Pemerintah dan Industri Perlu Duduk Bersama Bahas Waktu Tepat Penerapan Zero Odol
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Pemerintah dan Industri Perlu Duduk Bersama Bahas Waktu Tepat Penerapan Zero Odol

Jumat, 11 Juni 2021 | 12:14 WIB
Oleh : Siprianus Edi Hardum / EHD

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia dan dunia di awal tahun 2020 mengakibatkan pertumbuhan sektor industri pengolahan nonmigas mengalami penurunan sebesar 158% dari 4,34% menjadi minus 2,52%.

Saat ini, industri nasional dalam masa recovery, namun apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, pada triwulan I 2021, pertumbuhan sektor industri pengolahan nonmigas masih mengalami penurunan sebesar 135% dari 2,01% menjadi -0,71%. Pertumbuhan ekonomi dan industri di Indonesia juga masih dibayangi oleh gelombang pandemi berikutnya.

Hal itu disampaikan Kepala Seksi Sumber Daya Industri dan Sarana Prasarana Industri, Subdirektorat Industri Semen dan Barang Dari Semen Kemperin, Ashady Hanafie, dalam acara FGD bertajuk “Kebijakan Zero Over Dimension Over Load (Odol) Kesiapan Industri dan Tantangan Menjaga Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Pandemi Covid-19, yang diselengagarakan Warta Ekonomi, Kamis (10/6/2021) sebagaimana dalam siaran persnya.

“Sektor industri salah salah tulang punggung untuk perekonomian nasional dan menjadi sektor penyumbang terbesar terhadap PDB nasional,” ujarnya.

Dia mengutarakan banyaknya perusahaan yang tutup akibat pandemi ini, berakibat pada penurunan tenaga kerja. Menurutnya, penurunan tenaga kerja ini juga berpotensi memperbesar permasalahan sosial. Tercatat, jumlah tenaga kerja industri sampai dengan Februari 2021 mengalami penurunan sebesar 5% (yoy).

Jadi, dia meminta agar permasalahan yang dihadapi industri saat ini jangan dulu dibebani lagi dengan hal-hal lain seperti kebijakan Zero Odol yang akan diterapkan di awal 2023.

Dia meminta semua pihak bersama-sama menjaga agar kondisi industri di Indonesia ini tetap kondusif. Karenanya, dia meminta agar kebijakan Zero Odol ini pun bisa diundur lagi hingga 2025 mendatang, sampai kondisi sektor industri yang tengah terpuruk saat ini bisa pulih kembali.

Dia mengatakan industri saat ini tengah fokus pada usaha untuk bertahan agar tidak sampai menutup usahanya. Pada tahun 2021, industri mulai bangkit kembali. Dengan demikian, industri telah kehilangan waktu selama 2 tahun untuk persiapan penerapan kebijakan Zero Odol.

“Saya yakin tadinya semua industri pasti komitmen untuk menjalankan kebijakan Zero Odol ini pada awal tahun 2023. Tapi, karena kondisinya tiba-tiba terjadi pandemi, mereka cuma meminta kelonggaran waktu saja hingga 2025 mendatang,” tukasnya.

Dia mengatakan penerapan kebijakan Zero Odol memerlukan perencanaan yang tepat sasaran agar tidak berdampak negatif dan menimbulkan shock terhadap makro perekonomian dan khususnya pada perkembangan industri.

Untuk suksesnya penerapan kebijakan Zero Odol ini, menurutnya ada 3 hal yang segera harus diselesaikan. Di antaranya adalah penyesuaian KEUR/KIR yang ada terhadap desain kendaraan dan kelas jalan, kebijakan penerapan multi axle, dan peningkatan kualitas daya dukung jalan sesuai kelas jalan.

“Apabila penyesuaian belum dapat dilaksanakan dan kondisi industri masih belum membaik atau bahkan kembali memburuk, maka dapat dipertimbangkan untuk melakukan penyesuaian kembali waktu pemberlakuan kebijakan Zero Odol secara penuh,” katanya.

Hal ini sejalan dengan yang disampaikan Direktur Eksekutif Apindo, Danang Girindrawardana, di acara yang sama. Dia mengatakan pemerintah tidak bisa jalan sendiri meregulasi sesuai dengan keinginannya tanpa melibatkan private sector guna untuk mendengar apa permasalahan yang mereka hadapi.

Pelaku industri dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang diwakili Agung Wibowo dan Rachmat Hidayat dari Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) menyampaikan bahwa pada prinsipnya industri tidak menolak Zero Odol.

Hal itu terbukti bahwa industri telah mulai mempersiapkan diri menuju terwujudkan Zero Odol itu. Tapi, mereka meminta agar penerapan Zero Odol ini dilakukan pada awal 2025 mendatang. Hal itu mengingat industri saat ini lagi berbenah dulu untuk pulih kembali dari situasi yang terpukul karena pandemi Covid-19.

Di acara yang sama, Guru Besar Fakultak Teknik UGM yang juga Ketua Tim Teknis Penyusun Kajian Indonesia Menuju Zero Odol, Sigit Priyanto, mengatakan penerapan kebijakan Zero Odol yang persis dengan di Indonesia itu tidak ada. “Di kita itu, penerapan Zero Odol disertai masalah pandemi. Kalau di negara lain kan penerapan Zero Odol itu dilakukan pas tidak ada pandemi dan mereka mungkin solusinya lebih mudah,” tukasnya.

Dia juga mengakui bahwa studi kajian Indonesia Menuju Zero Odol yang dibuatnya bersama rekan-rekan dosen di UGM itu dilakukan sebelum terjadi Covid-19. “Jadi, waktu itu kita mengusulkan penerapan Zero Odol pada 1 Januari 2023, dengan mempertimbangkan bahwa dalam 2 tahun ke depan itu kondisi ekonomi kita stabil. Kita kan tidak bisa memprediksi kondisi Covid ini akan terjadi dan sampai kapan, apakah akan lebih memburuk lagi atau membaik, dan kelihatnnya memburuk,” tuturnya.

Dia mencontohkan kasus Garuda Indonesia, dimana mereka pada 2020 mengatakan optimis bahwa di 2021 akan membaik. “Tapi ternyata kondisi penerbangan itu kan semakin buruk karena tidak menduga ada pandemi,” katanya.

Jadi, dia pun mengusulkan agar Kemenhub perlu mengkaji kembali usulan-usulan industri dengan bukti-bukti otentik yang bisa untuk dipertanggungjawabkan. “UGM itu sifatnya studi, tentunya berdasarkan fakta-fakta yang ada. Dan ini juga tidak menutup kemungkinan untuk studi itu di-review karena perkembangan yang terjadi saat ini,” ujarnya.

Dia menegaskan bahwa Zero Odol itu untuk kebutuhan bersama dan permasalahan bersama. “Jadi, mari kita selesaikan ini bukan sebagai suatu paksaan, tapi kesadaran,” katanya.

Sementara, Asdep Pengembangan Logistik Nasional Kemko Perekonomian, Erwin Raza, dan Direktur Prasarana Transportasi Jalan Kementerian Perhubungan, Risal Wasal, meminta industri untuk tetap mempersiapkan diri menuju Zero Odol pada awal 2023 mendatang. Menurut mereka, jika industri tidak mulai menjalankannya, maka tidak bisa terlihat apa yang menjadi kekurangan dari kebijakan ini.

Erwin sendiri mengakui sulit bagi pemerintah untuk menerapkan Zero Odol ini tanpa memberatkan industri. “Jadi, marilah kita jalankan dulu perlahan-lahan kebijakan ini sambil kita evaluasi,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Risal agar indsutri menjalankan dulu kebijakan ini supaya bisa terlihat apa yang menjadi kekurangannya. “Saya mengajak agar industri mempersiapkan diri dulu sehingga kita bisa mengevaluasi kekurangan-keurangan dari kebijakan ini nantinya,” ujarnya.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Jeda Siang, IHSG Melemah 3 Poin Menuju 6.104

Volume perdagangan hingga sesi siang ini tercatat sebanyak 141,0 miliar saham senilai Rp 8,6 triliun.

EKONOMI | 11 Juni 2021

Empat Gerai Lucy in The Sky Siap Dibuka Tahun Ini

Perseroan menargetkan, renovasi dan pembukaan gerai baru dapat terlaksana seluruhnya di tahun 2021.

EKONOMI | 11 Juni 2021

Penguatan Pengawasan Market Conduct Sektor Jasa Keuangan untuk Perlindungan Konsumen

Pasar keuangan cenderung semakin kompleks dan rentan terhadap asimetri informasi dan masalah keagenan.

EKONOMI | 11 Juni 2021

Presiden Optimistis Bandara JB Soedirman Tumbuhkan Ekonomi Jateng

Bandara JB Soedirman juga akan menumbuhkan arus mobilitas logistik di daerah itu.

EKONOMI | 11 Juni 2021

Emas Antam Menguat Jadi Rp 957.000 Per Gram

Harga emas per 250 gram sebesar Rp 224,515 juta.

EKONOMI | 11 Juni 2021

Gandeng Migo, IPTV Perkuat Konten Digital

Dalam kolaborasi ini, IPTV mengambil porsi saham di Migo Indonesia.

EKONOMI | 11 Juni 2021

Meski Terminal Masih Darurat, Bandara JB Soedirman Beroperasi, Ini Kata Presiden

Jokowi senang meskipun masih terminal darurat belum selesai, tetapi airport-nya sudah dipakai.

EKONOMI | 11 Juni 2021

Kompak, Rupiah dan Mata Uang Asia Menguat Pagi Ini

Transaksi rupiah pagi ini diperdagangkan dalam kisaran Rp 14.222-Rp 14.237 per dolar AS.

EKONOMI | 11 Juni 2021

Awal Perdagangan, IHSG Tergelincir ke Zona Merah

Pukul 09.10 WIB, indeks harga saham gabungan turun 9,3 poin (0,15%) menjadi 6.098.

EKONOMI | 11 Juni 2021

Pemerintah Berupaya Tingkatkan Muatan Balik Tol Laut

Pemerintah terus berupaya meningkatkan muatan balik kapal Tol Laut guna mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah tertinggal.

EKONOMI | 11 Juni 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS