciptakan kondisi yang paling kondusif bagi industri agri-food agar dapat berdiri kembali, serta merencanakan, merancang, dan mengomunikasikan setiap kebijakan fiskal dengan cermat. Hal itu memungkinkan industri untuk dapat terus memberikan manfaat ekonomi yang signifikan seperti beberapa puluh tahun terakhir.

Menurut pengamatan Lambert, penyesuaian fiskal dapat mencakup pengurangan pengeluaran publik atau peningkatan pendapatan pajak, yang dapat menimbulkan risiko bagi pemulihan sektor agri-food Indonesia. Bahkan dapat berimbas pada ekonomi nasional yang lebih luas.

Laporan Fiscal Risk Assessment Framework juga menemukan fakta bahwa Indonesia termasuk yang paling berisiko di Asia dari penyesuaian fiskal pasca Covid-19. Bahkan lebih dari Tiongkok, India, dan negara-negara Asia yang memiliki ekonomi dengan penghasilan tinggi lainnya. Dalam arti lain, respons terhadap fiskal yang disusun dengan buruk dapat berpotensi membahayakan pemulihan sektor agri-food, serta berdampak pada ketahanan pangan, pendapatan dan lapangan pekerjaan, dan peluang ekonomi secara keseluruhan.

Laporan itu memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk mengembangkan respons fiskal yang penuh pertimbangan dan tidak menghambat pemulihan industri agri-food. Terdapat 3 syarat yang harus dipenuhi, antara lain memanfaatkan pendidikan untuk memengaruhi perilaku; mendukung standar regulasi terhadap pajak; dan menjaga komunikasi yang konsisten dengan industri.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA LAINNYA

Gandeng Telkom, Perkembangan Bisnis Global Sukses Solusi Bakal Melesat

PT Global Sukses Solusi Tbk (RUNS) dinilai punya prospek bisnis yang positif setelah menggandeng Telkom dalam rangka digitalisasi proses bisnisnya.

EKONOMI | 18 September 2021

AVN Batal Masuk Bursa Nasdaq

Entitas PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV), PT Asia Vision Network (AVN), membatalkan rencana merger dengan Malaca Straits Acquisition Company (MLAC).

EKONOMI | 18 September 2021

Desa Devisa Subang Hadirkan Kopi Berkualitas bagi Konsumen Arab Saudi

Desa Devisa Koperasi Gunung Luhur Berkah (GLB) Kabupaten Subang melakukan ekspor perdana sebanyak 18 ton kopi arabika ke Arab Saudi.

EKONOMI | 18 September 2021

JICT Bawa Pulang Dua Penghargaan ISDA 2021

Dua penghargaan ISDA 2021 menjadi bukti keberhasilan implementasi program sosial berkelanjutan yang dilaksanakan oleh JICT.

EKONOMI | 18 September 2021

Jokowi: Indonesia Komitmen Berkontribusi Hadapi Situasi Darurat Sektor Energi dan Iklim

Indonesia komitmen untuk berkontribusi dalam menghadapi situasi darurat di sektor energi dan iklim.

EKONOMI | 18 September 2021

Bursa Eropa Ditutup di Zona Merah, Penjualan Ritel Inggris Kembali Turun

Stoxx 600 turun 0,88%, DAX Jerman turun 1,03%, FTSE Inggris turun 0,91%, CAC Prancis turun 0,79%, FTSE MIB Italia turun 0,98%.

EKONOMI | 18 September 2021

Tertekan Sentimen September Kelabu, Wall Street Kembali Melemah dalam Sepekan

Dow Jones Industrial Average turun 0,48% ke 34.548,88. S&P 500 turun 0,91% ke 4.432,99. Nasdaq turun 0,91% ke 15.043,97.

EKONOMI | 18 September 2021

Kapitalisasi IHSG Naik 1,6% dalam Sepekan

Selama periode 13-17 September 2021, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami peningkatan sebesar 0,63%

EKONOMI | 18 September 2021

1.000 Nasi Goreng Sambal Matah ala Sasa Dibagikan di Semarang

PT Sasa Inti bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melakukan kegiatan membantu kelompok UMKM di masa pandemi dengan membuat 1.000 nasi goreng sambal matah

EKONOMI | 17 September 2021

OJK dan SRO Dapat Penghargaan dari Pemkot Surabaya

Eri Cahyadi mengapresiasi kontribusi OJK dan SRO dalam mendukung kegiatan PMI Surabaya.

EKONOMI | 17 September 2021


TAG POPULER

# Muhammad Kece


# Sonny Tulung


# Vaksinasi Covid-19


# Ideologi Transnasional


# Lucinta Luna



TERKINI
Gandeng Telkom, Perkembangan Bisnis Global Sukses Solusi Bakal Melesat

Gandeng Telkom, Perkembangan Bisnis Global Sukses Solusi Bakal Melesat

EKONOMI | 9 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings